Shalat Pada Waktunya, Amal yang Dicinta Rabb Kita

Shalat-Pada-Waktunya-Amal-yang-Dicintai-Rabb-Kita1.jpg

Allah azza wajalla berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا [النساء : 103]

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (Qs. An-Nisaa’ : 103)

Imam al-Bukhari berkata, “maksudnya adalah waktu-waktu yang telah ditentukan kepada mereka.”

Abu ‘Amir asy-Syaibani berkata, “Pemilik rumah ini –beliau mengisyaratkan kepada rumah ‘Abdullah- berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-, ‘Apakah amal yang paling dicintai Allah ? ‘Shalat pada waktunya,’jawab beliau.’Kemudian apa lagi ?’ tanya Abdullah. Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ‘Berbuat baik kepada kedua orang tua.’ Abdullah bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi ?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawab Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-.’Abdullah berkata : ‘Demikianlah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- menyampaikan kepadaku, seandainya aku menambah (pertanyaan) lagi, niscaya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- menambahkan jawabannya (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (527) dan Muslim (85)

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– menjelaskan bahwasanya shalat pada waktunya termasuk perbuatan yang paling utama, bahkan beliau mendahulukannya daripada berbuat baik kepada kedua orang tua dan jihad di jalan Allah –subhanahu wata’ala-. Dalil dari ungkapan tersebut adalah kata, “ tsumma “ (kemudian) yang menunjukkan makna urutan, sebagaimana hal tersebut dikenal di dalam bahasa Arab.

Al-Hafizh di dalam kitabnya Fathul Baariy berkata, Ibnu Bazizah berkata, ‘Berdasarkan penelitian, alasan mengkatagorikan jihad termasuk amal yang utama adalah karena di dalamnya ada pengorbanan jiwa. Hanya saja sabar di dalam menjaga shalat pada waktunya dan menjaga agar selalu berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan pekerjaan yang mesti dan terjadi berulang-ulang. Tidak ada orang bersabar merasakan pengawasan Allah di dalam hak hal itu kecuali para Shiddiqin. Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.”

 

Surga, Dijanjikan Untuk Anda

Saudaraku…

Bila mana Anda melakukan amal yang dicintai oleh Rabb Anda ini, yakni, shalat lima waktu pada waktunya, menjaganya dan tidak menyia-nyiakannya, niscaya Anda dijanjikan oleh Rabb Anda akan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.

Ka’ab bin ‘Ujrah meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah mendatangi kami,-pada waktu itu kami bertujuh, empat orang pernah menjadi hamba sahaya kami dan yang tiga orang lainnya tidak pernah, kami semua bersandar di masjid – Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : “Apa yang menjadikan kalian semua duduk di sini ?” “ Kami duduk di sini menunggu waktu shalat,’ jawab kami. Ka’ab berkata,”Apakah kalian tahu apa yang difirmankan oleh Rabb kalian ? “ “Tidak” jawab kami. Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مَنْ صَلَّى الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا وَلَمْ يُضَيِّعْهَا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهَا فَلَهُ عَلَيَّ عَهْدٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُصَلِّ لِوَقْتِهَا وَلَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا وَضَيَّعَهَا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهَا فَلَا عَهْدَ  عَلَيَّ إِنْ شِئْتُ عَذَّبْتُهُ وَإِنْ شِئْتُ غَفَرْتُ لَهُ

Sesungguhnya Rabb kalian azza wajalla berfirman: Siapa saja yang melakukan shalat pada waktunya, selalu menjaganya dan tidak (melalaikan) dengan menyia-nyiakannya (meremehkan) haknya, Aku berjanji untuk memasukkan orang tersebut ke dalam Surga. dan siapa saja yang tidak melakukan shalat pada waktunya, tidak menjaganya dan melalaikan (menyia-nyiakan) haknya, maka tidak ada perjanjian baginya dengan-Ku. Jika Aku mau, Aku akan menyiksanya, dan jika Aku mau, Aku mengampuninya (HR. Ath-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Ausath dan Ahmad di dalam Musnadnya).

 

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk melaksanakan amal yang utama ini, amal yang dicintai Rabb kita- pada waktu-waktunya, menjaganya, dan tidak menyia-nyiakannya. Aamiin

 

Semoga pula Rabb kita Allah azza wajalla menjadikan kita dan anak cucu kita orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Aamiin

 

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

 

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Ash-Shalat, Wa Atsaruha Fii Ziyadati al-Iman Wa Tahdziibi an-Nafs, Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah (e.i,hal. 19, 23)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: