Shalat Pembeda Antara Muslim dan Kafir

PEMBEDA-ANTARA-MUSLIM-DAN-KAFIR.jpg

Bukan judul yang bermakna tendensius, namun untuk mengungkapkan betapa pentingnya perkara shalat didalam islam. Mengapa? Karena shalat bagaikan tiang dan pondasi bagi bangunan islam, yang mana jika suatu pondasi suatu bangunan tidak kuat, maka kehancuran bangunan tersebut tinggal menunggu waktu untuk menimpa orang yang dibawahnya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ، وَحَجُّ الْبَيْتِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ. (رواه البخاري ومسلم)

“Islam dibangun diatas lima hal: Kesaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari-Muslim)

Maka atas dasar pentingnya melaksanakan shalat ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan tegas mengungkapkan bahwa ia adalah pembeda antara islam dan kekufuran, beliau bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Sebagian mungkin masih sangsi, mengapa shalat begitu serius urusannya, bukankah selain shalat masih ada amalan-amalan lain? bisa jadi

seseorang itu baik meski ia tidak shalat, dan sebagainya dari ungkapan-ungkapan sebagian saudara kita.

Maka jawabannya, shalat adalah rukun islam, maka menjaganya adalah bukti dari keislaman, sedangkah meninggalkannya berarti tidak memenuhi seluruh rukun islam. Dan shalat merupakan perintah dan sarana berkomunikasi dengan Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti tidak mematuhi perintah, sedangkan kita semua adalah hamba-hambanya. Dan shalat sebagai sarana komunikasi seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat sujud, maka dari itu perbanyaklah berdoa (saat itu).” (Shahih Muslim 482)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Taha: 14)

Semoga Allah Ta’ala ringankan kaki kita menuju rumah-rumah-Nya.

 

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: