Suami atau Istri Mencela yang Lain

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ [الحجرات : 11]

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim (al-Hujurat : 11)

***

Ada sebagian kalangan istri yang lemah iman tidak merasa canggung mencela suaminya. Malah boleh jadi ia mencaci maki suami langsung di hadapannya. Banyak sekali kasus perceraian yang diawali cacian istri kepada suami atau pelecehan terhadap jati dirinya sebagai laki-laki yang bisa membangkitkan kemarahan suami. Sehingga, ia serta merta menceraikan istrinya itu. Masih untung suami tidak memukul dan menyakitinya untuk mengembalikan kehormatannya yang telah diinjak-injak oleh istri.

Umumnya, kasus celaan dan caci maki ini terdengar langsung oleh anak-anak dan tetangga. Sehingga suami menjadi merasa sempit dadanya dan kurang berwibawa di mata anak-anak dan tetangga. Ini menyebabkan satu luka menganga dalam hatinya yang sulit diobati kecuali setelah melewati waktu yang cukup lama. Pun luka tersebut akan tetap termemori dalam ingatannya di kemudian hari.

Sebagian suami juga tak segan-segan mencaci istri, melaknat atau menjelekannya meski lantaran sebab yang sangat sepele. Jelas tindakan seperti ini bukan termasuk pergaulan baik yang diperintahkan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Suami dan istri hendaknya selalu mengingat firman Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-,

لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا [النساء : 148]

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (an-Nisa : 148)

Dan sabda Nabi –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencaci seorang muslim adalah tindakan fasik dan membunuhnya adalah kekufuran (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam

Sumber :

Al-Mafatih Adz-Dzahabiyah li Ihtiwa Al-Musykilat Az-Zaujiyah, Nabil bin Muhammad Mahmud. Dengan sedikit tambahan.

Artikel: <a href=”http://www.hisbah.net”>www.hisbah.net</a>
Ikuti update artikel kami di <a href=”https://www.facebook.com/Hisbahnet” target=”_blank” rel=”noopener”>Hisbah.net</a>
Youtube: <a href=”https://www.youtube.com/user/HisbahTV” target=”_blank” rel=”noopener”>HisbahTv </a>
Instagram: <a href=”https://www.instagram.com/hisbahnet/” target=”_blank” rel=”noopener”>Hisbahnet</a> dan <a href=”https://www.instagram.com/alhisbahbogor/” target=”_blank” rel=”noopener”>Al Hisbah Bogor</a>

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *