Connect with us

Bid'ah

Shalat Raghaib dan Menghidupkan Malam ke-27 Bulan Rajab

Published

on

Syaikh bin Baz pernah ditanya :

Sebagian orang mengkhususkan bulan Rajab dengan melakukan berbagai bentuk ibadah tertentu seperti shalat Raghaib[1] dan menghidupkan malam ke-27. Apakah yang demikian itu ada dasarnya di dalam syari’at ini? Jazakumullahu khairan.

Beliau menjawab :

Pengkhususan bulan Rajab dengan ibadah shalat raghaib atau peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa malam tersebut adalah malam Isra’ Mi’raj, maka ini semua adalah bid’ah dan tidak boleh untuk dilaksanakan, amaliyah seperti itu tidak ada dasaranya dalam syari’at ini.

Para ulama juga telah memperingatkan tentang permasalahan ini, dan kami pun juga sudah pernah menulis tentangnya lebih dari sekali, dan kami telah jelaskan kepada orang-orang bahwa shalat raghaib adalah bid’ah, yaitu sebuah ritual yang dilakukan oleh sebagian orang di malam Jum’at pertama bulan Rajab.

Demikian pula peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa itu adalah malam Isra’ Mi’raj, itu semua adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Malam Isra’Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Kalaupun diketahui, tetap tidak diperbolehkan untuk mengadakan peringatan malam tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memperingatinya, demikian pula para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para shahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum. Kalau seandainya peringatan seperti itu termasuk sunnah, maka niscaya mereka akan mendahului kita untuk memperingatinya.

Segala kebaikan itu ada pada sikap mengikuti mereka dan berjalan di atas manhaj mereka sebagaimana Allah ‘azza wajalla firmankan:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100]

Dan telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang pada dasaranya bukan berasal dari agama tersebut, maka dia tertolak.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad)

Dan beliau ‘alaihish shalatu wassalam juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim, Ahmad)

Dan makna ‘maka amalannya tersebut tertolak‘ adalah ‘tertolak kepada pelakunya‘.

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam khuthbahnya:

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, An-Nasa’i)

Maka yang wajib atas segenap kaum muslimin adalah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istiqamah di atasnya, saling mewasiati untuk itu dan waspada dari segala bentuk kebid’ahan sebagai realisasi dari pengamalan firman Allah ‘azza wajalla:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Dan firman-Nya subhanahu wata’ala:

وَالْعَصْرِ سورة العصر الآية إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ سورة العصر الآية إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قِيْلَ: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasehat. Ditanyakan kepada beliau: untuk siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: untuk Allah, untuk kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan segenap umat Islam.” (HR. Muslim)

Adapun umrah, maka tidaklah mengapa untuk ditunaikan pada bulan Rajab, karena telah shahih di dalam Ash-Shahihain dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunaikan umrah pada bulan Rajab. Dahulu para salaf juga menunaikan umrah pada bulan Rajab, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitabnya ‘Al-Latha-if‘ dari shahabat ‘Umar, anaknya (Ibnu ‘Umar), dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Dan dinukilkan dari Ibnu Sirin bahwa para salaf dahulu juga melakukan yang demikian. Wallahu waliyyut taufiq.

[1] Shalat Raghaib atau biasa juga disebut dengan Shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan pada malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan ‘Isya. Pada siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Raghaib ini (yakni hari Kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.

Sumber : Majmu’ Fatawa Ibn Baz [XI/476-477].

(Amar Abdullah/hisbah.net)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Akhlak

Kemungkaran Dalam Qurban – Bagian 3

Published

on

Pada bagian pertama dan kedua dari tulisan ini, telah disebutkan beberapa kesalahan atau kemungkaran kaitannya dengan bentuk ibadah qurban. Dan, berikut ini adalah bentuk kesalahan dan kemungkaran yang lainnya.

 

Sebagian orang ada yang meyakinkan sahnya bersedekah dengan harga hewan kurban sebagai ganti dari menyembelihnya, dan bahwa hal tersebut adalah lebih utama.

Hal ini merupakan kesalahan. Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, ‘Menyembelih (hewan kurban) pada tempatnya adalah lebih utama dari pada bersedekah dengan harganya. Oleh karenanya, andai kata seseorang bersedekah sebagai ganti dari menyembelih hadyu haji tamattu’ dan qiran dengan nilai hewan yang harusnya disebelih yang jauh lebih banyak, bahkan berkali-kali lipat misalnya, maka hal tersebut tidak dapat mengunggulinya, dan demikian pula halnya dalam kasus kurban. (Min Ahkami al-‘Idain Wa ‘Asyri Dzil Hijjah, Abdullah ath-Thayyar, hal. 75-89. Dengan sedikit gubahan)

Dan, hal ini menyelisihi sunnah Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Tidak ada keterangan yang valid dari beliau dan tidak pula dari kalangan para sahabatnya –semoga Allah meridhai mereka- bahwa mereka mengeluarkan harga hewan ternak sebagai ganti dari menyembelih hewan kurban.

 

Sebagian orang ada yang sengaja mengambil rambut kepalanya dan badannya atau memotong kuku-kukunya baik kuku tangannya maupun kuku kakinya dengan alasan bahwasanya membiarkannya bagi orang yang ingin berkurban hanya merupakan perkara sunnah saja, ia tidak berdosa kala tidak melakukannya. Ini merupakan kesalahan. Pelakunya wajib beristighfar memohon ampunan kepada Allah, bila mana ia secara sengaja mengam rambutnya.

Ada juga orang yang keadaanya berkebalikan dengan kondisi mereka, di mana ketika ia dibolehkan untuk mengambil rambutnya karena suatu kondisi darurat yang mengaruskannya, namun ia tidak mengambil rambutnya. Atau, ia membutuhkan untuk memotong kuku karena mengalami keretakan atau sobek, misalnya, namun ia tidak memotong kukunya tersebut. Ini merupakan kesalahan.

 

Ada juga sebagian orang yang mewajibkan membayar fidyah atas orang yang ingin berkurban bila ia tidak memotong kukunya atau rambutnya. Ini merupakan kesalahan. Hal ini tidak memiliki dalil, baik dari kitab ataupun dari sunnah. Yang wajib dilakukannya adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah.

 

Banyak kalangan wanita-kecuali yang dirahmati Allah-yang menganggap remeh urusan kurban, mereka enggan berkurban dengan alasan bahwasanya ia tidak akan mampu untuk menjaga dirinya saat menyisir rambutnya, di mana akan ada rambut kepalanya yang terpotong atau tercabut karena tindakannya tersebut. Maka, kita katakan kepadanya, ‘tidak ada hal yang menghalangi dari tindakan kurban dan menyisir rambut kepala, meskipun ada sebagian rambut kepala yang jatuh tanpa sengaja.

 

Sebagian kalangan lelaki boleh jadi ada yang tidak berkenan untuk berkurban dengan alasan ia khawatir akan berdosa terhadap dirinya sendiri karena ketidakmampuannya untuk membiarkan rambut jenggotnya atau kumisnya.

 

Bersambung …

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Al-Akhtaa-u Wa al-Mukhalafat al-Muta’alliqah Bi al-Udhiyah (https://e7saan.com/article/details/1014)

 

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading

Bid'ah

Merayakan Maulid Nabi, Benarkah Bukti Rasa Cinta?

Published

on

Sungguh, nikmat yang teragung dan terbesar adalah Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad  kepada ummat ini dengan membawa kebenaran dan petunjuk yang dengan itu ia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya; ia mewajibkan kepada mereka untuk mencintainya dengan kecintaaan yang mengungguli kecintaan kepada seluruh makhluk, sebagaimana sabda beliau :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku dicintainya melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kecintaan kepada Nabi adalah dengan mengikuti beliau dan berjalan di atas jejaknya. Bukan dengan mengadakan perkara baru yang tidak disyariatkan. Allah  berfirman, artinya, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Qs. Ali Imran : 31)

Di antara bentuk perkara baru adalah apa yang diada-adakan oleh sebagian orang di bulan Rabi’ul Awwal, yaitu : merayakan Maulid Nabi; di mana mereka berkumpul pada malam tanggal 12, mereka beramai-ramai bershalawat kepada Nabi dengan bentuk shalawat yang dibuat-buat, membaca sanjungan dan pujian-pujian kepada Nabi yang berlebih-lebihan yang dilarang oleh Nabi. Beliau e bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

Wahai sekalian manusia! jauhilah oleh kalian sikap/tindakan ghuluw (berlebihan) di dalam agama ini, karena ghuluw dalam perkara agama telah menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa. (HR. Ibnu Majah dan an-Nasai)

Perkara bid’ah ini pertama kalinya dilakukan oleh kalangan al-Ubadiyyun pada abad ke-4 Hijriyah. Mereka itu dari kalangan Rafidhah Bathiniyyah yang dikatakan oleh al-Baqilaniy, “mereka kaum yang menampakkan fanatisme dan menyembunyikan pengingkaran”.

Berkata Ibnu Katsir,  “al-Qadhi al-Baqilaniy telah mengarang kitab untuk membantah mereka kaum yang menisbatkan dirinya kepada kalangan Fathimiyyun, beliau menamai kitabnya dengan, “ Kasyfu al-Asrar Wa Hatku al-Astar”, di dalamnya beliau menguraikan secara panjang lebar tentang borok dan kejelekan mereka, menjelaskan hakekat ajaran mereka kepada setiap orang sehingga faham akan kecongkakan dan kesombongan perbuatan dan perkataan mereka, beliau mengatakan dalam salah satu ungkapannya, “mereka itu adalah sekelompok kaum yang menampakkan fanatisme dan menyembunyikan pengingkaran” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 15/539-540)

Tidak sedikit kalangan yang merayakan maulid Nabi beranggapan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kesempurnakan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkannya dan menghormatinya. Sejatinya, ini tidaklah benar. Karena, mencintai beliau, mengagungkan dan menghormatinya tidaklah terwujud dengan menyelisihi petunjuknya dan membuat-buat hal baru dalam agama yang telah disempurnakan oleh Allah untuknya dan ummatnya. Mewujudkan rasa cinta kepada beliau, mengagungkan dan menghormatinya adalah dengan senantiasa mentaatinya, mengikuti perintahnya, dan mengambil petunjuknya, menggigit sunnahnya dengan gigi geraham, dan menghidupkan sunnahnya dengan perkataan dan perbuatan, serta menjauhkan diri dari segala bentuk perkara baru yang telah diwanti-wantinya dan telah diberitakan olehnya bahwa hal-hal tersebut merupakan keburukan dan kesesatan. Nabi bersabda,

لَا يٌؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman seorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah, no. 15 dari Abdullah bin Umar. Syaikh al-Albani melemahkan sanandnya di dalam Zhilalu al-Jannah (1/12). Akan tetapi maknanya shahih dan didukung dengan firman Allah, yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Qs. An-Nisa : 65))

Jalan inilah yang ditempuh oleh orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Sungguh, para sahabat adalah orang-orang yang sangat mencintai Nabi, paling mengagungkan dan menghormati beliau, dan mereka juga orang-orang yang paling bersemangat melakukan kebaikan dibanding orang-orang yang datang setelah mereka; namun begitu mereka tidak memperingati kelahiran beliau dan tidak pula menjadikannya sebagai sebuah perayaan, kalaulah saja melakukan perayaan maulid merupakan bagian dari rasa cinta kepada Nabi yang paling rendah tingkatannya niscaya mereka akan sedemikian bersemangat melakukan hal tersebut dan telah menjadi orang-orang pertama yang melakukannya.

Maka, cukuplah bagi kita jalan yang pertama, Ibnu Umar berkata, “Barangsiapa ingin mengambil teladan maka hendaklah mengambil teladan orang-orang yang telah meninggal dunia, mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad, mereka adalah orang-orang terbaik ummat ini, yang berhati paling bagus, paling mendalam ilmunya, paling sedikit membebani diri, sekelompok orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi shabat Nabi; oleh karenanya, hendaklah kalian berusaha meniru akhlak mereka dan cara beragama mereka, karena mereka para sahabat Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam  berada di atas petunjuk yang lurus, demi Allah Rabb pemilik Ka’bah. (HR. Abu Nu’aim di dalam Hilyatu al-Auliya 1/305). Berkata Ibnu Mas’ud, “hendaknya kalian mengambil petunjuk yang pertama (as-Sunnah, 80, al-Marwaziy), beliau juga berkata, “ ikutilah, janganlah membuat-buat perkara baru, sungguh telah cukup bagi kalian, dan setiap perkara bid’ah adalah sesat (HR. ad-Darimiy, no. 211)

Mareka adalah para sahabat yang Allah berfirman tentang mereka,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (Qs. Ali Imran : 110)

Nabi bersabda tentang mereka,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي

Sebaik-baik generasi adalah yang hidup di masaku (yakni, para sahabat) (HR. al-Bukhari, no. 3651 dan Muslim, no. 2533).

Sementara mereka tidak mengadakan peringatan atau perayaan maulid Nabi, tidak pula generasi yang mengikuti mereka dengan baik, padahal mereka orang-orang yang paling mencintai Nabi dan paling bersemangat di dalam menerapkan sunnahnya, paling jauh dari melakukan perkara bid’ah dan kemungkaran. Imam Malik  berkata, “tidak akan menjadi baik akhir ummat ini kecuali dengan melakukan perkara yang telah menjadikan baik generasi ummat yang pertama (Dinukil oleh al-Qadhi ‘Iyadh di dalam kitabnya, “asy-Syifa bi ta’riifi Huquqi al-mushthafa (2/205).

Baleh jadi ada yang berkata : sesungguhnya orang-orang yang melakukan perayaan atau peringatan maulid tujuannya baik, mereka tidak menginginkan kecuali ridha Allah, menampakkan rasa cinta kepada Nabi dengan melakukan perayaan tersebut.
Kita katakan : bahwa tujuan yang baik harus selaras dengan sunnah Nabi, sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sebuah riwayat bahwa salah seorang sahabat pernah menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ied karena ia suka untuk memberi makan Nabi dari sebagian daging kurbannya tersebut seusai beliau melaksankan shalat ied, namun kala Nabi mengetahui hal tersebut, beliau berkata kepadanya,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

kambing yang kamu sembelih adalah kambing daging biasa” (yakni, kambing yang kamu sembelih tersebut bukan merupakan kurban, kamu tidak mendapatkan pahala kurban, bahkan kambing yang kamu sembelih tersebut sama halnya dengan kambing yang dipotong hanya sekedar untuk dimakan) (HR. al-Bukahri, no. 955 dan Muslim, no. 1961)

Yakni, sembelihannya tersebut bukan sebagai kurban karena ia menyembelihnya diluar waktu yang telah ditentukan untuk menyembelih kurban, maka yang demikian itu menyelisihi sunnah, kebaikan tujuannya tidak memberikan faedah kepadanya karena tindakannya yang menyelisihi sunnah.

Sebagian orang yang membolehkan melakukan bid’ah maulid ini berdalih, “ bila mana ahlu salib (kalangan Nasrani) menjadikan malam kelahiran Nabi mereka sebagai perayaan yang paling besar, maka ahlu islam (ummat Islam) lebih utama dan lebih layak tentunya untuk memuliakan (Nabinya) (Dikatakan oleh as-Sakhawiy di dalam kitabnya, at-Tibr al-Masbuk Fii Dzaili as-Suluk, hal. 14). Ini adalah pengakuannya bahwa dilakukannya perayaan Maulid Nabi untuk menyerupai kalangan Nasrani yang menjadikan kelahiran al-Masih sebagai hari perayaan.  Maka, benar sekali apa yang dikatakan oleh Nabi,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti cara, jalan dan tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga pun kalau mereka masuk ke dalam lobang Dhabb(binatang sejenis biawak) niscaya kalian akan mengikuti mereka. Kami (para sahabat) berkata : wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab, “siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR. al-Bukhari, no. 3456 dan Muslim, no. 2669)

Dengan demikian, tindakan merayakan atau memperingati Maulid Nabi menyerupai tindakan kalangan Nasrani atas kesaksian sebagian kalangan yang menganggap hal tersebut baik. Padahal, Nabi telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai (tindakan) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka (HR. Abu Dawud, no. 4031)

Maka dari itu, berhati-hatilah Anda dari tertipu oleh semisal  ini sehingga Anda tidak terjatuh ke dalamnya. Allah berfirman, yang artinya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Qs. An-Nuur : 63)

 

Penulis :

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Disarikan dari “ Hukmu al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawiy”, Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr.

Continue Reading

Bid'ah

Asyuro dalam Tradisi dan Kultur Kejawen

Published

on

Bulan Suro banyak diwarnai oleh orang Jawa dengan berbagai mitos dan khurafat, antara lain :

Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh dibuat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan dan lain-lain yang ada hanya ritual.

Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh orang Jawa di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi’ah dan animisme, dinamisme dan Arab jahiliyah. Dulu, orang Quraisy jahiliyah pada setiap ‘Asyura selalu mengganti Kiswah Ka’bah (kain pembungkus Ka’bah), (Fathul Bari, 4/246). Kini, orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus. Alangkah miripnya hari ini dan kemarin.

Di dalam Islam, ‘Asyura tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri (Syi’ah), tidak diisi dengan pesta dan berhias diri (Jahalatu Ahlissunnah) dan tidak diisi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang dianggap suci untuk tolak bala’ (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan berkumpul-kumpul. Namun yang ada hanyalah puasa Asyura’ dengan satu hari sebelumnya atau juga dengan sehari sesudahnya. Wallohu a’lam.

Artikel  : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Continue Reading

Trending