Renungan Memasuki Tahun Baru

perahu-kuning.jpg

Buletin Hisbah Th. III/Jum’at V/5 Shafar 1433 H/30 Desember 2011 M

Kita sekarang tengah berada di ujung tahun 2011 yang telah menjadi saksi atas semua perbuatan kita. Kita sedang menyongsong tahun baru 2012. Apalah kiranya yang hendak kita tinggalkan di tahun yang kan berlalu? Dan dengan apa pula kiranya kita hendak menyongsong tahun baru yang akan datang menjelang? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS. Yunus [10]: 5-6)

Dari sini, hendaknya setiap orang yang berakal segera muhasabah, introspeksi diri. Umar bin al Khathab berkata :

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah ‘Azza wa Jalla kelak. Bersiaplah menghadapi hari perhitungan yang amat dasyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab diri ketika di dunia”  (Al –Mubarakfuri. Tuhfah Al- ahwadzi bin Syarh Jami’at-Tirmidzi)

Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda :

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian ….” (HR.at-Tirmidzi)

Diantara pengertian “orang yang mengendalikan hawa nafsunya “ dalam hadist diatas adalah orang yang selalu menghisab dirinya didunia sebelum dirinya dihisab di hari kiamat.

Muhasabah (menghisab diri) sebagai salah satu pesan inti dari hadis diatas, sangatlah penting dilakukan oleh setiap diri kita. Dengan sering melakukan muhasabah ia akan selalu mengetahui kelemahan , kekurangan , dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Dengan demikian akan terdorong untuk selalu melakukan perbaikan diri. Dan berharap hari demi hari , bulan demi bulan dan tahun demi tahun kita akan menjadi umat yang lebih baik. Ia akan semakin ikhlas dalam menjalankan segala aktifitas , semakin ikhlas menjalankan segala perintah-Nya dan semakin terjauh dari larangan-Nya.

Perhatikan apa yang telah kita tinggalkan di tahun yang akan berlalu ini. Apabila ia telah menyia-nyiakan beberapa kewajibannya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, segeralah bertaubat kepada–Nya ‘Azza wa Jalla. Segeralah berusaha mengejar dan mendapatkan sesuatu yang telah kita sia-siakan tadi. Apabila ternyata ia menzhalimi diri sendiri dengan berbagai maksiat dan hal-hal yang haram, segeralah meninggalkannya sebelum malaikat maut menjemput. Dan apabila ia termasuk orang-orang yang dianugerahi Allah ‘Azza wa Jalla istiqamah, hendaknya ia banyak memuji-Nya atas karunia-Nya dan hendaknya dia memohon keteguhan sampai akhir hayatnya.

Maka demikianlah. Tahun yang berlalu tidak sekadar sebagai kenangan. Tahun baru yang akan tiba bukan untuk disambut dengan perayaan terlebih dengan maksiat dan kebid’ahan. Namun berlalunya tahun lama mengingatkan kita akan apa yang telah kita tinggalkan, sedangkan tahun baru disambut dengan iman, dengan taubat dan istighfar, lalu istiqomah di atas jalan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18).

Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.

Iman bukanlah sekadar angan-angan kosong. Iman juga bukan sekadar hiasan bibir. Taubat pun bukan sekadar ucapan lisan tanpa usaha membersihkan diri. Iman itu ialah sesuatu yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan oleh amalan. Sedangkan taubat ialah penyesalan atas apa yang telah berlalu dari berbagai kekurangan. Taubat ialah segera menjauhi dan meninggalkan dosa-dosa. Taubat ialah kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan usaha memperbaiki amalan. Taubat ialah rasa senantiasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla Zat Yang Maha Mengetahui seluruh keghaiban. Itulah taubat. Selagi masih ada waktu dan terbentang kesempatan, maka apalagi yang menghalangi untuk segera bertaubat?

Nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Berbagai potensi kebaikan telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Masa muda, keadaan sehat wal afiyat, hidup berkecukupan, terbentangnya waktu dan kesempatan serta masa-masa dalam kehidupan adalah sebesar-besar potensi kebaikan. Di masa muda terdapat kekuatan dan keteguhan. Apabila seseorang telah lanjut usia, melemahlah kekuatannya dan lunturlah keteguhannya. Dalam kesehatan terdapat semangat dan kerajinan. Apabila seseorang sakit, mengendurlah semangatnya dan melemahlah kerajinannya, sehingga sempitlah jiwanya, beratlah rasanya untuk beraktivitas dan beramal.

Dalam kecukupan terdapat kelonggaran. Apabila seseorang telah ditimpa kemiskinan, ia akan disibukkan dengan kegiatan mencari penghidupan untuk diri dan tanggungannya. Adapun dalam kehidupan terdapat lapangan yang sangat luas untuk melakukan seluruh amalan shalih. Apabila seseorang telah mati, terputuslah kesempatannya beramal. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati seorang sahabat, beliau bersabda,

Mengaislah kebaikan pada lima keadaan sebelum datang lima keadaan: pada masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pada masa sehatmu sebelum datang sakitmu, pada masa cukupmu sebelum datang kefakiranmu, pada kesempatanmu sebelum datang kesibukanmu, dan pada hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Hakim 7846, beliau mengatakan: “Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, namun beliau berdua tidak meriwayatkannya.” Dishahihkan juga oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 3355)

Oleh karenanya, hendaklah diperhatikan umur usia kita. Hendaklah ditimbang-timbang antara yang tersisa dan yang telah berlalu. Sesungguhnya yang akan datang itu sangat cepat kehadirannya, sedangkan yang telah berlalu tak lagi sanggup kita menggapainya. Sementara apa yang ada sekarang ini mungkin saja dan pasti akan sirna sesaat atau dua saat waktu yang tak tertentu. Yang demikian itu agar kita bersegera beramal shalih sebelum sesuatu yang sekarang ada ini akan sirna dan tak tersisa.


Artikel : www.hisbah.net

Gabung Juga Menjadi Fans Kami Di Facebook Hisbah.net | Dakwah Al-Hisbah | Hisbah.Or.Id

682 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: