Puasa Sunnah Jika Sya’ban Telah Memasuki Pertengahnnya

Untitled-1-10.jpg

Abu Huroiroh –semoga Alloh meridhoinya- meriwayatkan bahwa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا اِنْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُوْمُوْا

Apabila bulan Sya’ban telah memasuki pertengahannya, maka janganlah kalian berpuasa.

Dalam sebuah riwayat,

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوْا عَنِ الصِّيَامِ حَتَّى يَكُوْنَ رَمَضَانُ

Apabila telah sampai pertengahan bulan Sya’ban, maka hendaklah kalian menahan diri dari puasa hingga tiba bulan Ramadhan.

Faedah :

Mengenai hadis ini,

Pertama, diperselisihkan oleh para ulama tentang kedudukannya apakah shohih ataukah dho’if.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, 6/460, at Tirmidzi, 3/437, Ahmad, 2/442, imam Ahmad berkomentar tentang hadis tersebut : ini hadis munkar, dan Abdurrohman bin Mahdiy, Abu Zur’ah ar Roziy dan al-Atsrom menganggapnya munkar, sementara at Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan yang lainnya menshohihkannya. Silakan lihat : ‘Aunul Ma’buud, 6/460, Mukhtashor Sunan Abu Dawud beserta Ma’alimu as Sunan, dan Tamhiid karya Ibnu al-Qoyyim, 3/223-225.

Kedua, menurut pendapat bahwa hadis tersebut shohih maka hadis tersebut dibawa pemahamannya kepada orang yang berpuasa sunnah secara mutlaq yang dimulai sejak pertengahan bulan Sya’ban, adapun orang yang biasanya berpuasa senin kamis, atau puasa sehari berbuka sehari, atau ia melanjutkan puasanya yang telah dilakukannya pada pertengahan yang peratma ke pertengahan yang kedua, atau orang tersebut berpuasa karena ia berkewajiban mengqodho puasa yang pernah ia tinggalkan pada Romadhan sebelumnya, dengan demikian maka tidak masuk dalam larangan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Dan, telah valid bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam berpuasa pada bulan Sya’ban. ‘Aisyah pernah ditanya tentang puasa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, ia pun menjawab,

كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ حَتَّى يَصِلَهُ بِرَمَضَانَ

Biasanya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban hingga beliau melanjutkannya dengan puasa di bulan Romadhan.

Ia juga berkata,

وَكَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الْاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ

Dan beliau biasa melakukan puasa hari senin dan hari kamis.

Hal ini tidak bertentangan dengan hadis Abu Huroiroh, karena puasa beliau shallallohu ‘alaihi wasallam pada bulan Sya’ban merupakan kebiasaan yang beliau lakukan, sehingga hal tersebut termasuk dalam pengecualian dalam hadis Abu Huroiroh,

إِلَّارَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ

(kecuali seseorang yang biasa berpuasa dengan suatu puasa, maka silakan ia berpuasa).

Wallohu a’lam

 

Sumber :

أَحَادِيْثُ الصِّيَامِ : أَحْكَامٌ وَآدَابٌ, karya : Abdullah bin Sholeh al-Fauzan ( Dosen di al-Imam Muhammad ibn Sa’ud  Islamic University, Cabang Gassim, KSA )

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

213 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: