Semoga Engkau Tidak Menemukannya

Untitled-1.jpg

Dari Burdah-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, “Pernah suatu ketika setelah Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- menunaikan shalat, ada seorang lelaki berujar : siapakah yang menemukan unta merah? (Mendengar penuturan orang itu) maka Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “semoga engkau tidak akan menemukannya, sesungguhnya, masjid-masjid itu dibangun hanyalah untuk maksud masjid itu dibangun. (HR. Ibnu Khuzaemah. Diriwayatkan pula oleh imam Muslim, 5/57, hadis no. 1263)

Dari Abu Utsman,ia berkata, Ibnu Mas’ud pernah mendengar seorang mengumumkan barang hilang di masjid, maka beliau pun marah dan mencaci orang tersebut. Maka berkatalah seorang lelaki (kepada Ibnu Mas’ud) : engkau sebelumnya tidak pernah berlaku kasar wahai Ibnu Mas’ud, Ibnu Mas’ud berkata, “kami hanya diperintahkan dengan hal tersebut (HR. Daruquthni di dalam ‘Ilalnya, 5/338, hadis no. 932, al-Bazzar di dalam Musnadnya, 5/268, Ibnu Abi Syaibah,2/183, hadis no. 7905. Dan, Syaikh al-Albani berkata : Isnadnya jayyid , sebagaimana disebutkan di dalam ta’liqnya terhadap shahih Ibnu Khuzaemah, 2/273)

Ihtisab di dalam Hadis
Dalam kedua hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam poin berikut ini :
• Pertama, Berihtisab, amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang yang mengumumkan barang hilang miliknya di masjid, dan (bolehnya) mendoakan keburukan atas orang tersebut dengan suara yang keras.
• Kedua, penjagaan seorang muhtasib terhadap masjid dan menjelaskan sesuatu yang menjadi maksud dari dibangunnya masjid.
• Ketiga, Peneladanan seorang muhtasib terhadap para sahabat Nabi dalam hal pelaksanaan mereka terhadap perintah-perintah syari’at.

Penjelasan :
Kedua hadis yang mulia di atas menunjukkan terlarangnya tindakan mengumumkan barang-barang yang hilang di dalam masjid, Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengingkari tindakan lelaki yang berdiri mengumumkan barang yang hilang berupa untanya yang berwarna merah, dan Nabi mendoakan jelek terhadap lelaki tersebut dengan ucapannya “semoga engkua tak akan menemukannya“ kemudian beliau menjelaskan bahwa masjid itu tidaklah dibangun untuk dilakukan di dalamnya hal semisal yang telah dilakukan oleh lelaki tersebut.

Dan telah datang riwayat dari sahabat mulia Abu Hurairah-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, “semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk tujuan ini.” (HR. Ibnu Khuzaemah, 2/273, hadis no. 1302. Dan, diriwayatkan pula oleh imam Muslim, 565, hadis no. 1260).

Demikian pula Ibnu Mas’ud telah melakukan pengingkaran terhadap seorang lelaki yang mengumumkan barang hilang miliknya di dalam masjid, di mana beliau marah besar karena tindakan yang dilakukan oleh lelaki tersebut, dan beliaupun mencela orang tersebut.

Maka dari itu, hendaknya seorang muhtasib mengingkari orang yang dilihatnya melakukan hal yang serupa dengan bentuk kemungkaran ini. Mendoakan orang yang melakukan kemungkaran tersebut dengan perkataannya “ semoaga Allah tidak mengembalikannya kepadamu “atau dengan ungkapan “ semoga engkau tidak mendapatkannya” , sebagai bentuk peringatan terhap orang tersebut.

Disamakan hukumnya dengan kasus ini sesuatu yang semakna dengannya berupa transaksi jual beli, transaksi sewa menyewa dan lain sebagainya. Kepada orang yang melakukan transaksi jual beli, dikatakan kepadanya dengan keras, “Semoga Allah tidak memberikan keuntungan kepada perdaganganmu !” sebagai bentuk peringatan kepadanya, dan dijelaskan kepada para pelaku kemungkaran-kemungkaran tersebut bahwasanya masjid itu tidaklah dibangun untuk tujuan seperti itu.

Telah datang riwayat dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasalam- bersabda, “jika kalian melihat orang yang melakukan transaksi jual beli di dalam masjid, maka ucapkanlah (kepadanya) : semoga Allah tidak memberikan keuntungan kepadamu “ dan bila kalian melihat orang yang mengumumkan di dalamnya barang yang hilang, maka ucapkanlah (kepadanya) : “semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.” (HR. Ibnu Khuzaemah, 2/274, hadis no. 1305. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, 3/610, hadis no. 1321, al-Baihaqiy, 2/447, ad-Darimiy, 1/274, hadis no. 1403. Dan Hadis ini dishahihkan oleh al-Albani sebagaimana di dalam ta’liq beliau terhadap shahih Ibnu Khuzaemah, 2/274)

Penjagaan seorang muhtasih terhadap masjid dan menjelaskan sesuatu yang menjadi maksud dari dibangunnya masjid
Sesungguhnya pengingkaran seorang muhtasib terhadap persoalan ini terkandung di dalamnya upaya penjagaan terhadap rumah-rumah Allah dan pengagungan terhadapnya, dan membersihkannya dari segala bentuk tindakan yang tidak layak dilakukan di dalamnya. Maka dari itu, seorang muhtasib hendaknya bersungguh-sungguh untuk meraih pahala dalam tindakannya melakukan pengingkaran semisal kemungkaran-kemungkaran ini dan juga dalam tindakannya berupaya menjelaskan hal-hal yang layak untuk dilakukan di dalam masjid yang merupakan hal yang menjadi maksud dari dibangunnya masjid, semisal bahwa masjid itu dibangun untuk tempat pelaksanaan shalat, untuk dzikrullah, untuk membaca al-Qur’an, untuk mudzakarah dalam hal kebaikan dan lain sebagainya.

Meneladani Para Sahabat

Sungguh, pada diri para sahabat Nabi terdapat contoh terbaik dalam hal menerapkan perintah-perintah syariat terhadap diri mereka. Mereka sedemikian bersemangat untuk mengajak manusia mengamalkan tuntunan syariat. Maka, mereka beramar ma’ruf dan nahi munkar, mereka lakukan hal demikian itu sebagai bukti meneladani petunjuk Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- penghulu para manusia. Inilah dia Ibnu Mas’ud, ia melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah, beliau mengingkari orang yang mengumumkan barang hilang miliknya di dalam masjid, beliau marah besar, dan mencela orang itu karena orang itu telah mencoreng kehormatan hal-hal yang dimuliakan oleh Allah dan syariat-Nya, dan beliau menjelaskan terhadap orang yang mengingkari tindakannya mencela orang tersebut bahwa hal tersebut dilakukannya semata-mata karena perintah dari Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-.
Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :
“ al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaemah”, karya : Abdul Wahab bin Muhammad bin Fayi’ ‘Usairiy, hal. 77-78

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: