Santai Berbuat Maksiat Karena Allah Maha Pengampun

Santai-Berbuat-Maksiat-Karena-Allah-Maha-Pengampun.jpg

Kita semua tak lebih dari manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa, akidah ahlussunnah wal jamaah meyakini bahwa yang dilindungi dari salah dan dosa dari kalangan manusia dan jin hanyalah para nabi alaihimussholatu wassalam, sedangkan selain para nabi maka tidak ada jaminan untuk bebas dari salah dan dosa walaupun para sahabat sekalipun yang mereka adalah makhluk terbaik setelah para nabi.

Namun demikian, manusia tidak sama dalam hal maksiat, mereka beragam dan bertingkat-tingkat. Ada golongan yang ketika terjatuh ke dalam maksiat langsung bangkit dan bertaubat kepada Yang Maha Pengampun ketika mereka sadar tanpa menunda-nunda, ada golongan yang tidak bisa langsung bertaubat dan lepas dari maksiat seketika, namun batinnya mengakui akan kesalahannya dan bertekad pada suatu saat akan bertaubat dan berhenti karena ia tahu akan pedihnya adzab Allah subhanahu wa ta’ala, ada golongan yang bermudah-mudahan dalam berbuat maksiat dengan dalih bahwa Allah maha pengampun lagi maha penyayang, dan golongan ketiga inilah yang paling berbahaya, karena bisa jadi maut menjemputnya secara mendadak sedang ia terus mengandalkan ampunan Allah dalam berbuat maksiat.

Dalam kitab ‘Al-Jawabul Kafi’ Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menulis satu bab tentang golongan yang ketiga dengan judul: ‘pasal: orang-orang yang mengandalkan ampunan Allah dan melalaikan perintah serta larangannya.’ Dalam bab tersebut beliau menukilkan beberapa perkataan ulama:

Ma’ruf berkata, “mengharap kasih sayang Dzat yang tidak kamu turuti (perintah dan larangannya-red) adalah suatu kebodohan.”

Al-Hasan Al-Bashri pernah ditanya, “kami melihat anda menangis berkepanjangan, kenapa?” beliau menjawab, “saya takut dilempar ke neraka dan Allah tidak peduli.”

Al-Hasan juga pernah berkata, “sebagian orang tertipu dengan angan-angan akan ampunan Allah subahanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka keluar dari alam dunia tanpa taubat, dia akan berkata: ‘saya ini berprasangka baik terhadap Allah.’ Dan sebenarnya dia berbohong, andai ia berprasangka baik maka pasti ia juga akan berusaha berbuat baik.”

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Al-Hasan, “apa yang harus kami perbuat ketika kami duduk bersama orang-orang yang menakut-nakuti kami (akan adzab Allah) hampir-hampir hati kami melayang?” beliau menjawab, “Demi Allah, lebih baik engkau berkawan dengan orang-orang yang membuatmu takut (akan adzab Allah) sehingga engkau mendapatkan keamanan (nanti di akhirat) daripada berkawanan dengan orang-orang yang membuatmu merasa aman (dari adzab Allah) namun nanti engkau (di akhirat) dikelilingi oleh hal-hal yang menakutkan (adzab Allah-red).

Demikianlah perkataan sebagian ulama terkait ampunan Allah yang dijadikan andalan bagi sebagian orang untuk berbuat maksiat. Sedangkan pedihnya adzab Allah maka banyak sekali ayat Al-Qur’an atau hadits nabi yang menggambarkan betapa pedihnya adzab Allah kepada hamba-hambanya yang tidak taat, diantaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang orang-orang yang tidak mau berzakat:

يَومَ يُحمَىٰ عَلَيهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُم وَجُنُوبُهُم وَظُهُورُهُم هَٰذَا مَا كَنَزتُم لِأَنفُسِكُم فَذُوقُواْ مَا كُنتُم تَكنِزُونَ

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 35)

Hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga banyak menggambarkan pedihnya adzab Allah subhanahu wa ta’ala, diantaranya sabda beliau:

مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ قَالَ قُلْتُ مَنْ هَؤُلاَءِ قَالُوا خُطَبَاءُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ يَعْقِلُونَ

Pada malam aku di-isra’-kan, aku melewati satu kaum yang bibir-bibir mereka digunting dengan gunting dari api. Aku bertanya: Siapa mereka itu? Mereka menjawab: Mereka adalah khatib-khatib di dunia yang selalu mengajak orang lain kepada kebajikan tetapi melupakan diri mereka sendiri sedangkan mereka membaca Al Quran, apakah mereka tidak berakal?” (HR. Ahmad)

Ini hanyalah sekelumit contoh ayat ataupun hadits yang menggambarkan pedihnya adzab Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lain. Bahkan dalam Al-Qur’an banyak sekali Allah mengisahkan kaum-kaum terdahulu yang diadzab seperti kaum nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, Kaum Sodom, Fir’aun dan bala tentaranya, Bani israel yang dikutuk menjadi kera dan lain-lain. Mereka semua diadzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dunia, dan siksa diakhirat tentu lebih berat dan menakutkan. Sehingga bermudah-mudahan dalam bermaksiat serta merasa aman dari adzab Allah dengan mengandalkan ampunan Allah sangat berbahaya sekali karena kita tak tahu kapan maut akan menjemput.

Sayyiduna Anas radhiyallahu’anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, lalu apakah engkau masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.” (HR. Tirmidzi).

Kesimpulannya adalah, bermudah-mudahan dalam berbuat maksiat dengan berdalih bahwa Allah maha pengampun lagi maha pengasih adalah kekeliruan yang besar, orang yang beranggapan demikian ditakutkan akan menyepelekan adzab Allah sedang Allah maha mampu untuk menurunkan adzabnya kapan saja Ia berkehendak. Yang benar adalah kita menyeimbangkan antara mengharap ampunan Allah dan rasa takut dari adzabNya, sehingga kita akan selalu bertaubat dan beramal shaleh dengan harapan Allah akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu, dan menghindari larangan-larangannya agar terhindar dari adzabNya. Cukuplah satu ayat berikut menjadi pengingat bagi kita selalu, Allah berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُور رَّحِيمُ

“…Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 165).

Ditulis oleh: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

4,471 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: