Sya’ban, Bulan yang Banyak Dilalaikan

masjid-gelap.jpg

Usamah bin Zaid, berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan. (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Demikianlah kata Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam tentang bulan sya’ban ini, “manusia melalaikannya”, dengan tidak mengisinya dengan banyak ketaatan kepadaNya di antaranya dengan “tidak mengisinya dengan berpuasa pada hari-harinya”, sebagaimana dikatakan oleh Abdurrauf Al-Munawiy di dalam kitabnya Faidhu Al-Qadir. (Lihat, Faidhu-al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir,4/161)

Oleh karena itu, Rasulllah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berpuasa di bulan ini sebegai bentuk contoh perbuatan yang menunjukkan ketidaklalaian seseorang atau sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala. Bahkan, puasa merupakan bentuk ketaatan yang utama. Diantara bentuk keutamaannya, yaitu :

1. Puasa adalah Perisai

Allah akan memberikan pahala yang sangat banyak kepada pelakunya sepanjang hal tersebut ditunaikan secara baik, bau mulutnya lebih wangi daripada aroma minyak kesturi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan jangan pula berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 2. Puasa Merupakan Sarana Penebus Dosa

Rasulullah bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ

Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Tersedia Pintu Khusus di Surga

Rasulullah bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka, sungguh, dengan puasa seorang akan banyak terjaga dari melakukan hal-hal yang melalaikan dirinya kepada Allah ta’ala. Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang muslim meneladani beliau dengan memperbanyak melakukan puasa di bulan sya’ban ini. Mudah-mudahan Allah membimbing kita untuk melakukannya sehingga kita berhap dengannya kita tidak tergolong kebanyakan golongan manusia yang lalai di bulan ini.

Hikmah Memperbanyak Puasa pada Bulan Sya’ban

Pembaca yang budiman, dalam hal memperbanyak puasa di bulan ini yang dilakukan oleh Rasuullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkandung hikmah. Ada yang mengatakan, hikmah dalam hal tersebut adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap bulan Ramadhan. Maka, hal ini menyerupai shalat sunnah sebelum shalat Fardhu, sebagai bentuk pengagungan terhadap haknya. Ada juga yang mengatakan, sebagai bentuk persiapan untuk melakukan puasa Ramadhan, sehingga akan mudah melakukannya. (Minhatu al-‘Allam, 1/70). Wallahu a’lam

Penyusun : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah
Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbahnet

376 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: