Sebagian Kesalahan Manusia dalam Kurban

kesalahan-qurban.jpg
  1. Hendaklah diketahui bahwa binatang ternak yang hendak dijadikan sebagai hewan kurban semakin bagus harga dan dagingnya, maka semakin utama dan lebih besar pahalanya.
  2. Hendaknya berhati-hati dari berbangga-bangga yang mungkin muncul pada diri seseorang karena harga hewan kurban yang mahal atau karena jumlahnya yang banyak. Sungguh, Rabb kita telah berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ [الحج : 37]

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (Qs. Al-Hajj : 37)

  1. Sebagian orang mengelus-elus punggung hewan kurbannya ketika hendak disembelih, mereka menganggap bahwa hal tersebut termasuk bagian dari sunnah atau bahwa hal tersebut terdapat keutamaan. Ini tidak benar.
  2. Sebagian orang beranggapan bahwa jika ia telah memotong kukunya atau rambutnya (sebelum proses penyembelihan dilakukan) maka kurbannya tidak sah. Ini adalah salah, tidak memiliki dasar. Tidak ada hubungan antara sah tidaknya kurban dengan pemotongan kuku atau rambut pengkurban.
  3. Termasuk anggapan yang salah adalah bahwa jika tidak berniat untuk berkurban sejak sebelum masuk bulan dzulhijjah, maka tidak sah untuk berkurban. Ini tidak ada dasarnya. Bahkan, sekalipun tidak berniat (untuk berkurban) melainkan pada hari raya atau hingga hari terakhir dari hari-hati tasyrik, maka kurbannya sah.
  4. Sebagian orang yang hendak berkurban melarang keluarganya baik yang kecil maupun yang telah dewasa dari tindakan memotong kuku atau rambut mereka. Yang benar adalah yang terlarang untuk melakukan hal tersebut hanya si pengkurban saja.
  5. Sebagian kalangan kaum wanita yang ingin berkurban bertindak terlalu keras terhadap dirinya sendiri, hingga enggan menyisir rambut kepalanya karena merasa khawatir akan jatuhnya sebagian rambut kepalanya tersebut, ini merupakan bentuk kesemangatan yang tidak pada tempatnya.
  6. Termasuk kesalahan juga adalah keyakinan sebagian orang, bahwa seorang wanita tidak boleh menyembelih hewan kurban, bahkan boleh jadi si wanita itu sendiri merasa bermasalah untuk mengonsumsi sebagian hewan kurbannya. Ini merupakan kesalahan. Telah valid di dalam shahih al-Bukhari dari hadis ka’ab bin Malik bahwa seorang budak wanita menggembalakan kambing, seekor kambing tertimpa oleh benda yang digunakan oleh si wanita tersebut untuk menggembalakan kambing tersebut, kemudian ia menyembalihnya dengan menggunakan batu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, maka beliau menjawab,” makanlah kambing tersebut”. (HR. Al-Bukhari, no. 5505). Para ulama telah sepakat akan sahnya makan hewan sembelihan seorang wanita dan anak-anak sebagaimana dinukil oleh Ibnu Munzhir.

 

Sumber :

Tanbiihaat Haula Ba’dha al-Akhtha allati Yaqa’u Fiihaa Ba’dha an-Naas Fii Sya’irah al-Adhahi, Umar bin Abdullah bin Muahmamad bin Muqbil

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

566 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: