Ramadhan yang Dirindukan

Untitled-1-3.jpg

Ramadhan dirindukan kehadirannya oleh orang-orang yang beriman. Betapa tidak sementara Ramadhan dikatakan Nabi sebagai sebagai, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, bulan yang diberkati, atau  شَهْرُ بَرَكَةٍ, bulan keberkahan. Itu artinya sebuah kesempatan bagi orang-orang yang beriman untuk banyak mendulang banyak kebaikan.

 

 

Bentuk Kebaikan

  1. Puasa

Puasa yang harus dilakukan di siang harinya oleh seorang muslim dan muslimah yang telah dewasa, berakal sehat,  tidak dalam keadaan safar dan bebas dari penghalang untuk berpuasa merupakan bentuk kebaikan. Betapa tidak, sementara hal tersebut diperintahkan oleh Allah Dzat yang Maha Baik, Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (Qs. al-Baqarah : 183).

Betapa tidak puasa merupakan kebaikan yang terkandung di dalamnya kebaikan pula, sementara Rasulullah  menggambarkan sebuah kebaikan yang terdapat pada puasa di dalam beberapa sabdanya, misalnya beliau  pernah bersabda kepada Abu Umamah,

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ

Hendaknya engkau berpuasa karena sesungguhnya puasa itu tak ada yang sebanding dengannya (HR. al-Hakim, di dalam al-Mustadrak, no. 1533). Dalam riwayat lain,

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

Hendaklah engkau berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu tak ada yang semisal dengannya (HR. an-Nasai, no, 2220).

Yakni, tak ada yang semisal dengannya dalam hal memecahkan syahwat, menolak hawa nafsu yang memerintahkan kepada keburukan dan menolak rongrongan setan. Atau, tidak ada yang semisal dengannya dalam hal “banyaknya pahala”, (Hasyiyah as-Sindiy ‘Ala an-Nasa-iy,4/165)

Apa yang dikatakan bahwa puasa tidak ada yang semisal dengannya dalam hal “banyaknya pahala”, hal ini seperti tercermin dalam hadis Qudsi,

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Ia (orang yang berpuasa) meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untukKu dan Aku sendirilah yang akan membalasnya, dan kebaikan itu dibalas dengan 10 yang semisalnya (HR. Al-Bukhari, no. 1894)

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ungkapan, “ dan Aku sendirilah yang akan membalasnya “ adalah bahwa Akulah sendiri yang mengetahui kadar balasannya dan pelipatgandaan (pahala) kebaikannya. Al-Qurthubiy –sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari-mengatakan, ‘maknanya, bahwa amal-amal itu telah dibuka kadar pahalanya kepada manusia, dan bahwa amal-amal tersebut dilipatgandakan (pahalanya) dari 10 hingga 700 kali lipat hingga yang dikehendaki Allah, kecuali puasa, sesungguhnya Allah membalas pahalanya tanpa menyebutkan kadarnya. Redaksi dalam hadis ini diperkuat oleh riwayat lainnya, yakni, riwayat dalam al-Muwaththo’  dan demikian pula riwayat al-A’masy dari Abu Shalih dengan redaksi,

كُلّ عَمَلٍ اِبْنِ آدَمِ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ – قَالَ اللَّه – إِلَّا الصَّوْمُ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Setiap amal (yang baik) anak Adam dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipatnya hingga 700 kali lipatnya sampai yang dikehendaki Allah-Allah berfirman- “kecuali (pahala) puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu dan Akulah sendiri yang akan membalasnya.

Yakni, Aku akan membalasnya dengan pahala yang banyak tanpa ditentukan kadarnya. Ini seperti firmanNya,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas      (Qs. az-Zumar : 10). Selesai perkataan beliau. (Lihat, Fathul Baari, 6/129)

 

  1. Lailatul Qadar

Lailatul qadar juga merupakan bentuk kebaikan yang ada di dalam bulan yang dirindukan itu karena merupakan waktu yang memberikan peluang untuk meraih banyak kebaikan. Rasulullah r bersabda,

فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

Pada bulan tersebut terdapat sebuah malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, siapa tidak memperoleh kebaikannya maka ia tidak memperoleh apa-apa (HR. An-Nasai, no. 2106)

Malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, maknanya, amal shaleh yang dilakukan pada malam lailatul qadar itu lebih baik daripada amal shaleh yang dilakukan selama 1000 bulan ( 83 tahun 4 bulan) yang tidak ada di dalamnya Lailatul Qadar (Ma’alim at-Tanzil, 8/171)

Saudaraku…

Dua contoh kebaikan yang ada di bulan Ramadhan tersebut di atas cukuplah membuat hati orang yang beriman merindukan kedatangannya.

 

Perjumpaan Dengan yang Dirindukan

Setelah Ramadhan yang dirindukannya tersebut dijumpainya, niscaya ia pun akan semakin termotivasi dan bersemangat untuk meningkatkan amal shalehnya yang telah biasa dilakukannya sebagai bentuk rasa syukurnya atas nikmat Allah tersebut. Bahkan, merambah kepada bentuk amal shaleh lainnya yang sangat dianjurkan untuk banyak dilakukan pada waktu yang istimewa tersebut, seperti; membaca al-Qur’an, menghidupkan malam-malamnya dengan shalat tarowih bersama imam di masjid, bersedekah, memberikan buka kepada orang yang berpuasa dan lain sebagainya. Apalagi perkara yang harus dilakukannya, yaitu, berpuasa di siang harinya. Ia akan bersungguh-sungguh di dalam melaksakannya dengan mengikuti petunjuk Nabi.

Kesemuanya itu ia lakukan sebagai bentuk rasa syukurnya atas nikmat yang sedemikian agung yang Allah berikan kepadanya tersebut, yaitu : perjumpaan dengan waktu yang penuh dengan keberkahan yang diberkahi oleh Allah ta’ala.

Semoga Allah memberikan taufiq. Amin

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

40 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: