Surat Cinta Seorang Anak Teruntuk Sang Ayah

surat-cinta-untuk-ayah.jpg

Kepada ayahku tersayang…

Izinkanlah aku mengucapkan rasa syukur dan terima kasihku kepadamu yang begitu dalam atas segala usaha yang telah engkau lakukan selama ini dalam mendidik dan menjagaku. Engkau telah berusaha sebaik mungkin untuk meluruskan akhlak dan budi pekertiku, dan senantiasa menganjurkan aku untuk tetap berpegang teguh kepada akhlak-akhlak yang mulia dan budi pakerti yang luhur. Engkau telah benar-benar menjagaku agar aku tidak melakukan kesalahan atau tergelincir ke jalan kesesatan. Akan tetapi, tidakkah engkau ketahui, wahai ayahku, bahwa aku adalah manusia yang tidak akan luput dari kesalahan? bukankah kita semua memiliki kesalahan?

Adakah orang yang seluruh perangainya disenangi?

Cukuplah seseorang itu dikatakan mulia

Jika kesalahannya bisa dihitung jari

Mengapa, wahai ayahku, engkau menjadikan tongkat (pukulan) sebagai cara memberikan pengertian, pukulan sebagai hukuman, dan kekerasan sebagai tengga pendidikan? Wahai ayahku, mengapa engkau terlalu cepat mencaci, padahal engkau tahu bahwa ada satu hikmah yang mengatakan,

Sabarlah, dan jangan terlalu cepat mencaci orang lain.

Bisa jadi ia memiliki alasan, sedang engkau telah mencacinya

Wahai ayahku, mengapa tidak ada kesempatan bagiku untuk mengungkapkan pendapat kepadamu, padahal engkau tahu bahwa ada kata bijak yang mengatakan,

Janganlah menghina pendapat orang kecil.

Sebab, lebah sama dengan lalat,

namun dialah serangga yang dapat menghasilkan madu

Wahai ayahku, mengapa tidak ada harapan bagiku untuk mendapatkan maafmu, padahalah engkau tahu bahwa ada kata bijak yang mengatakan,

Maafkanlah orang yang meminta maaf,

baik dengan ucapan yang lembut atau kasar

Orang yang lahirnya menarik hatimu, akan taat kepadamu

Dan orang yang hatinya membencimu,

akan menyembah-nyembahmu

Lalu mengapa, ayahku, engkau selalu menggunakan cara terakhir di dalam mendidik, dan menganggap bahwa tidak ada solusi bagimu kecuali dengan kekerasan? Mengapa engkau melupakan segala cara selain kekerasan, kebengisan, dan amarah? Dimanakah kelemahlembutan? Kelemahlembutan yang apabila ia berada pada sesuatu, niscaya ia akan menjadikannya mulia, dan apabila ia hilang dari sesuatu ia akan menjadikannya hina. Tidaklah kelembutan itu diberikan kepada keluarga, melainkan ia akan sangat bermanfaat bagi mereka. Di manakah sifat menahan amarah? Padahal engkau tahu bahwa, “ Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia dapat melepaskan amarah itu, niscaya Allah akan menyerunya di atas seluruh makhluk-makhlukNya, kemudian memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih bidadari-bidadari yang cantik untuk dijadikan sebagai istrinya.“

Ayahku tercinta

Sungguh berharap besar darimu. Semoga Allah membukakan hatimu untuk menerima harapan itu. Aku berharap engkau dapat bersikap mudah namun tidak terlalu memudahkan, dan dapat bersikap kuat (tegas) namun tidak berlebihan. Sebab, barangsiapa yang suka memudahkan, lemah lembut, dan penuh kasih sayang, Allah akan mengharamkannya dari api Neraka.

Ayahku

Satu obat tidak akan dapat menyembuhkan seluruh penyakit. Setiap penyakit memiliki obat sendiri, dan setiap kesalahan memiliki hukumannya sendiri.

Meletakkan kelemahlembutan di tempat pedang (kekerasan) sama bahayanya dengan meletakkan pedang (kekerasan) di tempat kelemahlembutan.

Penyembuhan itu dilakukan secara bertahap. Pandanganmu saja, wahai ayahku, telah menjadi hukuman bagiku. Sikap acuhmu padaku sudah sangat menyakitkanku, dan cercaanmu terhadapku sudah cukup untuk meluruskanku. Akan tetapi, mengapa engkau selalu memulai hukuman yang engkau berikan kepadaku dengan cara yang terakhir (kekerasan)? Mengapa engkau tidak menjadikan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai suri teladanmu? Dialah yang mengatakan, “Ajarkanlah, permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang menjauh. Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.”

Sebagai penutup, aku ingin menyampaikan kepadamu, wahai ayahku, bahwa aku masih sangat mencintaimu, dan masih berharap dapat merasakan cintakasihmu. Betapa besar harapanku untuk dapat menjadi anak yang taat dan menjadi anak yang dapat engkau banggakan. Akan tetapi tongkatmu selalu menjadi pemisah antara engkau dan aku; pertengkaran selalau saja memisahkan kesatuan kita; kekerasan selalu menjadi batas yang selalu memisahkan kita. Berjanjilah kepadaku, wahai ayah, bahwa engkau akan selalu bersikap lembut kepadaku. Aku berjanji, jika engkau bersikap lembut dalam memperlakukan aku, aku akan menjadi anak yang selalu berbakti kepadamu. Apabila engkau mendapatkanku nakal, sulit diatur, dan keras kepala, maka doakanlah aku agar Allah memberiku hidayah dan petunjukNya. Aku pun akan mendoakanmu agar Allah selelu memberikan pertolongan kepadamu, taufik, ampunann, dan bimbingan-Nya, sehingga engkau dapat senantiasa berjalan di jalan yang lurus.

Anakmu yang Selalu Kau Pukuli

Sumber :

Kaifa Takuunu Aban Naa-jihan, Adullah Muhammad Abdul Mu’thi (e.id, hal.14-16)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: