Connect with us

Shalat

Shalat Tepat Waktu Amal Terpenting yang Mesti Menyertai Pertumbuhan Anak.

Published

on

Cintakanlah!

Cintakanlah anak-anak Anda pada perbuatan baik dan bakti. Ini tidak mungkin terwujud melalui ucapan dan janji-janji semata, tapi juga memerlukan sikap-sikap konkret sedari dini agar mereka tumbuh di atas kebaikan-kebaikan itu.

Alhamdulillah, mencintai kebaikan adalah fitrah manusia, di samping juga merupakan adat kebiasan dalam banyak komunitas masyarakat Islam. Amal paling penting yang mesti menyertai pertumbuhan anak adalah shalat tepat waktu.

Saya ucapkan selamat kepada seorang ayah yang mengajak serta putranya ke masjid untuk ikut menunaikan shalat. Dan juga kepada seorang ibu yang menyeru putrinya mengerjakan shalat bersamanya di rumah. Demikian pula halnya kewajiban-kewajiban lain. Misalnya, meletakkan uang di tangan si kecil agar ia masukan ke kotak infak, supaya dalam diri mereka tumbuh benih cinta shadaqah, zakat, membantu orang lain dan memenuhi kebutuhan mereka, serta memotivasi mereka mengamalkannya sedari dini.

Pastinya Anda semua tahu pengaruh amal kebaikan pada diri anak dan orang tua. Untuk itu, cintakan amal kebaikan pada anak-anak Anda dengan mengikutsertakan mereka dalam berbagai aktifitas yang dapat mengeratkan hubungan anak dengan kaum Muslimin. Baik di tanah air sendiri, negeri tempat Anda berdomisili atau pun di luar negeri. Aktifitas-aktifitas tersebut adalah sebagai berikut :

1-Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. Jelas tidak ada ruginya, karena dikatakan pada orang yang melakukannya, “Dan bagimu semisalnya,” oleh malaikat yang telah ditugaskan.

2-Mengasuh anak-anak yatim.

3-Menolong orang-orang yang sedang ditimpa bencana dan ujian, misalnya memberi tempat mengungsi atau memberi makan.

4-Menyumbangkan harta, baju dan barang-barang lain yang sudah tidak dibutuhkan tapi masih layak.

5-Berkontribusi dalam mempersiapkan menu buka puasa.

6-Membangun masjid, sekolah dan pusat-pusat keislaman.

7-Mendirikan klinik, rumah sakit dan balai pengobatan, menyumbangkan obat-obatan dan makanan, serta membantu memberikan pertolongan dan perawatan para mujahidin dan korban bencana.

8-Mendanai proyek-proyek penuntut ilmu umum atau syar’i, demikian pula proyek-proyek pekerjaan.

9-Serta hal-hal lain baik besar atau kecil, dimana Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

لَاتَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ  شَيْئًا

Janganlah kalian meremehkan suatu kebaikan pun…” (HR. Muslim dan Ahmad)

Diutamakan sumbangan-sumbangan ini berasal dari tabungan anak-anak sendiri dan hendaknya mereka melakukan sendiri proses penyerahannya.

Di sini saya ingin menceritakan suatu peristiwa yang dikisahkan Syaikh Ahmad Qaththan pada kami. Berikut ini kisahnya :

Ketika itu pintu rumahku diketuk oleh seorang petugas pengumpul sumbangan, setelah mengucapkan salam orang tersebut berkata, “Kami telah dihubungi dari rumah Anda ini untuk mengambil sumbangan sejumlah 5 dinar-seingat saya untuk dana buka puasa di bulan Ramadhan-.”

Syaikh berkata, “Tetapi, saya tidak menelpon.”

Ketika beliau menanyakan pada anggota keluarga, ternyata putra beliau yang masih kecil yang telah mengambil nomor telepon dan mengontak petugas pengumpul shadaqah. Maka tidak ada jalan lain bagi syaikh kecuali menerima petugas tersebut dan mempertemukannya dengan putra beliau yang baik agar menyelesaikan proses penyerahan shadaqah dan kepedulian terhadap kaum fakir miskin.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Wallahu A’lam

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shalat

Kedudukan Shalat (bagian 1)

Published

on

Sesungguhnya di antara kewajiban paling besar yang Allah wajibkan atas hamba-hambaNya, ibadah paling mulia yang Allah tetapkan atas mereka adalah shalat. Shalat adalah tiang agama, rukun Islam yang paling ditekankan sesudah dua kalimat syahadat. Shalat adalah tali penyambung antara hamba dengan Tuhannya. Shalat adalah perkara pertama yang seorang hamba dihisab atasnya pada Hari Kiamat. Bila shalatnya bagus, maka baguslah amal-amalnya yang lain, dan bila shalatnya rusak, maka rusaklah amal-amalnya yang lain. Shalat adalah pembeda antara Muslim dan kafir. Mendirikannya adalah iman, meninggalkannya adalah kekafiran dan pelanggaran.

لَا دِيْنَ لِمَنْ لَا صَلَاةَ لَهُ

“Tidak ada agama bagi siapa yang tidak shalat”. [1]

وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Dan tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa yang meninggalkan shalat.” [2]

Barangsiapa menjaga shalat, maka shalat itu menjadi cahaya di dalam hatinya, wajahnya, kuburnya dan di padang Mahsyarnya, serta menjadi penyelamat baginya pada Hari Kiamat, dan dia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para Nabi, shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shaleh. Sungguh bagus orang-orang itu sebagai teman. Barangsiapa yang tidak menjaga shalat, maka dia tidak mempunyai cahaya, bukti, dan keselamatan pada Hari Kiamat, dan dia akan dibangkitkan bersama Fir’aun, Haman, Qarun, dan Ubay bin Khalaf.

Imam Ahmad-رَحِمَهُ اللهُ-berkata dalam kitab beliau ash-Shalah, “Hadir dalam hadis,

لَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa yang meninggalkan shalat.”

Umar bin Khaththab -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – menulis ke penjuru negeri kaum Muslimin, ‘Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting bagiku adalah shalat, barangsiapa menjaganya, maka dia menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakanya, maka dia lebih menyia-nyiakan selainnya. Tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa yang meninggalkan shalat.’ Beliau berkata, ‘Siapa pun yang meremehkan dan menyepelekan shalat, maka dia meremehkan dan menyepelekan Islam. Bagian mereka dari Islam itu sesuai dengan kadar bagian mereka dari shalat, minat mereka kepada Islam tergantung dengan kadar minat mereka kepada shalat. Kenalilah dirimu wahai hamba Allah, berhati-hatilah, jangan sampai berjumpa dengan Allah sementara kamu tidak membawa bagian dari Islam, karena sesungguhnya kedudukan Islam di dalam hatimu seperti kedudukan shalat di hatimu.’

Hadir dalam hadis dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau bersabda,

اَلصَّلَاةُ عَمُوْدُ الدِّيْنِ

‘Shalat adalah tiang agama.’ [3]

Bukankah engkau mengetahui bahwa sebuah tenda yang runtuh tiangnya, maka patok dan pasaknya tidak berguna ? Sebaliknya patok dan pasak akan berguna manakala tiang tenda berdiri tegak. Demikianlah kedudukan shalat dalam Islam. Perhatikan dan pahamilah, semoga Allah merahmati kalian. Dirikanlah shalat dengan sebaik-baiknya, bertakwalah kepada Allah pada shalat, hendaknya kalian saling tolong menolong dalam urusan ibadah ini, saling menasehati dengan cara sebagian dari kalian mengingatkan sebagian yang lain manakala mereka lupa atau lalai, kerena sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, sedangkan shalat adalah kebaikan paling utama. Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ الْعَبْدُ عَنْهُ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ تُقُبِّلَتْ مِنْهُ صَلَاتُهُ تُقُبِّلَ مِنْهُ سَائِرُ عَمَلِهِ

‘Sesungguhnya perkara pertama dari amal seorang hamba yang dia ditanya tentangnya adalah shalat, bila shalatnya diterima, maka amal-amalnya yang lainnya diterima.’ [4]

Shalat kita adalah agama kita yang terakhir, shalat adalah perkara pertama yang kita ditanya tentangnya dari amal-amal kita esok pada hari Kiamat. Sesudah shalat lenyap, tidak ada lagi agama, tidak ada lagi Islam, karena shalat adalah perkara terakhir dari Islam yang lenyap. Segala sesuatu yang bagian akhirnya lenyap, maka seluruhnya lenyap pula.’ Selesai perkataan imam Ahmad [5]

 

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Ta’zhimu ash-Shalati, Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal.21-24.

 

Catatan :

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Iman, no. 47; al-Mawardi dalam Ta’zhim Qadr ash-Shalah, no. 937; al-Khallal dalam as-Sunnah, no. 1387; dan lainnya secara mauquf dari perkataan Abdullah bin Mas’ud-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –dengan lafazh :

مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَلَا دِيْنَ لَهُ

“Barangsiapa tidak shalat, maka tidak ada agama baginya.”

Sanadnya dihasankan oleh al-Albani dalam adh-Dha’ifah, 1/382

[2] Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’, no. 51; al-Marwazi dalam Ta’zhim Qadr ash-Shalah, no. 923 dan lainnya dari hadis al-Miswar bin Makhramah, dari Umar bin al-Khaththab -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –tentang kisah penusukan terhadapnya ; dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 209.

[3] Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 22016; at-Tirmidzi, no. 2616; dan Ibnu Majah, no. 3973 dari hadis Mu’adz bin Jabal -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –. Lafazh hadis,

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Apakah kamu mau aku beritahu tentang pokok perkara, tiang dan puncaknya ?” Aku menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”

Dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam al-Irwa’, no. 413.

[4] Lafazh ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 35906 dari hadis Tamim bin Salamah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –.

[5] Dinukil oleh Abu Ya’la dalam kitabnya Thabaqat al-Hanabilah. Lihat ucapan tersebut pada, 1/353-354.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Jangan Tinggalkan Shalatmu !

Published

on

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Bersabda :

اَلْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

 

“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir”

(HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai)

**

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin-رَحِمَهُ اللهُ-berkata, “Sesungguhnya masalah ini (yakni, masalah meniggalkan shalat) termasuk di antara permasalahan yang besar dan banyak diperselisihkan oleh para ahli ilmu (para ulama), baik dari kalangan salaf (generasi terdahulu), maupun khalaf (generasi yang datang kemudian).

 

Imam Ahmad  bin Hanbal mengatakan,  “Orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dan keluar dari Islam (dicap murtad). Apabila ia tidak bertaubat dan atau kembali menunaikan shalat.”

 

Sedangkan imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam asy-Syafi’i menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dicap orang fasik, tidak termasuk orang kafir.

 

Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik dan imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh sebagai bentuk hukumannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat hanya harus dihukum dan tidak sampai di bunuh.

Jika masalah ini termasuk masalah-masalah yang diperdebatkan, maka masalah ini harus dikembalikan kepada kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-sebagaimana   perintah Allah ta’ala di dalam firman-Nya,

 

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ  [الشورى : 10]

 

“Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya (terserah) kepada Allah.”

(Asy-Syuura : 10)

 

Allah ta’ala berfirman,

 

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا  [النساء : 59]

 

“Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

(An-Nisa : 59)

 

Dikarenakan masing-masing para ulama yang berbeda pendapat, pendapatnya tidak bisa dijadikan alasan terhadap lainnya. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang benar. Sedangkan masing-masing dari mereka tidak lebih utama untuk diterima pendapatnya dari pendapat yang lainnya. Maka masalah ini wajib dikembalikan kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

 

Jika kita menyandarkan perselisihan ini kepada al-Qur’an dan sunnah, niscaya kita akan mendapati bahwa al-Qur’an dan sunnah menjelaskan kekufuran orang yang meninggalkan shalat dengan kufur besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam (pelakunya dianggap telah murtad). [1]

 

Maka dari itu, janganlah kamu tinggalkan shalatmu !

 

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

 

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ  [التوبة : 11]

 

“Dan jika mereka bertaubat, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, maka (berarti mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.”

(Qs.At-Taubah : 11)

 

Sisi pendalilan ayat ini adalah bahwa ketika Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- mensyaratkan adanya persaudaraan antara kita dengan orang-orang musyrik dengan tiga syarat. Yaitu

 

(1) betaubat dari kesyirikan,

(2) menegakkan shalat, dan

(3) menunaikan zakat.

 

Jika mereka telah bertaubat dari kesyirikan, tetapi tidak menegakkan shalat dan tidak menunaikan zakat, maka mereka semuanya bukan saudara kita. Demikian  pula meskipun telah mendirikan shalat, tetapi tidak menunaikan zakat, mereka bukan merupakan saudara kita. Persaudaraan dalam agama (seagama Islam) tidak akan hilang kecuali pada saat seseorang telah murtad dari agamanya. Selain itu, persaudaraan di dalam agama tidak akan hilang dengan sebab kefasikan dan kekufuran yang masih dianggap wajar.

 

**

 

Sedangkan dalil dari sunnah Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat, di antaranya adalah sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ,

 

اَلْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

 

“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir”

(HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai)

 

Yang dimaksud dengan kata kafir di dalam hadis ini adalah kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Karena Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menjadikan shalat sebagai pemisah antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir.

 

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

 

“Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim)

 

Sudah diketahui bersama bahwa orang-orang kafir bukan merupakan orang-orang muslim. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak mau melaksanakan perjanjian ini, maka ia akan termasuk golongan orang-orang kafir.

 

Semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-melindungi kita dan saudara kita kaum Muslim dari terjatuh kedalam kekufuran dan menjauhkan kita semunya dari golongan orang-orang kafir. Amin

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta segenap keluarga dan para sahabatnya.

 

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Catatan :

[1] Hukmu Taarikish Shalaati, Syaikh Utsaimin-رَحِمَهُ اللهُ-

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Shalat

Cara Mengajak Anak Shalat Ala Ibu Isha

Published

on

Sebuah perintah ilahi yang mulia dan sebuah arahan rabbaniy nan agung namun kebanyakan manusa tidak memperhatikannya dan justru menyia-nyiakannya, perintah tersebut adalah firman Allah Tabaraka Wata`ala di akhir-akhir surat Thaha :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa (Thaha : 132)

Pembaca yang dirahmati Allah, setiap anak memiliki neuron cermin. Neuron cermin itu ada di otak anak kita. Dan kita telah mempelajari bahwa sambungan otak ke badan itu diperantarai oleh sistem saraf. Lalu tubuh menjalankan pesan apa yang ada di otak.

Maka jika anak dari kecil melihat orang tuanya berperilaku suatu, akan terekam di memorinya, lalu jalan di badannya, dan si anak akan membuat perilaku seperti itu.

Itulah neuron cermin.

Begitu luar biasa meuron cermin menangkap segala sesuatu ketika si anak masih kecil. Si anak selalu bercermin kepada orang-orang yang dilihatnya.

Begitulah pada anak-anak yang masih kecil sampai dia berumur lima tahun. Lalu, bagaimana sikap terbaik kita ? Berhati-hatilah dalam berprilaku ! Tak hanya itu, berhati-hatilah juga dalam berucap ! Karena yang ditangkap si anak bukan hanya oleh matanya, tapi juga oleh telinganya. Maka yang ibu sampaikan akan jalan.

Arahkanlah ucapan kita pada yang positif. Mengapa ? Karena dia punya neuran cermin. Jika kita berkata, “Main terus,main terus, main terus, main terus” Maka apa yang terjadi ? Dia akan main terus. Jika kita berkata, “Main aja terus, entar lupa nih shalat maghrib.” “Lupa nih shalat magrib! Lupa! Maka apa yang terjadi? Dia akan lupa shalat maghrib. Siapa yang menyuruhnya lupa? Ternyata kita. Mengapa kita tidak mengatakan saja, “Ayo Nak, sudah maghrib. Cukup dulu ya mainnya, shalat Maghrib ya sekarang!”

Tapi Bu Isha, ternyata harus diomongin berulang-ulang.”  Memang Iya. Jangankan pesan, jangankan nasehat, kadang kita memanggil anak laki-laki saja juga berulang-ulang. Iya, kan ? Memanggil anak laki-laki itu berulang-ulang. Memanggil saja berulang-ulang, apalagi menyampaikan pesan.

Ketika saya memanggil anak-anak saya saja, “Lanang !”, “Priyo” “Kakung” “Jaler”, mereka itu engga menengok. Padahal saya memanggilnya sudah cantik banget, sadah lembut. Kenapa anak-anak saya panggil belum menengok ? Karena ketika sistem otaknya konsentrasi, pendengarannya menurun. Nah, ketika kita mulai membentak, barulah anak-anak mau menengok.

Bayangkan, kita panggil namanya saja harus tiga, empat atau lima kali, apalagi kita berikan nasehat. Maka kita tidak usah putus asa. “Ayok Nak, shalat dulu yuk!” “Iya Bun…Iya Bun” Anak menjawab seperti itu setelah kita panggil yang ketiga kali. “Sudah mainnya, Nak? Ayo shalat yuk!” ‘Ayo shalat!” ‘Ayo shalat!” ‘Ayo shalat!”. Kita ucapkan saja seperti itu terus, maka anak akan mendengar, dan pesan itu akan jalan ke badannya. Kemudian badannya akan menariknya. “Ayo Shalat, Nak!” “Ayo Shalat, Nak!” “Ayo Shalat, Nak!” Katakan terus seperti itu! Jika perlu, berikan irama ketika mengajaknya shalat. Agar apa ? Agar otak kanannya bekerja. Jangan pakai suara yang melengking terus. Tapi pakailah irama sedikit. Nah, cara ini sudah saya pakai. Ketika anak-anak saya masih kecil, saya suka memakai cara ini ketika mengajak mereka shalat. “Tang ting tung ting tang ting tung, ayo shalat ayo shalat, sudah maghrib.” Begitulah saya mengajaknya, untuk menstimulus otak kanannya. Begitulah caranya.

Ada juga satu cara lagi…gunakanlah gerak dan benda. Kenapa? Karena otak kanan itu adalah otak benda, otak gerak. Maka ibulah yang gerak. Gelarkan sajadahnya, “Nih ya sayang, ibu gelarkan sajadah.” Si anak pasti akan merasa engga enak. “Ih ibu, engga usah.” Apalagi kalau sedang main game online. Tentu dia engga boleh langsung berhenti, karena akan dianggap pecundang. Oleh karena itu, maka dia izin berhenti terlebih dahulu kepada timnya. Maka kita sampaikan, “nak, pamitnya lima belas menit sebelum adzan ya.” “Iya Bu.” Maka dia akan tetap shalat tepat waktu.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Wallahu A’lam.

Continue Reading

Trending