Selamatkanlah, Selamatkanlah !

taubat-7.jpg

Kebiasaan mengerjakan maksiat yang Allah larang (seperti riba dan lain sebagainya) akan berdampak negetif bagi kehidupan seseorang baik sisi kejiwaan, jasmani, maupun hubungannya dengan orang-orang sekitar. Orang yang paling banyak merasakan dampaknya adalah pelaku maksiat itu sendiri dan keluarganya. Rumah akan menjadi ‘Neraka’ yang tak dapat dibendung karena banyaknya problem, sebagai hukuman dari Allah ta’ala.

Supaya keluarga menikmati ketentraman rumah, maka wajib bagi mereka untuk meninggalkan seluruh kemaksiatan kecil maupun besar, baik terkait dengan hak Allah, diri-sendiri, maupun masyarakat. Ketika itulah mereka akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan hidup sesungguhnya. Mengerjakan amal ketaatan tidak cukup, namun harus diiringi dengan meninggalkan maksiat dan kemungkaran. Allah ta’ala berfirman,

 

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Qs. asy-Syuura : 30)

Mengerjakan kemaksiatan akan menyebabkan terjadinya musibah dan bencana, termasuk problem di dalam rumah. Baik antara suami dan istri, anak dan anak, ataupun orang tua dan anak. Allah ta’ala berfirman,

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ruum : 41)

Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas bahwasanya maksiat adalah sebab munculnya kerusakan di muka bumi, termasuk kerusakan dalam kehidupan rumah tangga.

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ

“…dan apabila Allah murka kepada seorang hamba, Dia menyeru Jibril seraya berfirman, ‘Sesungguhnya Aku murka kepada fulan, maka murkailah ia ! Maka Jibril murka kepadanya dan menyeru penduduk langit, ‘sesungguhnya Allah murka kepada fulan, maka murkailah ia ! Maka penduduk langitpun murka kepadanya. Lalu diletakkan kemurkaan baginya di muka bumi.” (Shahih Muslim)

Salah seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah ta’ala, maka aku dapat melihat akibatnya pada sikap tunggangan dan istriku.”

Seorang penyair berkata :

Apabila engkau dalam kenikmatan, maka jagalah ia

Karena dosa dapat menghilangkan nikmat

Jagalah nikmat dengan taat kepada Rabb

Karena betapa banyak hamba yang cepat sengsara

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 259)

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

 

 

95 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: