Serial Kisah Pertaubatan Bagian 10

Kita di kagetkan oleh para pembawa jenazah yang datang melintas

Namun kita main-main ketika jenazah itu sudah pergi tanpa bekas

Seperti takutnya segerombolan kambing dari serangan serigala

Serigala pergi, mereka pun kembali lagi bersuka ria

Pada tahun ajaran pertama, aku masih tinggal bersama ayahku, dalam sebuah lingkungan yang baik. Sekembali dari begadang di akhir malam, aku mendengar ibuku berdoa.

Aku juga mendengar doa ayahku dalam shalatnya yang panjang. Aku hampir berdiri termangu melihat betapa panjang shalatnya, terutama ketika aku sedang enak-enak tidur di musim dingin yang amat menggigit.

Aku terheran memandang diriku sendiri, betapa sabarnya ia melakukan itu setiap hari. Sungguh amat menakjubkan.

Aku belum menyadari bahwa perbuatan itu adalah kesenangan seorang Mukmin. Itu adalah shalat orang-orang pilihan. Mereka biasa meninggalkan pembaringan demi bemunajat kepada Allah. Setelah menyelesaikan satu fase dalam akademi ketentaraan, aku mulai tumbuh besar dan dewasa, tapi bersamaan dengan itu aku pun semakin jauh dari Allah. Meskipun aku sering mendengar berbagai nasehat yang mengetuk kedua telingaku dari waktu ke waktu.

Setelah lulus, aku ditugaskan di sebuah kota di luar kotaku, dan jaraknya amat jauh. Akan tetapi karena aku sudah mengenal terlebih dahulu rekan-rekanku di sana, hal itu meringankan bagi diriku susahnya hidup di perantauan.

Saat itu, sudah tidak terdengar lagi di telingaku suara lantunan Al Qur’an. Sudah tidak terdengar lagi suara ibuku yang membangunkan diriku untuk shalat, dan mendorongku untuk terus melaksanakannya. Aku kini hidup seorang diri. Jauh dari suasana kekeluargaan di mana aku pernah hidup sebelumnya.

Aku pun ditempatkan dalam pekerjaanku untuk mengawasi jalan raya bebas hambatan dan di pinggir-pinggir kota. Tugasku menjaga keamanan, mengawasi jalan-jalan, dan melayani orang-orang yang memerlukan bantuan. Pekerjaanku berganti-ganti, dan aku pun hidup dengan nyaman. Aku melaksanakan pekerjaanku dengan rajin dan penuh keikhlasan.

Namun, aku mulai memasuki kehidupan yang penuh gelombang. Aku diombang-ambingkan oleh kebingungan hendak kemana aku beroreintasi, karena banyaknya waktu luangku dan dangkalnya ilmu yang kumiliki. Aku merasa bosan. Tak kudapati seorang pun yang menolong kembali kepada agamaku, yang ada justru kebalikannya.

Yang kerap kali tersaksikan dalam kehidupanku sehari-hari adalah munculnya berbagai musibah dan kecelakaan.

Namun datanglah satu hari yang berbeda dari biasanya.

Di tengah-tengah pekerjaan, aku dan seorang rekanku berdiri di pinggir jalan. Kami terlibat pembicaraan menarik. Secara tiba-tiba terdengar benturan keras. Kami melayangkan pandangan kami. Tiba-tiba terlihat sebuah mobil yang bertabrakan dengan mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Kami beranjak dengan cepat menuju lokasi kejadian untuk menolong korban kecelakaan tersebut.

Sebuah musibah yang sulit digambarkan. Terdapat dua orang dalam mobil tersebut dalam kondisi yang mengenaskan. Kami mengeluarkan mereka dari mobil dan meletakkan tubuh mereka dengan membujur.

Dengan cepat kami mengeluarkan penghuni mobil kedua, yang kami dapati sudah meninggal dunia. Kami kembali menemui kedua orang yang pertama. Ternyata mereka juga sudah dalam kondisi sekarat. Lihatlah, kini rekanku sedang membimbing mereka berdua mengucapkan syahadat.

“Ucapkanlah Laa ilaaha illallah.” Kata rekanku. Namun mereka malah dengan keras melantunkan nyanyian. Kejadian itu sungguh memiriskan hatiku. Kebalikannya, rekanku itu sudah mengerti kondisi mendekati kematian seperti itu. Ia segera mengulang mengajarkan mereka mengucapkan kalimat syahadat. Aku berdiri mematung, tidak bergeming sedikitpun. Dengan mata melotot, kupandangi kejadian itu. Belum pernah aku merasakan kondisi semacam ini sebelumnya. Rekanku berulang-ulang membimbing mengucapkan kalimat syahadat, namun keduanya juga terus saja menyanyi.

Tak berguna sama sekali.

Suara nyanyian itu pun semakin melemah, sedikit demi sedikit. Yang pertama terdiam, diikuti oleh temannya. Tak bergerak sama sekali. Keduanya pun meninggalkan dunia ini.

Kami menggotong mereka ke dalam mobil. Rekanku terlihat tidak membuka mulutnya. Kami berjalan dalam keadaan diam seribu bahasa.

Keheningan itu diputus oleh rekanku yang menceritakan kepadaku kondisi kematian dan su’ul khatimah. Sesungguhnya manusia itu akan ditutup kehidupannya dengan kebaikan atau keburukan.

Penutup kehidupannya itu menunjukkan apa yang diamalkan selama hidupnya secara umum. Ia menceritakan kepadaku berbagai kisah yang disebutkan dalam berbagai buku-buku Islam. Bagaimana setiap orang itu akan menutup hidupnya dengan amalan lahir maupun batin yang selama ini dia lakukan.

Kami menghabiskan waktu perjalanan ke rumah sakit dengan membicarakan kematian dan su’ul khatimah. Gambaran pembicaraan kami semakin lengkap, ketika kami menyadari bahwa kami tengah membawa orang-orang mati di sisi kami.

Aku sungguh takut terhadap kematian. Kejadian itu sungguh menyadarkan diriku. Hari itu, aku shalat dengan sedemikian khusyu’nya.

Namun kejadian itu sedikit demi sedikit mulai kulupakan, aku kembali kepada kehidupanku semula. Seolah-olah aku belum pernah menyaksikan kedua orang itu menghadapi kematian. tetapi terus terang, semenjak itu aku tidak lagi menyukai nyanyian. Aku tidak lagi keranjingan mendengar lagu-lagu seperti pada masa-masa sebelumnya. Kemungkinan hal itu disebabkan pendengaranku masih terpengaruh erat oleh nyanyian yang di lantunkan kedua lelaki tersebut, kala keduanya menghadapi kematian.

Namun secara tak diduga, muncul hari yang penuh keajaiban.

Setelah lebih dari enam bulan berlalu, terjadilah peristiwa mengejutkan. Ada seorang lelaki mengendarai mobilnya dengan perlahan, namun tiba-tiba mobilnya itu mogok, yakni di sebuah terowongan yang menuju ke kota.

Ia berjalan kaki keluar mobilnya, untuk memperbaiki kerusakan pada salah satu ban mobilnya. Ketika ia sedang berdiri di belakang mobilnya untuk menurunkan ban serep yang masih baik, tiba-tiba datang mobil yang berjalan kencang dan menabraknya dari arah belakang. Ia pun jatuh tersungkur dengan amat kerasnya.

Aku segera mendatanginya bersama temanku yang lain. Kami segera menggotongnya menuju mobil. Kami juga segera menghubungi rumah sakit untuk segera menjemputnya.

Ia adalah seorang pemuda yang berusia belia. Dari tampangnya, terlihat bahwa ia seorang pemuda yang baik agamanya. Ketika kami menggotongnya, terdengar pemuda itu bergumam. Kami mempercepat langkah membawanya, tanpa dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya. Tetapi ketika kami meletakkannya di dalam mobil, dan mobilpun mulai berjalan, tiba-tiba kami mendengar suara yang amat berbeda. Ternyata pemuda itu sedang membaca Al Qur’an dengan suara yang merdu, subhanallah, tak mungkin kita mengatakan bahwa pemuda itu sedang mengalami musibah.

Darah sudah membasahi sekujur bajunya. Tulang-tulangnya berpatahan. Bahkan terlihat sekali bahwa ia sedang menghadapi kematian. Namun ia terus membaca Al Qur’an dengan suaranya yang merdu. Ia membacanya dengan tartil.

Sungguh seumur hidup aku belum pernah mendengar bacaan Al Qur’an semacam itu. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku akan membimbingnya membaca syahadat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh rekanku dahulu.” Apalagi aku sudah memiliki pengalaman dalam hal itu.

Aku terdiam bersama rekanku itu sambil mendengar suara nan merdu tersebut. Kurasakan, bahwa sekujur tubuhku merinding hebat. Tiba-tiba ia terhenti. Ternyata ia mengacungkan jari telunjuknya ke arah langit sambil membaca syahadat. Kemudian ia memiringkan kepalanya. Aku melompat ke belakang. Kusentuh nadinya, jantung dan nafasnya. Sudah tidak ada lagi. Ia telah meninggal dunia.

Aku memandanginya lama sekali. Air mata menetes dari mataku. Namun aku berusaha menyembunyikannya di hadapan rekanku tersebut. Aku menoleh kepadanya dan memberitahukan bahwa lelaki itu sudah meninggal dunia. Spontan rekanku menangis. Aku pun sendiri, langsung terseguk-seguk menangis, air mataku mengalir tak terbendung lagi. Pemandangan kami dalam mobil itu menjadi begitu miris.

Kami pun sampai di rumah sakit. Setiap orang yang kami jumpai bercerita tentang lelaki tersebut. Banyak di antara mereka yang tersentuh, air mata mereka pun menetes. Bahkan ada seorang di antara mereka, ketika mendengar kisah lelaki itu, segera mencium keningnya.

Semua orang tidak ada yang beranjak sampai mengetahui dengan jelas kapan lelaki itu akan dishalatkan, sehingga mereka bisa ikut menshalatkannya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah korban tersebut. Yang menerima telpon adalah saudaranya. Ia menceritakan, bahwa saudaranya itu biasa pergi pada hari Senin untuk mengunjungi neneknya yang tinggal seorang diri di desa. Saudaranya itu biasa memberikan perhatian terhadap janda-janda, anak-anak yatim serta orang-orang miskin. Orang-orang di kampung itu sudah mengenalnya, karena ia biasa membagikan kaset dan buku-buku Islam kepada mereka. Ia juga biasa pergi dengan membawa mobil yang penuh dengan beras dan gula untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia juga tidak pernah lupa membawa kembang gula untuk menggembirakan anak-anak kecil. Ia selalu membantah orang yang berusaha menghalanginya untuk bepergian dengan mengingatkan bahwa perjalanan itu membutuhkan waktu lama dengan menjawab, “Saya manfaatkan lamanya waktu perjalanan untuk menghafal Al Qur’an dan mengulang hafalan, serta mendengarkan kaset-kaset dan ceramah agama. Saya selalu memperhitungkan setiap langkah yang saya ambil.

Keesokan harinya masjid pun penuh sesak oleh orang-orang yang menshalatkannya. Aku turun menshalatkannya bersama jama’ah kaum Muslimin yang banyak jumlahnya. Usai menshalatkannya, kami membawanya untuk dikebumikan. Kami pun memasukkannya ke dalam liang yang sempit tersebut. Mereka menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Dengan Nama Allah, dan di atas agama Rasulullah, kami pun mulai menaburkan tanah di atas tubuhnya.

“Mohonkanlah keteguhan untuk saudaramu ini, karena sekarang ini ia sedang ditanya.”

Ia sudah memasuki hari pertamanya di alam akhirat. Sementara aku seolah-olah baru mamasuki hari pertamaku di dunia ini. Aku bertaubat dari apa yang selama ini aku lakukan. Semoga Allah memberi ampunan terhadap perbuatanku di masa lalu dan meneguhkan diriku untuk selalu taat kepadanya lalu menutup kehidupan dengan kebaikan, kemudian menjadikan kuburanku dan kuburan setiap Muslim sebagai salah satu taman-taman Surga.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Az Zaman Al Qaadim”, karya : Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim (ei, hal. 26-32).

Amar Abdullah bin Syakir

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Yuk Donasi Paket Berbuka Puasa Bersama
Ramadhan 1442 H / 2021 M

TARGET 5000 PORSI
ANGGARAN 1 Porsi Rp 20.000

Salurkan Donasi Terbaik Anda Melalui

Bank Mandiri Syariah
Kode Bank 451
No Rek 711-330-720-4
A.N : Yayasan Al-Hisbah Bogor
Konfirmasi Transfer via Whatsapp : wa.me/6285798104136

Info Lebih Lanjut Klik Disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *