Semakin Akrab dengan al-Quran Di Malam-malam Ramadhan

masjid-3.jpg

Siapa yang memperhatikan kehidupan sang teladan, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- di malam-malam hari selama bulan Ramadhan, niscaya ia dapatkan bahwa beliau ‘semakin akrab dengan Kalamullah, al-Qur’an.

Hal ini seperti tercermin dalam hadis Ibnu Abbas -semoga Allah meridhainya- ia- berkata :

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya al-Qur’an. Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. (Shahih al-Bukhari, no. 322 dan Shahih Muslim, no. 2308).

Hal itu menunjukkan disukainya memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan pada malam harinya. Karena, pada (kebanyakannya) ghalibnya,  di malam hari kesibukan beraktifitas sudah terhenti. Kesungguhan terhimpun. Terhimpun pula antara hati dan lisan untuk lebih dapat mentadabburi al-Qur’an. Dan, bulan Ramadhan memiliki kekhususan terkait dengan al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah azza wajalla,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran (Qs. al-Baqarah : 185)

Keteladanan yang Diwarisi

Keteladanan beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam- yang satu ini, -yaikni, semakin akrab dengan al-Qur’an di bulan Ramadhan terlebih di malam-malam harinya- diwarisi oleh para pewaris Nabi, mereka adalah para salafush shaleh, para pendahulu kita yang baik. Mereka  membaca al-Qur’an pada setiap bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat. Di antara contohnya, yaitu :

Al-Aswad, ia membaca al-Qur’an setiap dua malam pada seluruh bulan dalam setahun, dan pada bulan Ramadhan ia membaca al-Qur’an setiap malam.

Imam asy-Syafi’isemoga Allah merahmatinya- di bulan Ramadhan dapat mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali, beliau membacanya di luar shalat. Kebiasaan beliau di luar bulan Ramadhan mengkhatamkan bacaan al-Qur’an setiap tiga malam, dan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan bacaannya setiap malam di dalam shalat.

Qatadah, beliau selalu saja mengkhatamkan bacaannya pada setiap tujuh malam, dan di bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan bacaannya pada setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhirnya, beliau mengkhatamkannya setiap malam.

Imam Maliksemoga Allah merahmatinya- bila telah memasuki bulan Ramadhan, beliau lari dari membaca hadis dan bermajlis dengan ahli ilmu, beliau mengkonsentrasikan diri membaca al-Qur’an dari Mushaf

Maka, Az-Zuhriy –semoga Allah merahmatinya- menegaskan, apabila bulan Ramadhan telah masuk, ia mengatakan,

فَإِنَّمَا هُوَ تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

Sesungguhnya bulan itu (yakni, bulan Ramadhan) untuk membaca al-Qur’an dan memberikan makan.(Wadhaif Ramadhan, 1/74)

Menikmati Kelezatan al-Qur’an

Demikianlah mereka mengisi hari-hari di bulan Ramadhan ini terlebih di malam-malam harinya dengan meningkatkan keakraban dengan al-Qur’an. Mereka sedemikian menikmati kelezatannya. Semakin mereka menikmati al-Qur’an, hati mereka semakin merasakan kelezatannya. Karena, al-Qur’an memiliki kelezatan yang tak ada tandingannya. Inilah Surga dunia. Dan, inilah jalan untuk mendapatkan Surga Akhirat. Maka, tempuhlah jalan ini !

Al-Qur’an Penyejuk Hati

al-Qur’an merupakan penyejuk hati, sebagaimana dalam doa beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- :

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي وَنُوْرَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

(Ya Allah !) Jadikanlah al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, serta penghilang kegundahanku (HR. Ahamad, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Malik bin Dinar –semoga Allah merahmatinya-berkata :

يَا أَصْحَابَ الْقُرْآنِ مَاذَا زَرَعَ الْقُرْآنُ فِي قُلُوْبِكُمْ فَإِنَّ الْقُرْآنَ رَبِيْعُ الْقُلُوْبِ كَمَا أَنَّ الْغَيْثَ رَبِيْعُ اْلأَرْضِ

Wahai para pembaca al-Qur’an ! … Apa yang telah al-Qur’an tanam di dalam hati-hati kalian ?! karena sesungguhnya al-Qur’an itu penyejuk hati sebagaimana halnya hujan penyejuk bumi.(al-Kasyfu Wa al-Bayan, 8/326)

Maka dari itu, tidak selayaknya Anda melewatkan hari-hari Anda, terlebih di bulan Ramadhan ini, terutama lagi di malam-malam harinya untuk membaca al-Qur’an, meningkatkan keakraban Anda dengannya. Tidak pernah merasa kenyang dari membacanya dan mentadabburinya.

Alangkah indahnya perkataan Amirul Mukminin, Utsman bin Affan –semoga Allah meridhainya-, ia berkata :

لَوْ أَنَّ قُلُوْبَنَا طَهُرَتْ مَا شَبِعَتْ مِنْ كَلَامِ رَبِّنَا ، وَإِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ يَأْتِي عَلَيَّ يَوْمٌ لَا أَنْظُرُ فِي الْمُصْحَفِ

Andai kata hati-hati kita suci, niscaya tak akan pernah merasa kenyang dari firman Rabb kita. Sungguh, aku benci, ketika datang suatu hari kepadaku sementara aku tidak melihat ke al-Mushaf (al-Qur’an)(yakni, tidak membaca al-Qur’an dengan melihat Mushaf) (al-Asma Wa ash-Shifat, 1/593)

Akhirnya, kita memohon taufik kepada Allah agar kita dapat semakin meningkatkan keakraban dengan al-Qur’an di malam-malam bulan Ramadhan yang berkah ini. Amin

Wallahu A’lam

Referensi :

  1. Al-Asma Wa ash-Shifat, Ahmad bin Husain al-Baihaqiy
  2. Al-Kasyfu Wa al-Bayan, Ahmad bin Muhammad ats-Tsa’labiy
  3. Ash-Shahihain, al-Bukhariy dan Muslim
  4. Wadhaif Ramadhan, Sulaiman bin Abdurrahman al-‘Umariy

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 146 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: