Risalah Hakikat Hijab

Risalah-Hakikat-Hijab.jpg

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepad Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du :

Sesungguhnya Islam datang dengan membawa segala kesempurnaan dan melarang segala hal yang membahayakan. Islam  datang dengan membawa segenap kebaikan dan melarang dari segala keburukan.

Dan, kapan kaum muslimin menerapkan dan mempraktekkan ajaran Islam, niscaya mereka mendapatkan pertongan dan kejayaan, sebaliknya kapan mereka menyelisihi ajaran Islam dan melakukan perkara yang dilarangan oleh Islam, meninggalkan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka, maka sesungguhnya mereka tengah berada di jalan yang akan mengantarakan mereka kepada kehinaan, bahaya dan kehancuran.

Dan, tidak diragukan bahwa di antara perkara yang datang dari Islam adalah perlindungan terhadap kehormatan, penjagaan manusia dari segala bentuk kesalahan atau ketidak baikan yang boleh jadi akan menimpa keturunannya, atau keluarganya dan yang lainnya.

Termasuk perkara yang datang dari Islam adalah dorongan untuk merasa cemburu terhadap orang-orang yang masih memiliki hubungan mahrom, hendaknya seseorang memiliki kecemburuan terhadap orang-orang yang masih memiliki hubungan rahim dengannya, berupaya memberikan penjagaan terhadap orang yang diserahkan oleh Allah kepada dirinya berupa para wanita dan anak keturunan dari hal-hal yang akan merusak kehormatan mereka, tidak selayaknya seseorang lalai dan menyepelekan persoalan tersebut. Jika demikian itu semestinya, pasti akan ada perkara yang menyelisihinya, pasti ada orang-orang yang bakal menyeru dan mengajak kepada keburukan dan mengajak serta menyeru kepada kesesatan.

Dan, sebagaimana dimaklumi bahwa setiap seruan dan ajakan –sekalipun batil- akan ada saja telinga yang senang dan setia menyimaknya, akan ada hati yang menyambutnya dengan suka cita, hal itu karena telah banyak hal yang mewarnai hati-hati berupa beragam fitnah, rasa cinta kepada keburukan dan condong kepadanya, meskipun demikian sesungguhnya kebenaran itu sedemikian jelas nampak tanpa sedikitpun kabut menyelimutinya.

Kebenaran itu akan terlihat samar bagi orang yang hati mereka telah termakan oleh rasa cinta kepada kebatilan. Asik dengan pelanggaran terhadap batas-batasan Allah dan asik berkecimpung dalam perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Termasuk dalam masalah aturan berhijab. Saya mohon kepada Allah agar memberikan penjagaan terhadap kita, terhadap para istri-istri kita, anak-anak perempuan kita dan keturunan kita (dari keburukan seruan-seruan batil tersebut).

Berhijab, yakni, tindakan seoreng wanita menutupi perhiasan dan keindahannya dari orang-orang yang bukan mahromnya. Hal itu dilakukan dengan seorang wanita menutupi dirinya dengan jilbabnya, kerudungnya, dan pakaiannya yang dikenakannya sehingga tidak nampak darinya sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah.  Sebab hal tersebut-Wallahu a’lam- adalah karena wanita itu fitnah bagi lelaki, sebagaimana halnya kaum lelaki itu merupakan fitnah bagi kaum wanita.

Oleh karena itu, seorang wanita diperintahkan untuk berhijab, tidak menampakkan dirinya dan tetap tinggal di rumahnya (tidak keluar rumah kecuali bila ada hajat yang mengharuskannya keluar dari rumahnya), sehingga tidak melihatnya orang yang berpotensi akan terfitnah oleh dirinya dan dia pun tidak melihat orang yang boleh jadi akan menfitnah dirinya.

Syariat islam datang untuk memuliakan wanita, yaitu, menjaganya di dalam rumah, agar tidak menampakkan diri kepada lelaki asing, agar menjaga terhadap kecantikan dan perhiasannya, agar hal itu lebih menjaga dirinya dari pandangan mata yang jelalatan, agar terhindar dari jiwa-jiwa yang penuh dengan penyakit, dst. Dengan demikian maka hijab seorang wanita, tindakan menutupi seluruh tubuhnya dan menutupi dirinya dari kaum lelaki (yang bukan mahromnya) tidak diragukan merupakan kemuliaan baginya. Tidak seperti yang dikatakan para penyeru kepada kesesatan yang mengatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan pengekangan dan mempersempit kehidupan seorang wanita, dan bahwa wanita itu saudara kandung lelaki,..dan seterusnya…sebagaimana hal itu dihembuskan oleh orang-orang yang berjiwa kotor yang memiliki tujuan agar nafsu mereka terkenyangkan, Mereka sedemikian menginginkan untuk mendapatkan apa yang sedemikian disukai oleh jiwa-jiwa mereka.

Untuk itu, mereka tidak mendapati jalan melainkan dengan terus mengeluarkan kata-kata murahan, terus menyerukan agar kaum wanita menampakkan dirinya dan keluar berdampingan dengan laki-laki, bekerja bersamanya padahal ia bukanlah mahromnya, mereka terus saja mempropagandakan agar wanita menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya agar kemudian mereka (para lalaki tersebut) dapat menikmati apa yang mereka inginkan dari para wanita.

Ini beberapa bentuk propaganda mereka seperi yang dikatakan sebagian orang yang hidup di zaman now, di mana mereka mempropagandakan bahwa seorang wanita hendaknya menampakkan diri dengan perhiasannya, mereka juga berpandangan bahwa wanita itu bebas bertindak apa saja pada dirinya, sah-sah saja wanita itu memberikan dirinya kepada siapapun orangnya yang diinginkannya baik dengan imbalan ataupun tanpa ibalan. Tindak diragukan bahwa hal ini merupakan tindakan menghinakan diri.

Maka, seorang wanita muslimih hendaknya mencukupkan diri dengan apa yang diperintahkan Allah kepadanya berupa menutup diri dan berhijab.

Semoga Allah memberikan taufik

Wallahu a’lam

 

Sumber :

Dinukil dari, Haqiqatu al-Hijab Wal Ghairah ‘Ala al-A’radh, (Muqaddimah), Abdullah bin Abdurrhman bin Jibrin, dengan ringkasan

Amar Abdullah bin Syakir

62 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: