Connect with us

Lain-lain

Ragam Wasiat Nabi Saat Haji Wada’

Published

on

Segala puji bagi Allah yang menyampaikan kita ke bulan-bulan haji (yakni, Syawwal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah), dan kini kita tengah berada di 10 hari pertama bulan Dzuhijjah. Itu berarti puncak ibadah haji telah semakin dekat pelaksanaanya. Ini mengingatkan kita kepada peristiwa yang bersejarah yaitu haji wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak kalah pentingnya adalah adanya catatan wasiat-wasiat nabi dalam momentum tersebut yang dapat kita baca.

Peringatan dari Mengikuti Hawa Nafsu

Wasiat beliau dalam kesempatan tersebut sangat beragam. Diantara perkara yang beliau wasiatkan adalah penekanan tentang kewajiban untuk konsisten dalam mengikuti sunnah dan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, meniti jalannya dan berhati-hati dari tindakan bid’ah dan tunduk kepada hawa nafsu, berkata tanpa berlandaskan ilmu, atau menyengaja berdusta atas nabi dan menyelisihi petunjuk beliau.

Imam Ahmad di dalam Musnadnya meriwayatkan dari ‘Amru bin Murrah, ia berkata, aku pernah mendengar Murrah berkata, seorang dari kalangan sahabat nabi pernah menceritakan kepadaku, ia mengatakan, (ketika haji wada’) Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menunggangi untanya berceramah di tengah-tengah kami, beliau mengatakan, Tahukah kalian hari apakah hari di mana kalian berada pada saat ini? (di dalamnya disebutkan), “Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’.

Wasiat ini merupakan peringatan beliau yang sedemikian luar biasa memperingatkan akan bid’ah dan hawa nafsu, membuat perkara-perkara baru dalam agama, peringatan juga tentang dusta atas nabi, berkata tanpa ilmu sesungguhnya hal tersebut merupakan bagian dari dosa besar yang mewajibkan pelakunaya masuk ke dalam Neraka.

Birrul Walidain, Silaturrahim, dan Menjaga Hak

Termasuk wasiat nabi kala itu adalah anjuran untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturahim, dan peringatan beliau dari merampas hak-hak orang lain, atau menodai kehormatan orang lain.

Imam ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir meriwayatkan dari Usamah bin Syarik -semoga Allah meridhainya-, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat haji wada, beliau bersabda, “Ibumu, bapakmu, saudarimu, saudaramu, kemudian orang-orang yang lebih dekat hubungan kerabatnya denganmu”. Usamah bin Syarik berkata, lalu sekelompok orang datang dan mengatakan, ya Rasulullah, Bani Yarbu’ memerangai kami. (mendengar hal itu) Rasulullah bersabda,

لَا تَجْنِي نَفْسٌ عَلَى أُخْرَى

Tidak boleh suatu jiwa berbuat kejahatan kepada jiwa yang lain.

Kemudian ada seorang lelaki bertanya kpeada beliau karena ia pula belum melempar jumroh (apa yang hendaknya dilakukan). Beliau pun  menjawab, “Melemparlah!, tidak masalah”. Kemudian yang lain datang kepada beliau seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, saya lupa belum melakukan thawaf”. Beliau bersabda, Berthawaflah, tidak masalah. Kemudian beliau didatangi oleh yang lainnya yang telah mengurisi rambut kepala sebelum ia meyembelih (hadyu-nya). Beliau bersabda, “Sembelihlah (hadyumu), tidak masalah”. Perowi berkata, “Tidaklah nabi ditanya pada hari itu (yakni, hari ied, 10 Dzulhijjah-pen) melainkan beliau mengatakan, “Tidak masalah, tidak masalah”. Sampai akhir hadits.

Warisan, Status Anak Hasil Zina, Penisbatan kepada selain Ayahnya

Termasuk wasiat yang dijelaskan nabi saat itu adalah bahwa Allah telah menentukan bagian ahli waris di dalam kitabnya, memberikan jatah masing-masih ahli waris, beliau juga menetapkan penisbatan anak hasil zina itu dinasabkan kepada ibunya bukan kepada bapak biologisnya, pelaku zina yang berlum berpasangan hidup yang sah dikenai sangsi rajam dengan dilempari batu hingga meninggal dunia.

Beliau juga memberikan peringatan tidak bolehnya seseorang mengaku-aku sebagai anak kepada bapak orang lain selain bapaknyanya. Sebagaimana di sebutlan dalam musnad imam Ahmad dari ‘Amru bin Khorijah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada kami saat berada di Mina dalam keadaan mengendari tunggangannya, “Sesungguhnya Allah telah membagi untuk setiap orang bagiannya dari harta waris. Oleh karena itu, tidak boleh wasit untuk ahli waris, anak itu menjadi hak pemilik firasy (suami), dan bagi pezina dia mendapatkan batu. Ketahuilah bahwa barang siapa mengaku-aku bapak kepada selain ayahnya, maka baginya laknat Allah dan para malaikat serta keluruh manusia semunya… sampai akhir hadits.”         

Sifat Dunia

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyampaikan penjelasan mengenai karakteristik kehidupan di dunia, bahwa kehidupan dunia itu sangat pendek waktunya dan sangat cepat hilangnya.

Beliau juga memperingatkan manusia agar tidak terpedaya oleh hiruk-pikuk kehidupan dan kenikmatan-kenikmatan dunia, di mana beliau mengatakan kepada khalayak sebelum tenggelamnya matahati sementara itu beliau tengah wuquf di Arafah,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنْ دُنْيَاكُمْ فِيمَا مَضَى مِنْهَا إِلا كَمَا بَقِيَ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيمَا مَضَى مِنْهُ

Wahai manusia, sesungguhnya tidak tersisa (waktu kehidupan) dunia kalian melainkan seperti waktu yang tersisa dari hari-hari kalian ini. (HR. Ahmad)

Demikian beberapa wasiat atau pesan beliau ketika haji wada yang ingin penulis sebutkan dalam tulisan ini. Masih ada ragam wasiat beliau yang lainnya. Mudah-mudahan apa yang telah penulis sebutkan kita dapat mengambil faedahnya. Aamiin. Wallahu a’lam.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lain-lain

Terima Kasih, Sayang Atas Semua Ini

Published

on

Suami bekerja agar bisa menafkahi keluarga dan istri berkhidmat di rumah serta usaha memudahkan jalan menuju hidup tenang bagi keluarga, adalah kewajiban masing-masing mereka. Tetapi saat masing-masing dari mereka berdua mendengar kata-kata motivasi dan ungkapan-ungkapan sanjungan, maka menunaikan kewajiban tersebut akan berubah menjadi sebuah kenikmatan dan kebahagiaan bagi pihak pelakunya.

Istri menyambut suami yang pulang kerja dengan ucapan, “Semoga Allah membantumu, engkau melakukan semua ini demi kami semua.” Saat suami memberikan apa yang dia minta atau mengantarnya ke satu tempat, istri berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Suami pun demikian. Saat pulang kerja dan melihat meja makan sudah terhidang santapan lezat, dia berterima kasih kepada istrinya dan memuji apa yang dilakukannya.



Sesungguhnya ungkapan, “Tidak ada terima kasih untuk menunaikan tugas wajib”, diperuntukkan bagi orang yang menyerahkan tugas wajibnya yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Justru sebaliknya, berterima kasih pada orang yang telah melaksanakan kewajibannya, adalah lebih baik.

Dari Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- ia berkata, Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللهَ

Siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak bersyukur kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani.)

**

“Bila tangan Anda tidak sanggup membalas (suatu kebaikan), maka hendaklah lisanmu mengulang-ulang ucapan terima kasih.”

**

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’adah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal. 76-77

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Lain-lain

Keistiqamahan Pasca Ramadhan

Published

on

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلاً لَا اَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ” قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ”(1) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ].

Dari Utsman bin Abdillah-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, aku pernah mengatakan (kepada Nabi) ‘Ya, Rasulullah !- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- katakanlah kepadaku satu perkataan tentang Islam yang aku tidak akan bertanya tentangnya kepada seorang pun selain Anda.’ Beliau – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- pun bersabda, “ Katakanlah olehmu ‘Aku beriman kepada Allah’ kemudian istiqamahlah ! ‘ (HR. Muslim) [1]

**

Maka, hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa seorang hamba diperintahkan agar beristiqamah di atas ketaatan setelah beriman kepada Allah, (yaitu) dengan mengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang. Dan yang demikian itu dengan melazimi titian jalan yang lurus, yang merupakan agama yang lurus, tanpa melenceng darinya, tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri.



Dan bila seorang muslim telah hidup di bulan Ramadhan, di mana ia telah meramaikan siang harinya dengan puasa dan malamnya dengan shalat malam, dan ia pun telah membiasakan dirinya di atas tindakan kebaikan, maka hendaknya ia senantiasa melazimi ketaatan kepada Allah selalu. Karena, inilah seharusnya keadaan seorang hamba. Karena, Rabb (Tuhan) bulan-bulan itu satu, dan Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- memantau dan menyaksikan para hamba-Nya.

Dan sesungguhnya keistiqamahan seorang muslim pasca Ramadhan dan kebaikan perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya merupakan dalil terbesar yang menunjukkan akan pengambilan faedahnya dari bulan Ramadhan dan kecintaannya terhadap ketaatan. Dan ini merupakan alamat diterimanya amal dan tanda-tanda keberuntungan. Dan, amal seorang mukmin itu tidaklah berhenti dengan keluarnya suatu bulan dan masuknya bulan yang lain. Tetapi, hal tersebut terbentang sampai kematian datang. Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  [الحجر : 99]

Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu [2]

Maka, sekalipun qiyam Ramadhan telah usai, sesungguhnya tahun itu seluruhnya merupakan waktu untuk mengerjakan shalat malam. Sekalipun waktu zakat fithri telah usai, sesungguhnya waktu-waktu untuk menunaikan zakat yang wajib dan sedekah sunnah terbentang sepanjang tahun. Dan, begitu pula membaca al-Qur’an dan mentadabburinya serta semua bentuk amal shaleh diminta untuk dilakukan pada setiap waktu.

Dan sesungguhnya termasuk karunia Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-atas para hamba-Nya adalah banyaknya pintu-pintu ketaatan dan beranekaragamnya jalan-jalan kebaikan, hal itu agar langgeng kesemangatan seorang muslim dan ia tetap dalam keadaan melazimi kebaktian terhadap Tuhannya.

Namun, termasuk  hal yang patut disayangkan adalah bahwa sebagian manusia mereka beribadah di bulan Ramadhan dengan melakukan berbagai bentuk ketaatan-ketaatan, mereka menjaga shalat lima waktu dengan mengerjakannya di masjid-masjid, mereka memperbanyak  membaca al-Qur’an, bersedekah dengan sebagian harta benda mereka, namun ketika kemudian Ramadhan usai mereka mulai bermalas-malasan melakukan ketaatan. Bahkan, boleh jadi ada di antara mereka yang meninggalkan hal-hal yang wajib, seperti shalat berjama’ah secara umum atau shalat Subuh secara khusus, mereka melakukan hal-hal yang diharamkan berupa menyengaja tidur dari shalat dan tetap asyik dengan memainkan alal-alat yang melalaikan dan alat-alat musik. Mereka menggunakan nikmat-nikmat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-untuk melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan hal itu, mereka telah menghancurkan apa-apa yang telah mereka bangun, mereka menguraikan kembali apa-apa yang telah mereka pintal. Ini merupakan dalil yang menunjukkan terhalanginya mereka (dari kebaikan) dan merupakan pertanda kerugian. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ketetapan.



Sungguh, semisal mereka ini beranggapan bahwa taubat dan berhenti dari berbagai kemaksiatan merupakan perkara yang ada waktunya yaitu di bulan Ramadhan. Berkesudahan waktunya dengan selesainya bulan Ramadhan, dan seakan-akan mereka meninggalkan dosa-dosa itu hanya karena Ramadhan, bukan karena takut terhadap Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- Sungguh, seburuk-buruk kaum adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-kecuali pada bulan Ramadhan.

Sesungguhnya bimbingan dan pertolongan dari Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-terhadap hamba-Nya untuk berpuasa Ramadhan dan menyelesaikannya merupakan nikmat yang sangat agung. Hal tersebut selayaknya mendorong seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya dan menyanjung-Nya. Makna ini terisyaratkan dalam firman-Nya,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  [البقرة : 185]

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur [3]

Dan termasuk kesyukuran kepada-Nya-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-adalah seorang hamba berpuasa setelahnya dan melakukan amal-amal shaleh. Adapun menyambut dan menghadapi nikmat taufik berpuasa Ramadhan dengan melakukan berbagai kemaksiatan setelahnya, bermalas-malasan mengerjakan shalat berjama’ah, maka hal ini termasuk bentuk dari menukar nikmat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan keingkaran, dan siapa yang melakukan hal tersebut maka ia berada dalam bahaya yang besar.

Sesungguhnya manhaj (jalan hidup) seorang muslim yang benar adalah ia senantiasa memuji Rabbnya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat dapat berpuasa dan shalat malam, dan keadaan dirinya pasca Ramadhan hendaknya lebih baik daripada keadaannya sebelum Ramadhan, senantiasa bersemangat untuk melakukan ketaatan, cinta kepada kebaikan, bersegera untuk melakukan kewajiban, mengambil faedah dari madrasah Ramadhan, madrasah yang istimewa, dan ia takut puasanya tidak akan diterima, karena Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.

Sungguh, dulu kalangan Salafush Shalih bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal dan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kemudian, setelah itu, mereka sangat memperhatikan perkara diterimanya amal tersebut dan sangat mengkhawatirkan ditolaknya amal tersebut. Dan, di antara ungkapan yang dinukil dari Ali bin Abi Thalib-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-adalah :

“Hendaklah kamu lebih perhatian terhadap perkara diterimanya amal daripada perhatianmu terhadap amal itu sendiri. Belum pernahkah kamu mendengar Allah azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ  [المائدة : 27]

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.[4]

Dan dari Aisyah- رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-ia berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-tentang ayat ini,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ  [المؤمنون : 60]

Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut [5].



 

‘Aisyah mengatakan, ‘Apakah mereka itu adalah orang-orang yang minum khamer dan mencuri ? Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menjawab, ‘Bukan’, wahai putri ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan puasa, shalat dan bersedekah, sementara mereka dalam keadaan takut amal mereka tidak diterima.

أولئك الذين يسارعون في الخيرات وهم لها سابقون

Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.[6]

Karena itu, maka waspadalah…waspadalah dari berbalik setelah mendapatkan hidayah. Waspadalah dari kebengkokan setelah kelurusan.

Bertakwalah kepada Allah…bertakwalah kepada Allah…dengan melestarikan amal shaleh dan berkesinambungan di dalam melakukan  perbuatan baik dan meminta kepada Allah agar khusnul khatimah.

Ya Allah ! Bangunkan kami dari tidur dalam kelalaian, sadarkan kami untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiaknya waktu-waktu yang terbatas, bimbinglah kami untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kami pada kemaslahantan-kemaslahan hidup kami, jaga dan lindungilah kami dari dosa-dosa kami dan keburukan-keburukan kami, dan bimbinglah seluruh anggota badan kami  untuk mentaati-Mu, jadikanlah kami orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan perantara bagi orang lain untuk mendapatkan petunjuk, bukan menjadi orang-orang yang sesat dan bukan pula menjadi perantara orang lain terjatuh kedalam kesesatan.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, berserta segenap keluarga dan para sahabatnya seluruhnya.

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Istiqamah ba’da Ramadhan, Abdullah bin Shaleh al-Fauzan-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى  –

Catatan :

[1] Shahih Muslim 38

[2] Surat al-Hijr, ayat : 99

[3] Surat al-Baqarah, ayat : 185

[4] Surat al-Maidah, ayat : 27

[5] Surat al-Mukminun, ayat : 60

[6] HR. at-Tirmidzi (9/19) dan sabdanya (أولئك الذين) demikian dalam riwayat at-Tirmidzi, sementara di dalam al-Qur’an (أولئك يسارعون), dan hadis ini dishahihkan oleh al-Albani (shahih at-Tirmidzi, 3/79, 80).

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Jagalah Shalat…Jagalah Shalat (bag.1)

Published

on

Sesungguhnya di antara musibah paling besar, paling berat dan paling agung yang menimpa umat adalah musibah wafatnya Nabi yang mulia-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- yang Allah telah memberikan nikmat kepada umat manusia dengan adanya pengutusan beliau. Beliau adalah penunjuk jalan umat ke Surga, pembimbing mereka kepada segala kemuliaan, dan imam dalam semua kebaikan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  [الأحزاب : 21]

Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah dengan banyak.” (al-Ahzab : 21)

Peristiwa besar wafatnya Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ini, mengandung banyak nasehat dan pelajaran yang beraneka ragam, kita patut berhenti padanya untuk merenungkannya. Dan salah satu nasihat dan pelajaran terbesarnya adalah berkenaan dengan ibadah shalat dan kedudukannya yang penting. Sebuah nasehat dan pelajaran yang mendalam, menyentuh hati sanubari yang disarikan dari kejadian besar dan peristiwa yang agung tersebut.

Shalat terakhir yang Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dirikan bersama orang-orang Mukmin adalah shalat Zhuhur pada Hari Kamis, kemudian semakin beratlah sakit yang beliau derita sehingga selama tiga hari beliau tidak mampu pergi ke masjid untuk shalat karena parahnya sakit tersebut, yaitu Hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau di dalam shalat sebagai imam kaum Muslimin adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada Shubuh Hari Senin –yaitu hari di mana beliau wafat, beliau membuka kain kelambu di kamar Aisyah untuk memandang para sahabat, pandangan perpisahan, dan betapa beratnya perpisahan tersebut. al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahih keduanya [1] dari Anas bin Malik-رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ-,

“Bahwa Abu Bakar mengimami shalat orang-orang pada masa Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- sakit yang akhirnya beliau wafat padanya. Manakala Hari Senin tiba, sementara orang-orang sedang berbaris di dalam shalat, Nabi membuka kain kelambu kamar, beliau memandang kepada kami dalam keadaan  berdiri, wajah beliau seperti kertas mushaf, kemudian beliau tersenyum tertawa, kami hampir batal (di dalam shalat tersebut) karena kami berbahagia melihat Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, lalu Abu Bakar melangkah mundur untuk mencapai shaf (depan), dia menyangka Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- akan keluar untuk shalat, namun beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memberi isyarat kepada kami agar kami menyempurnakan shalat. Beliau menurunkan kain kelambu lalu pada hari itulah beliau wafat.”

Hendaknya kita merenung untuk mengambil nasihat dan pelajaran. Inilah nabi kita -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- yang memandang umat beliau di masjid dengan pandangan perpisahan. Beliau memandang dengan pandangan yang  menjadi sumber kebahagiaan beliau, di mana shalat adalah sumber kebahagiaan bagi beliau. Allah membuat beliau berbahagia di pagi hari yang beliau wafat padanya dengan melihat umat beliau berkumpul di masjid untuk mendirikan shalat. Beliau tersenyum tertawa. Sungguh sebuah senyuman kebahagiaan dan ketentraman, tertawa bahagia dan gembira dengan sebab beliau melihat umat beliau yang berkumpul di masjid mendirikan shalat. Nabi menurunkan kain kelambu dengan penuh kebahagiaan karena menyaksikan pemandangan yang  membahagiakan dan potret yang membuat mata beliau berbinar. Umat beliau, umat Islam, berkumpul di masjid mendirikan shalat. Allah membahagiakan beliau dengan pemandangan yang membahagiakan dan potret yang membuat mata beliau berbinar.

Urusan shalat tidak berhenti sampai batas ini pada saat-saat terakhir dari kehidupan Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Ali-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam al-Musnad [2] dengan sanad yang shahih,

كَانَ آخِرُ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Akhir perkataan Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- adalah ‘(Jagalah) shalat. (Jagalah) shalat. Bertakwalah kalian kepada Allah berkenaan dengan hamba sahaya kalian’.”

Bahkan ada sabda beliau yang lebih mendalam daripada ini di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya [3] dengan sanad yang shahih dari Anas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -, dia berkata,

كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حِيْنَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ ( اَلصَّلَاةَ . وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ )

“Kebanyakan wasiat Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- pada saat ajal kematian datang kepada beliau sementara nafas beliau tersendat-sendat adalah, ‘(Jagalah) shalat dan (bertakwalah kepada Allah) berkenaan dengan hamba sahaya kalian’.”

Dalam riwayat Ummu Salamah -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا –istri  Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-

أَنَّهُ كَانَ عَامَّةُ وَصِيَّةِ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ وَمَا يَفِيضُ بِهَا لِسَانُهُ

Kebanyakan wasiat Nabi Allah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menjelang wafat, ‘(Jagalah) shalat, (jagalah) shalat, dan (bertakwalah kepada Allah) berkenaan dengan hamba sahaya kalian.’ Sampai-sampai Nabi Allah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-  menggumamkannya di dalam dada beliau, sementara lidah beliau tidak mengungkapkannya secara jelas.” [4]

Ini tanpa disangsikan, menunjukkan kepada kita akan besarnya kedudukan shalat di dalam agama Islam, dan begitu besarnya perhatian Nabi kita -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- kepada shalat. Siapa yang membaca hadis-hadis beliau yang mulia dan wasiat-wasiat beliau yang luhur dalam kehidupan beliau seluruhnya, maka dia akan mengetahui nilai shalat dan kedudukannya di dalam Islam.

Di antara bukti atas besar dan pentingnya kedudukan shalat adalah bahwa ia dikhususkan di antara kewajiban-kewajiban Islam dan keumuman ketaatan lainnya, yaitu bahwa Allah memi’rajkan NabiNya ke langit yang ketujuh, di sana, di langit yang ketujuh Allah mewajibkan shalat kepada beliau. Beliau mendengar perintah dan ketetapan Allah secara langsung tanpa ada perantara. Pertama kali diwajibkan sebanyak 50 shalat atas beliau, lalu beliau memohon kepada Allah agar meringankannya, sehingga ia diringankan jadi lima waktu. Maka jumlah shalat Fardhu adalah lima, namun lima puluh dalam pahala, sementara ketaatan-ketaatan yang umum, kewajiban-kewajiban dan ibadah-ibadah yang lain dibawa turun oleh Malaikat Jibril ke bumi, dialah yang mewahyukannya kepada Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dan menjelaskannya. Ini membuktikan kepada kita akan agungnya kedudukan shalat.

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Ta’zhimu ash-Shalati, Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal.14-18.

 

Catatan :

[1] Al-Bukhari, no. 680 dan Muslim, no. 419

[2] Musnad Ahmad, no. 585, diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 5155 dan Ibnu Majah, no. 2698, dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih al-Jami’, no. 4616.

[3] no. 2697 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 2178.

[4] Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 26483, 26684 dan an-Nasai dalam al-Kubra, no. 7060, sanadnya dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, 7/238.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending