Seni Memberi Hadiah

Hadiah hangat secara materi, perasaan, dan layanan pribadi adalah sifat mulia. Orang seperti inilah yang akan membangun pondasi sukses dan langgengnya rumah tangga. Karena itulah, suami istri harus antusias mengorbankan milik mereka untuk membahagiakan pasangan, anak-anak, dan orang sekitar.

Memberi hadiah dapat dilakukan dengan beberapa bentuk ; opini hangat, nasehat berkualitas, perasaan positif, sentuhan hangat, ucapan yang baik, atau bantuan materi maupun non materi.

Hadiah akan sampai pada puncaknya tatkala Anda memberi tanpa mengharap balasan, bahkan ada kalanya Anda perlu sembunyikan hingga tak ada satupun orang yang tahu kecuali Allah. Selain itu, hendaknya jangan mengungkit-ungkit pemberian dan bantuan. Sebab, mengungkitnya akan menyakiti hati, menghina, bahkan dapat menimbulkan problem keluarga. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى . وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Qs. Al-Lail : 5-7)

Faedah yang dapat kita ambil dari ayat ini bahwa memberi tanpa pamrih akan menjadikan Allah memudahkan seluruh urusannya di dunia dan akhirat. Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …إلي أن قال … وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ …الحديث

Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …sampai beliau bersabda …. Dan seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya. “… (Muttafaq ‘Alaihi)

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَنَّانُ الَّذِى لاَ يُعْطِى شَيْئًا إِلاَّ مَنَّهُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ

Ada tiga golongan yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari Kiamat; orang yang mengungkit-ungkit pemberian, tidaklah ia memberi sesuatu kecuali mengungkitnya, seorang yang berdagang dengan sumpah palsu, dan seorang musbil (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki)  (Muttafaq ‘Alaihi)

Mengungkit pemberian dan bantuan bukanlah tabiat orang bijak, itu adalah sifat orang bakhil. Tidak selayaknya seorang muslim menyebut pemberiannya di hadapan penerima, apalagi antara pasangan suami istri.

 

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 52-53)

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *