Seimbang Antara Hak dan Kewajiban

1.jpg

Hak dan kewajiban adalah perkara yang wajib diperhatikan dan dipenuhi oleh pasangan suami istri, supaya keduanya hidup damai dan saling memahami. Karena itulah, hal ini memerlukan pembahasan dan observasi baik dari buku maupun internet, serta menanyakannya kepada para pakar tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga, baik secara personal, sosial maupun syar’i.

Berdasarkan riset kasus perceraian terbukti bahwa tidak mengerti hak dan kewajiban adalah faktor terbesar problematika suami istri. Masalah ini dapat terurai dengan mempelajari, menambah wawasan, dan bertanya. Allah ta’ala berfirman :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf…”

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ أَلاَّ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلاَ يَأْذَنَّ فِى بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ أَلاَ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِى كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ

Ingatlah ! kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas mereka; mereka tidak memasukkan ke ranjang mereka siapa yang kalian benci, dan tidak mengizinkan siapa yang kalian benci untuk masuk rumah. Adapun hak mereka atas kalian ; kalian berbuat baik dengan memberi makan dan pakaian kepada mereka.” (Shahih at-Tirmidzi)

Mu’awiyah bin Haidah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak istri-istri kami atas kami ?” Beliau menjawab :

أَطْعِمْ إِذَا طَعِمْتَ ، وَاكْسُ إِذَا اكْتَسَيْتَ ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ ، وَلاَ تُقَبِّحْ ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ.

Berilah makan jika kalian makan, berilah pakaian jika kalian berpakaian, jangan pukul wajah, jangan cerca, dan jangan menghajer (menjauhi istrinya dari tempat tidur) kecuali di dalam rumah” (Shahih Abi Dawud)  

Maksud dari “jangan cerca” yaitu tidak mengatakan,”Semoga Allah memburukkanmu!”. Sebagian suami memenuhi hak istri secara materi, bahkan melebihkannya. Namun, ia kurang memperhatikan perasaan istri, hanya karena alasan banyak kerjaan dan sibuk. Begitu pula sebagian istri mengerjakan pekerjaan rumah secara sempurna. Namun, ia juga kurang memperhatikan perasaan suami, terutama saat anak-anak mulai banyak dan umur semakin bertambah. Cacat seperti ini selamanya tidak bisa diterima, baik dari pihak suami maupun istri. Karena, akan menimbulkan dampak negatif kehidupan rumah tangga, dan berujung pula pada masyarakat.

Wallahu a’lam

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, 32-35)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: