Sunnah Jum’at Dan Adabnya

Di antara Sunnah Jum’at dan adabnya adalah:

 

  1. Mandi

Hal ini berdasarkan hadis

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

Dari Ibnu Umar رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi Jum’at, maka hendaklah ia mandi (HR. Malik dan lainnya)

وَعَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمُسَّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ، ثُمَّ يَرُوْحُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يَنْصِتُ لِلْإِمَامِ إِذَا تَكَلَّمَ ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى.

Dari Salman رضي الله عنه , ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda

Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, bercelak atau mengenakan minyak wangi di rumahnya, kemudian ia pergi ke masjid, tidak memisahkan antara dua orang, kemudian ia shalat sebanyak yang dicatatkan untuknya, kemudian ia diam memperhatikan terhadap imam (yang tengah berkhutbah) niscaya diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dan Jum’at lainnya”.(HR. al-Bukhari)

Ini sebagian hadis tentang keutamaan mandi pada hari Jum’at. Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya menjadi dua pendapat, setelah mereka sepakat akan keabsahan shalat orang yang menghadiri Shalat Jum’at tanpa mandi. Sebagaimana dihikayatkan al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr (Lihat, al-Istidkar, 5/23)

Pendapat pertama, bahwa mandi jum’at hukumnya sunnah, bukan wajib. Ini adalah pendapat kebnyakan ulama, dan mereka membawa makna perintah untuk itu kepada anjuran. Berdasarkan beberapa dalil berikut :

Apa yang diriwayatkan oleh al-Hasan dari Samurah bin Jundub dari Nabi , beliau bersabda

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ ، وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

Barangsiapa berwudhu pada hari Jum’at maka itu baik dan barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih utama. (HR. an-Nasai)

Apa yang diriwayatkan oleh imam Muslim setelah menyebutkan perintah mandi (Jum’at), dari Abu Hurairah secara marfu’

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Barangsiapa berwudhu, ia memperbagus wudhunya, kemudian ia mendatangi Jum’at, ia mendengar dan diam memperhatikan (khutbah) niscaya diampuni (dosanya) yang terjadi antara Jum’at tersebut dan Jum’at yang lainnya dan ditambah 3 hari (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

Sisi pendalilannya bahwa tidak disebutkan ‘mandi’ di dalamnya. Karenanya, Ibnu Majah memberikan judul hadis ini dengan, ‘Bab Maa-Jaa-a Fii ar-Rukhshati Fii Dzalika‘, yakni, meninggalkan mandi.

Dan, Ibnu Hajar mengatakan : Ini termasuk hal yang paling kuat yang dijadikan sebagai dalil atas tidak wajibnya mandi pada hari Jum’at (Lihat, Talkhish al-Habir, 2/167)

Dan, imam ash-Shan’aniy mengatakan : dalam riwayat ini terdapat penjelasan bahwa mandi (di hari Jum’at/untuk shalat Jum’at) tidak wajib (Subulussalam, 2/115-116)

Pendapat kedua, Bahwa mandi Jum’at hukumnya wajib. Pendapat ini dihikayatkan dari Abu Hurairah, Ammar bin Yasir, ‘Amru bin Sulaim, dan diriwayatkan dari imam Ahmad, dan ini adalah madzhab Ahli Zhahir (Lihat, al-Istidzkar, 5/17 dan al-Mughniy, 3/225)

Mereka berdalil dengan hadis Abu Sa’id

غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

Mandi Jum’at itu wajib atas setiap orang yang sudah mengalami mimpi basah (yakni, dewasa-pen).

Juga dengan hadis di dalam shahihaian (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Abu Hurairah secara marfu’,

حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيْهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ

Hak atas setiap Muslim untuk mandi sehari dalam setiap tujuh hari, ia membasuh kepala dan badannya pada hari tersebut.

Mereka juga berdalil dengan ‘perintah untuk mandi’ sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar secara marfu’

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi Jum’at maka hendaklah ia mandi (terlebih dahulu)

Pendapat Yang Rojih (Kuat):

Yang nampak bahwa pendapat yang kuat adalah pendapat Jumhur yang mengatakan sunnahnya mandi pada hari Jum’at untuk shalat Jum’at.

 

  1. Berdandan dan Mengenakan Minyak Wangi

Hal ini berdasarkan hadis

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اَلْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَلْبَسُ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِهِ ، وَإِنْ كَانَ لَهُ طِيْبٌ مَسَّ مِنْهُ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy رضي الله عنه dari Nabi beliau bersabda

“Setiap muslim hendaknya mandi pada hari Jum’at, berpakaian dengan baju terbaiknya, dan jika ia memiliki minyak wangi maka hendaknya ia mengenakannya.”

 

  1. Berangkat Gasik Ke Masjid

Para ulama menyukai tindakan berangkat gasik ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang waktunya.

Jumhur (mayoritas ulama) menyukai berangkat gasik itu sejak permulaan siang. Sampai-sampai Imam Syafi’i mengatakan, ‘Kalaulah keluar menuju shalat Jum’at dilakukan setelah shalat Subuh dan sebelum terbitnya matahari niscaya hal itu baik.

Imam Malik berpandangan bahwa berangkat gasik yang disyariatkan adalah berangkat pada waktu zawal, dan tidak disyariatkan untuk berangkat gasik sejak permulaan siang.

Sebab Beda Pendapat:

Di antara sebab mereka berbeda pendapat adalah karena beda pendapat mereka dalam menafsirkan waktu-waktu yang disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ

مَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ اْلأُوْلَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَن ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِكْرَ

Barangsiapa pergi pada waktu pertama, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor Unta. Barangsiapa pergi pada waktu kedua, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor Sapi. Barangsiapa pergi pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor domba bertanduk. Barangsiapa pergi pada waktu keempat, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor ayam. Barangsiapa pergi pada waktu kelima, maka seakan-akan ia telah berkurban dengan sebutir telor. Bila imam telah keluar (untuk berkhutbah) para malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah) (HR. Malik, al-Bukhari dan lainnya)

 

  1. Berjalan Kaki Menuju Masjid

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa membasuh kepalanya dan membasuh seluruh anggota badannya pada hari Jum’at, kemudian ia berangkat gasik dan ia berjalan kaki tidak berkendara, mendekat kepada imam, lalu ia mendengarkan (khutbah dengan seksama) dan tidak melakukan tindakan sia-sia, niscaya baginya untuk setiap langkahnya (pahala) amal setahun, pahala puasanya dan (pahala) shalat malamnya” (HR. Abu Dawud)

Imam an-Nawawi mengatakan :

Imam Syafi’i dan rekan-rekannya serta yang lainnya sepakat bahwa disunnahkan bagi orang yang pergi untuk shalat Jum’at agar berjalan kaki dan tidak mengendarai apa pun dalam perjalanannya, kecuali karena suatu uzur seperti sakit dan yang lainnya (al-Majmu‘, 4/544)

 

  1. Diam Memperhatikan Khutbah

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi bersabda

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ : أَنْصِتْ ، يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Apabila kamu berkata kepada temanmu,’diamlah’, pada hari Jum’at sementara sang imam tengah berkhutbah, maka sungguh kamu telah melakukan kesia-siaan. (HR. al-Jama’ah)

Dari Abu Darda رضي الله عنه, ia berkata: Pada suatu hari (hari Jum’at) Nabi duduk di atas mimbar, lalu beliau berkhutbah kepada orang-orang dan membaca sebuah ayat, sementara di sampingku ada Ubaiy. Aku katakan kepadanya, ‘Wahai Ubaiy, kapankah ayat ini turun ?’. ia enggan berbicara denganku. Kemudian aku bertanya kepadanya. Ia pun tetap enggan berbicara kepadaku sampai Rasulullah turun (dari mimbar). Lalu Ubaiy mengatakan kepadanya (Abu Darda) , ‘Engkau tidak mendapatkan dari (ibadah) Jum’atmu kecuali sesuatu kesia-siaan yang telah engkau lakukan.’ Lalu, setelah Rasulullah beranjak, aku mendatangi beliau, aku katakan kepada beliau hal itu. Lalu, beliau bersabda

صَدَقَ أُبَيُّ ، فَإِذَا سَمِعْتَ إِمَامَكَ يَتَكَلَّمُ فَأَنْصِتْ حَتَّى يَفْرُغَ

Ubay benar, karena itu apabila kamu tengah mendengar imammu tengah berkata-kata (berkhutbah) maka diamlah hingga ia selesai. (HR. Ahmad)

 

  1. Shalat 2 Rakaat Tahiyyatul Masjid Walaupun Sang Imam Tengah Berkhutbah

Berdasarkan hadis Jabir yang diriwayatkan oleh al-Jama’ah dan yang lainnya, bahwa Sulaik al-Ghathafaniy masuk masjid pada hari Jum’at, sementara Nabi ﷺ tengah berkhutbah. Lalu, segera saja ia duduk. Maka Nabi ﷺ mengatakan kepadanya

يَاسُلَيْكُ ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا

Wahai Sulaik!, Bangunlah kamu, lalu shalatlah dua rakaat. Lakukanlah dengan ringkas. Dan ini adalah madzhab Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan para Fuqaha kalangan ahli hadis (Syarh Muslim Li an-Nawawiy, 6/164).

 

  1. Melakukan Shalat Sunnah Sebelum Jum’at dan Sesudahnya

Adapun sebelum Jum’at, maka tidak ada sunnah rawatib, menurut pendapat yang benar dari dua pendapat para ulama. Dan itu adalah pendapat imam Malik, Ahmad-menurut riwayat yang masyhur dari beliau- dan salah satu pendapat dari dua pendapat rekan-rekan imam Syafi’i. Akan tetapi dianjurkan untuk memperbanyak shalat sunnah mutlak. Hal itu berdasarkan hadis Salman, ia bekata, Nabi bersabda

لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمُسَّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ، ثُمَّ يَرُوْحُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يَنْصِتُ لِلْإِمَامِ إِذَا تَكَلَّمَ ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى.

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, bercelak atau mengenakan minyak wangi di rumahnya, kemudian ia pergi ke masjid, tidak memisahkan antara dua orang, kemudian ia shalat sebanyak yang dicatatkan untuknya, kemudian ia diam memperhatikan terhadap imam (yang tengah berkhutbah) niscaya diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dan Jum’at lainnya.(HR. al-Bukhari)

Adapun shalat sunnah setelah Shalat Jum’at, maka telah tetap di dalam Shahihain dari hadis Ibnu Umar, bahwa Nabi biasa shalat setelah Jum’at dua rakaat di rumahnya.

Dan, telah tetap juga di dalam Shahih Muslim dan lainnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ

Apabila salah seorang di antara kalian telah mengerjakan shalat Jum’at maka hendaklah ia shalat setelahnya 4 rakaat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ” Apabila ia shalat di masjid maka ia shalat 4 rakaat, dan jika ia shalat di rumahnya maka ia shalat 2 rakaat. Ibnul Qayyim sependapat dengan beliau, seraya mengatakan, ‘Dan atas dasar ini ditunjukkan oleh hadis-hadis, dan Abu Dawud telah menyebutkan perihal Ibnu Umar, bahwasanya ia apabila mengerjakan shalat (ba’da shalat Jum’at) di masjid, ia shalat 4 rakaat, dan apabila shalat di rumahnya, ia shalat 2 rakaat (Lihat, Zaadul Ma’ad,1/440)

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Al-Jumu’ah Aadaabun Wa Ahkaamun, Dirasah Fiqhiyyah Muqaranah, Abu Mundzir Sami as-Sa’idiy al-Liibiy. Dengan ringkasan

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *