Puasa Hari Arofah


Puasa Hari Arofah

Hari Arofah adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Disunnahkan berpuasa pada hari Arofah bagi selain orang yang melakukan haji berdasarkan hadis riwayat Abu Qatadah bahwa Rasulullah-صلى الله عليه وسلم-bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Berpuasa pada hari Arofah aku mengharap Allah menghapus dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang

Aisyah –semoga Allah meridhinya- berkata,

مَا مِنَ السَّنَةِ يَوْمٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَصُوْمَ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Tidak ada hari dalam setahun yang lebih aku sukai untuk berpuasa pada hari itu daripada hari Arofah
Imam an-Nawawiy berkata dalam al-Majmu’ (6/381),

Sabda Nabi mengenai hari Arofah bahwa, ia dapat menghapus dosa-dosa di tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.” Dikemukakan oleh al-Mardawiy dalam al-Hawi bahwa hadis ini memiliki dua penafsiran :
Pertama, Allah menghapus dosa-dosa yang dilakukan seseorang selama dua tahun.
Kedua, Allah menjaga seseorang dari melakukan dosa selama dua tahun, sehingga selama masa itu ia tidak akan bermaksiat.

As-Sarkhasi berkata, “Adapun pada tahun pertama, maka semua dosa yang dilakukan pada masa itu akan dihapus.” Selanjutnya ia mengatakan, “Sementara itu ulama berbeda pendapat dalam memahami makna penghapusan dosa pada tahun yang akan datang. Sebagian mengatakan, ‘Jika seseorang melakukan maksiat pada tahun itu, maka Allah akan menjadikan puasa hari Arofah yang lalu sebagai penghapusnya, sebagaimana ia menjadi penghapus dosa-dosa di tahun sebelumnya.’ Sebagian lagi mengatakan,’Allah menjaganya dari melakukan dosa-dosa di tahun depan’.

Penulis al-Uddah mengatakan bahwa penghapusan dosa-dosa pada tahun depan memiliki dua makna :
Pertama, maksudnya adalah tahun yang lalu. Sehingga maknanya adalah bahwa puasa itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan pada dua tahun yang lalu.
Kedua, maksudnya memang menghapus dosa-dosa di tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.
Dia juga berkata,”Tidak ada ibadah yang sama dengannya yang dapat menghapus dosa-dosa di masa yang akan datang. Ini hanya ada pada diri Rasulullah-صلى الله عليه وسلم-secara khusus, di mana Allah telah mengampuni kesalahannya yang lalu dan akan datang berdasarkan nash al-Qur’an.”

Imam al-Haramain telah menyebutkan dua makna ini. Ia berkata, ‘Semua hadis-hadis yang menerangkan tentang penghapusan dosa, menurut saya, berlaku pada dosa-dosa kecil dan bukan dosa besar.” Inilah pendapat beliau yang didukung oleh hadis shahih. Di antaranya hadis Utsman –semoga Allah meridhainya- yang mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah-صلى الله عليه وسلم- bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang Muslim didatangi oleh shalat wajib, lalu ia memperbaiki wudhunya, kekhusyu’annya dan rukuknya, kecuali semua itu akan menghapuskan dosa-dosanya yang lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar dan itu berlaku sepanjang masa. (HR. Muslim)

Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata bahwasanya Rasulullah-صلى الله عليه وسلم – bersabda,

الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِر

Shalat lima waktu dan shalat Jum’at yang satu ke Shalat Jum’at yang lain akan menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya selama dosa besar tidak dilakukan (HR. Muslim)

Abu Hurairah-semoga Allah meridhainya- juga berkata bahwa Rasulullah-صلى الله عليه وسلم- bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

Shalat lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke Shalat Jum’at yang lain, dan Ramadhan yang satu ke ramadhan yang lain akan menghapuskan kesalahan yang terjadi di antara waktu-waktu itu selama dosa besar dijauhi (HR. Muslim)

Saya katakan :
Makna hadis-hadis ini mempunyai dua penafsiran :
Pertama, amal ibadah tersebut dapat menghapus dosa-dosa kecil selama tidak ada dosa besar. Sedangkan jika ada dosa besar, maka ia tidak dapat menghapus apapun, baik dosa besar maupun dosa kecil.
Kedua, penafsiran ini yang lebih benar. Yaitu bahwa ibadah-ibadah tersebut dapat menghapus semua dosa kecil (tanpa disyaratkan tidak adanya dosa besar). Jadi, pengertian hadis itu adalah, “Ibadah tersebut dapat menghapus semua dosa seseorang kecuali dosa besarnya.”

Qadhi ‘Iyadh berkata, “Apa yang dijelaskan dalam hadis-hadis ini tentang penghapusan dosa-dosa kecil tanpa dosa-dosa besar merupakan pendapat Ahli Sunnah. Sedangkan dosa-dosa besar hanya dapat dihapus dengan taubat atau rahmat Allah. “

Ada sebuah pertanyaan yang muncul, yaitu bahwa di dalam hadis ini terdapat redaksi seperti itu dan di dalam hadis-hadis shahih yang lain terdapat redaksi yang semakna. Maka bila wudhu telah menghapus dosa, dosa apa yang akan dihapus shalat ? Bila shalat lima waktu menghapus dosa-dosa, dosa yang mana lagi yang dihapus oleh shalat berjama’ah ? Begitu pula dengan puasa Ramadhan, puasa hari Arafah yang menghapus dosa selama dua tahun, pusa Asyura’ yang menghapus dosa selama setahun dan ucapan aminnya makmum yang bersamaan dengan ucapan aminnya Malaikat akan menghapus dosa yang lalu ?

Jawabannya adalah –sebagaimana yang dikemukakan para ulama- bahwa semua ibadah ini bisa menghapus dosa. Bila didapat dosa yang bisa dihapus, yakni dosa kecil, maka ia akan menghapusnya. Sedangkan bila tidak ada dosa kecil dan dosa besar, maka akan dituliskan untuknya satu kebaikan dan diangkat satu derajat. Hal itu seperti shalat para Nabi, kaum yang shaleh, anak-anak kecil, puasa, wudhu dan ibadah mereka. Bila ada dosa besar dan tidak ada dosa kecil, maka kita berharap semua itu dapat meringankan dosa-dosa besar.
Wallahu A’lam

Sumber :
Shiyam at-Tatawwu’; Fadha-il Wa Ahkam, Usamah Abdul Aziz (ei, hal.34-36)

Amar Abdulah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *