Sikap Durhaka Seorang Anak Perempuan kepada Ibunya

awal-fto-hhjhj-4.jpg

Pertanyaan :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz –semoga Allah merahmatinya-pernah ditanya oleh seorang wanita bernama Fatimah yang berasal dari Abha, ia mengatakan :

Saya mempunyai saudari seibu. Ia telah menikah dengan seorang lelaki. Dari pernikahannya dengan lelaki tersebut, ia mempunyai seorang anak wanita. Namun, kemudian suaminya menceraikannya. Kemudian saudariku tersebut menikah lagi dengan lelaki lain, sejatinya ia tidak menginginkannya dan kami pun sama tidak menginginkannya, khususnya ibuku. Akan tetapi saudara-saudaranya sebapak, mereka memaksanya untuk menikah dengan lelaki tersebut. Ketika suaminya datang, ibuku menolak untuk menemui putrinya tersebut, dan beliau memerintahkan kepadaku untuk memberikan isyarat kepada saudariku tersebut. Dan, setelah itu, suaminya dan dirinya tinggal tidak jauh dari tempat kami tinggal, namun suaminya tidak memberitahukan hal itu kepada kami. Lalu, ketika ibuku mengetahui hal tersebut, beliau pun mendatangi mereka untuk melihat saudariku tersebut. Namun, saudariku itu (ketika bertemu ibukku) ia mengatakan kepada beliau, “Engkau bukanlah ibuku, karena engkau tidak mendatangiku pada saat aku menikah”. Maka, ibuku pun mengatakan kepada saudariku itu, aku tidak datang kepadamu kali ini melainkan untuk melihatmu dan untuk mengunjungi orang yang masih memiliki hubungan rahim. Tidak lama kemudian, suaminya membawanya (istrinya itu yang merupakan saudariku) ke sebuah kota yang jaraknya cukup jauh dari tempat kami tinggal. Ia telah mengharamkan ibuku untuk melihat putrinya, demikian pula ia mengharamkan kami untuk melihatnya. Ia tidak memberitahukan kepada kami pekerjaan sehari-harinya yang dilakukannya. Ia tidak memberitahukan kepada kami melalaui telpon agar kami dapat menghubunginya kemudian hari atau agar ibuku dapat menghubunginya dan merasa tenang dengan putrinya tersebut. Dan, perlu diketahui pula bahwa saudariku itu telah mengatakan kepada ibuku, ‘ketika aku pergi jauh aku akan menjadikan engkau menangisiku, dan engkaulah yang hendaknya berkirim surat kepadaku.”

Kami berharap yang mulia berkenan memberikan jawaban atas pertanyaanku ini, apa yang hendaknya dilakukan ibuku ? apakah benar ibuku yang berkirim surat kepada saudariku itu. Telah dimaklumi bahwa kedua orang tua memiliki hak atas kami anak-anaknya, dan bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengkhusukan seorang ibu itu lebih berhak (untuk diperlakukan dengan baik) dari seorang ayah. Kami mohon diberi faedah dari Anda, semoga Allah memberikan taufik kepada Anda.

Jawaban :

ala kulli haal, seorang ibu itu memiliki hak yang sangat besar (atas anaknya). Berbauat baik atau berbakti kepadanya merupakan perkara wajib. Berbakti kepadanya lebih agung dari berbakti kepada seorang ayah. Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika ditanya, “ya Rasullullah ! siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik itu ? beliau menjawab, “Ibumu”, beliau ditanya lagai, ‘kemudian siapa lagi ?’ beliau menjawab, ‘ibumu’, beliau ditanya lagai, ‘kemudian siapa lagi ?’ beliau menjawab, ‘ibumu’, beliau ditanya lagi, kemudian siapa lagi ? beliau menjawab, ‘Bapakmu’. Jika demikian, maka seorang ibu memiliki hak ¾ dan seorang bapak memilik 1/4 .

Akan tetapi, putrinya ini (saudarimu itu) ia telah berlaku buruk dalam bertindak, ia pergi begitu saja, tidak menemui ibunya, tidak berpamitan kepadanya dan tidak memberitahukan kepadanya tentang tempat keberadaannya. Maka, tidak mengapa sang ibu –dalam kondisi ini- bila ia tidak berkirim surat kepadanya, karena dirinya tidak tahu tempat keberadaan putrinya tersebut. Maka, tidak mengapa, dalam kondisi ini. Dan, si putrinya tersebut, yang pergi jauh wajib untuk berkirim surat kepada ibunya, bertanya tentang keadaannya, banyak berdoa untuk kebaikan ibunya, dan menyambung hubungan dengannya, ini adalah bagian dari berbuat baik kepadanya. Dan Dosa itu ditanggung oleh si putrinya tesrebut yang kurang dalam memenuhi hak ibunya jika ia tidak menulis (surat) atau berkirim pesan kepada ibunya, atau tidak menyambung hubungan dengannya.

Adapun ibunya, dalam kondisi ini, dia tidak berdosa, karena ia tidak mengetahui tempat keberadaan putrinya tesrebut. Sungguh hak seorang ibu itu sangat besar. Namun, jika sang ibu mencari pahala, menanyakan tentang putrinya tersebut hinngga ia mengetahui tempat keberadaannya, dan menulis pesan kepadanya dan berbicara dengannya melalui telepon, bertanya tentang keadaannya, maka ini adalah amal yang baik dan termasuk bagian dari silaturrahim, dengan demikian ia akan mendapatkan pahala yang besar. Meskipun putrinya kurang dalam memberikan haknya namun ia tidak demikian kepada anaknya, namun justru ia melakukan sesuatu yang lebih baik, karena Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.”

Inilah sebenarnya orang yang menyambung silahturahmi. Orang yang menyambung silaturrahim yang sempurna adalah dia orang yang menyambung hubungan orang yang memutus hubungan dengannya. Oleh karena ini, beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.”

 

Sumber :

“https://binbaz.org.sa/fatwas/27997/”>https://binbaz.org.sa/fatwas/27997/من مسائل عقوق الوالدين

Amar Abdullah bin Syakir

 

 163 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: