Connect with us

safinatun najah

Syarat-Syarat Wajib Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Published

on

Perlu diketahui bahwasannya hukum amar ma’ruf dan nahi munkar berlaku jika telah terpenuhi  syarat-syarat amar ma’ruf dan nahi munkar. Imam Ibnu Nuhhas rahimahullah berkata dalam Tanbihul Ghafilin hal. 33, (“Disyaratkan akan wajibnya amar ma’ruf dan nahi munkar 3 syarat: Islam, Mukallaf, dan Mampu.”), dan berikut penjelasannya:

  1. Islam, karena tujuan amar ma’ruf nahi munkar adalah untuk menegakkan syari’at Allah dan untuk menyuruh manusia melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, dan hal ini tidak boleh dikerjakan oleh seorangpun kecuali oleh seorang muslim.
  2. Mukallaf, dalam artian memiliki akal dan telah baligh. Akan tetapi jika ada anak kecil yang mengingkari kemungkaran, maka hal itu diperbolehkan dan tidak boleh ada seorangpun yang melarangnya, karena perkara itu adalah ibadah dan dia berhak untuk melakukannya walaupun belum wajib atasnya. Demikian pula wajib atas budak dan wanita jika memiliki kemampuan.
  3. Mampu, ini merupakan syarat wajib untuk seluruh ibadah, karena Allah Azza wa Jalla telah menegaskan di dalam firmannya:

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannnya…”

(Al-Baqarah: 287)

Dan juga sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam yang artinya: “semua perkara yang aku larang maka jauhilah dan seluruh perkara yang aku perintahkan maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian…” (Hr. Bukhari dan Muslim).

 MUTIARA HADITS

 مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا عَلَيْهِ فَلَا يُغَيِّرُوا إِلَّا أَصَابَهُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَمُوتُوا

“Tidak ada seorangpun yang berada di tengah-tengah sebuah kaum yang diperbuat di tengah-tengah mereka kemaksiatan, mereka mampu untuk mengubahnya akan tetapi mereka tidak mau mengubahnya kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka siksaan sebelum mereka meninggal.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih sunan Abi Daud 3/819/4339)

Faidah Hadits:

  1. Wajibnya mengingkari perkara-perkara munkar yang dilakukan secara terang-terangan.
  2. Bahaya maksiat, ia merupakan sebab turunnya azab ketika tidak ada seorangpun yang mengingkarinya atau mencegahnya pdahal dia mampu.

CELAAN BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

 

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.(Ali-Imran: 187)

Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menafsirkan: Al-Mitsaq adalah perjanjian yang berat dan tegas. Perjanjian yang Allah ambil ini berlaku umum kepada setiap yang Allah berikan kepadanya kitab dan Allah ajarkan kepada mereka ilmu. Yaitu untuk menjelaskan kepada manusia apa yang mereka butuhkan dan tidak menyembunyikannya, tidak kikir untuk menjelaskannya, khususnya ketika mereka ditanya atau ketika terjadi hal yang mewajibkannya, setiap orang yang berilmu dalam keadaan ini, wajib menjelaskannya dan menerangkan yang haq dari yang bathil. Adapun orang yang diberi taufiq, akan menegakkannya dengan sungguh-sungguh dan mengajarkan manusia apa-apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka, karena mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala, dan sebagai tanda kasih sayang terhadap makhluk, juga karena takut akan dosa, karena menyembunyikan (ilmu). Dan adapun “orang-orang yang diberikan Al-Kitab dari kalangan yahudi, nasrani, dan yang serupa dengan mereka, melemparkan janji-janji ini dibelakang punggung mereka. Mereka tidak peduli dengan janji-janji tersebut. Mereka menyembunyikan kebenaran dan menampilkan kebathilan. Mereka berani melanggar keharaman Allah Subhanahu wa ta’ala, mereka meremehkan hak-hak Allah Subhanahu wa ta’ala serta hak makhluk-Nya. Dengan cara menyembunyikan tersebut, mereka juga membeli kedudukan dan harta benda dengan harga yang sedikit dari para pengikutnya serta orang-orang yang mengutamakan syahwat daripada kebenaran.” “Maka amatlah buruk tukaran yang mereka terima”

KISAH

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama”. Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (Ali-Imran: 41-48)

Allah Subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihisallam telah melarang bapaknya dari perbuatan menyembah tuhan selain Allah, yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat serta tidak dapat memberi manfaat sedikitpun kepadanya. Dan Allah telah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihisallam sebagai suri tauladan yang baik bagi kita, dan memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan juga kepada kita untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihisallam, sebagaimana firman-Nya:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An-Nahl: 123)

Dengan demikian, maka wajib hukumnya bagi setiap pribadi muslim untuk selalu melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya (amar ma’ruf nahi munkar).

DUNIA KLENIK

Masih banyak diantara kaum muslimin yang percaya pada sihir, ramalan, dukun dan dunia klenik. padahal itu termasuk bentuk keimanan pada jibt dan thagut.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا سَبِيلًا

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi  bahagian  dari  Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 51)

Apa yang dimaksud jibt dan thagut?

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir disebutkan perkataan ‘Umar bin Al-Khattab bahwa jibt adalah sihir dan thagut adalah setan.

Ada juga yang menyebut jibt adalah setan, juga dimaknakan syirik, juga dimaknakan ashnam (patung berhala), sebagaimana pendapat dari Ibnu ‘Abbas. Dan Asy-Sya’bi menyatakan bahwa jibt adalah kahin (dukun).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Inilah jeleknya Yahudi dan bagaimanakah hasad mereka pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin. Tingkah laku dan tabiat mereka sangat jelek. Mereka enggan beriman pada Allah dan Rasul-Nya dan lebih memilih beriman pada jibt dan thagut. Yang dimaksud adalah beriman dengan melakukan peribadahan pada selain Allah atau berhukum dengan selain hukum Allah. Maka termasuk di dalamnya adalah percaya pada sihir, ramal atau perdukunan, beribadah pada selain Allah dan taat pada setan. Semua itu termasuk jibt dan thagut.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 179)

Inilah salah satu tugas penting seorang da’i untuk mengingatkan ummat ini dari bahaya tergelincir kedalam kesyirikan. Membentengi ummat ini dengan tauhid dan aqidah yang sahihah, mengingatkan mereka akan pentingnya menjaga aqidah mereka dari segala perkara-perkara yang akan mengotori bahkan merusak aqidah mereka. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan taufiq dan hidayahnya. aamiin.

About Author

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aqidah

Dari Pacaran Hingga Pembunuhan: Satu Kemaksiatan Akan Menarik Kemaksiatan Lainnya

Published

on

Sebuah ketetapan Allah Ta’ala, bahwa Surga dikelilingi dengan amalan-amalan yang tidak disukai oleh nafsu manusia, dan Neraka dikelilingi oleh hal-hal yang diinginkan oleh setiap nafsu insan.

Amalan-amalan surga nampak begitu berat dan membosankan, seperti tahajjud, puasa dan sedekah.

Sedangkan Neraka betul-betul dapat menjerumuskan anak adam dengan segala bentuk kenikmatan yang ditawarkannya, seperti pergaulan bebas dan sebagainya.

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

 “Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).” (HR Bukhari)

Dan fatalnya lagi, maksiat-maksiat ini selain memiliki daya tarik, juga akan menarik satu persatu jenis maksiat lainnya, hingga semuanya dilakukan oleh pelakunya tanpa dia sadari, tanpa dia niatkan di awal.

Misalnya perzinahan.

Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS Al Israa: 32)

Ya, Allah Ta’ala tutup jalannya sedini mungkin, Jangan Dekati!

Tapi bagi yang tidak peduli dengan halal dan haram, pada awalnya dia hanya ingin mengajak bicara wanita asing itu, kemudian dilanjutkan chatting di sosial media, kemudian bertemu dan berkhalwat, terus kemudian syaitan menggoda mereka, pegangan tangan, seterusnya hingga mereka berzina. Dan tidak sampai di situ, jika hamil di luar nikah, maka akan mengaborsi janinnya karena takut malu, bahkan sampai ada yang membunuh si perempuannya juga. Na’udzubillah.

Lihat, bagaimana maksiat pacaran yang awalnya hanya dengan niat sederhana, yaitu kenalan, namun dapat berakhir pada pembunuhan!

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sudah bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

”Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan. Jika terjadi maka, yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad)

Maka tanyakan kepada orang yang aborsi janin, membunuh pacar dan lainnya. Apakah mereka niatkan itu di awal? tentu tidak bukan?

Simak perkataaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala berikut:

العداوة والبغضاء شر محض لا يحبها عاقل، بخلاف المعاصي فإن فيها لذة كالخمر، والفواحش. فإن التفوس تريد ذلك والشيطان يدعو إليها النفوس حتى يوقها في شر لا تهواه ولا تريده. مجموع الفتاوى ٣٤٦/١٥

“Permusuhan dan kebencian merupakan kejelekan yang murni tidak akan disukai oleh orang berakal.

Berbeda dengan maksiat, padanya terdapat kenikmatan, seperti khamr dan zina. Dan jiwa menginginkannya.

Sehingga Syaithan pun menggoda jiwa-jiwa itu kepadanya hingga terjerumus kepada keburukan yang asalnya tidak diinginkan oleh jiwa tadi. (Majmu’ Fatawa 346/15)

Terakhir, ingatlah selalu pesan Allah Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 208)

Pegang teguhlah syariat, barangsiapa bertaqwa dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya maka akan selamat. Dan kebinasaan bagi yang tertipu dengan ajakan syaitan.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan kaum muslimin dari segala kemungkaran dan meneguhkan kita di atas Islam dan Iman.

 

Ditulis oleh:

Muhammad Hadrami Lc

Alumni Fakultas Syariah LIPIA JAKARTA.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading

baru

Fitrahnya manusia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla dan mentauhidkan-Nya

Published

on

By

Fitrahnya manusia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla dan mentauhidkan-Nya

Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan manusia memiliki fitrah beriman kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Manusia itu dilahirkan dalam keadaan mengimani keberadaan Allâh Azza wa Jalla bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.
Seandainya manusia dibiarkan pada fitrahnya yang asli, dia pasti tumbuh menjadi orang yang mentauhidkanNya. [Lihat: Tafsîr al-Baghawi, 3/482; Tafsîr Ibni Katsîr, 3/688; dan Ma’ârijul Qabûl, 1/91, 93]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allâh; (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar-Rûm/30:30]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Semua bayi dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanya menjadikannya beragama Yahudi, Nashrani, atau Majusi. [HR. Al-Bukhâri, no. 1359 dan Muslim, no. 2658]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda meriwayatkan dari Rabbnya, bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

Sesungguhnya Aku (Allâh) telah menciptakan hamba-hambaKu semuanya hanif (lurus; muslim), dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka lalu menyesatkan mereka dari agama mereka. [HR. Muslim, no. 2865]

Oleh karena itu Nabi Adam Alaihissallam, bapak semua manusia dan semua anaknya yang hidup di zamannya adalah orang-orang yang bertauhid.
Keturunan Nabi Adam setelahnya terus berada di atas tauhid sampai datang kaum Nabi Nûh Alaihissallam, setan menampakkan syirik sebagai sesuatu yang bagus kepada mereka dan mengajak mereka menuju syirik, sehingga mereka terjerumus ke dalam syirik.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan, dan Allâh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. [Al-Baqarah/2: 213]
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

كَانَ بَيْنَ نُوحٍ وَآدَمَ عَشَرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْحَقِّ. فَاخْتَلَفُوا، فَبَعَثَ اللَّهُ
النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

Antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam ada sepuluh generasi, mereka semua berada di atas syari’at yang haq, tetapi kemudian mereka berselisih, maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan”. [Riwayat Thabari di dalam tafsirnya, 4/275 dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak, 2/546. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/569]

Dan penyebab perselisihan manusia pertama kali di muka bumi adalah kemusyrikan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nûh Alaihissallam , disebabkan oleh sikap ghuluw (melewati batas) dalam mengagungkan orang-orang shalih.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kaum Nabi Nûh Alaihissallam :

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah (tuhan-tuhan) kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.[Nûh/71:23]
Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum Nabi Nuh di atas, asalnya adalah orang-orang shalih yang telah mati. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Patung-patung yang dahulu ada pada kaum Nabi Nûh setelah itu berada pada bangsa Arab. Adapun Wadd berada pada suku Kalb di Daumatul Jandal. Suwâ’ berada pada suku Hudzail. Yaghûts berada pada suku Murâd, lalu pada suku Bani Ghuthaif di al-Jauf dekat Saba’. Ya’uq berada pada suku Hamdan. Dan Nasr berada pada suku Himyar pada keluarga Dzil Kila’. Itu semua nama-nama orang-orang shalih dari kaum (sebelum-pen) Nuh. Ketika mereka mati, syaithan membisikkan kepada kaum mereka: “Buatlah patung yang ditegakkan pada majlis-majlis mereka, yang mereka dahulu biasa duduk. Dan namakanlah dengan nama-nama mereka!”. Lalu mereka melakukan. Patung-patung itu tidak disembah. Sehingga ketika mereka (generasi pembuat patung) mati, ilmu (agama) telah hilang, patung-patung itu tidak disembah”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4920]

 

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Youtube HisbahTv,
Follow Instagram Kami Hisbahnet dan alhisbahbogor

About Author

Continue Reading

baru

Nahi Munkar Bukan Ditegakkan Dengan Vonis Bid’ah Serampangan

Published

on

Amar Makruf Nahi Munkar merupakan Syiar Islam yang agung, dan merupakan bagian penting dari dakwah.
Dengan tegaknya Amar Makruf maka umat akan selalu berada dalam kebaikan dan mengerjakan amalan-amalan saleh, dan dengan tegaknua Nahi Munkar, maka umat akan jauh dari kekufuran, kesyirikan, dan kemaksiatan serta menjauhinya.

Namun tetap harus diperhatikan, dalam menegakkan syiar yang besar ini, seseorang juga harus membekali diri dengan ilmu yang memadai, agar tidak salah kaprah dalam menarik kesimpulan hukum suatu permasalah dan bagaimana cara menyikapinya.
Berkata Imam Al Kharasyi:

قال الخرشي في شرح المختصر: الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من فروض الكفاية بشروط: أن يكون الآمر عالمًا بالمعروف والمنكر؛ لئلا ينهى عن معروف يعتقد أنه منكر، أو يأمر بمنكر يعتقد أنه معروف، وأن يأمن أن يؤدي إنكاره إلى منكر أكبر منه.

“Hukum Amar Makruf Nahi Munkar adalah Fardhu Kifayah, dan ia disyaratkan: Hendaknya orang yang menyeru itu mengetahui mana yang Makruf dan mana yang Munkar; agar jangan sampai ia melarang dari yang makruf karena mengiranya adalah kemungkaran. Atau menyeru kepada yang munkar karena mengiranya makruf. Atau pengingkarannya terhadap suatu kemungkaran malah justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi”. (Syarah Al Mukhtasar)

Maka seorang dai dan siapapun yang memiliki semangat keislaman agar dapat lebih teliti dan berhati-hati, terlebih lagi banyak amalan-amalan yang nyatanya dibolehkan oleh sebagian Ulama, namun karena disinformasi maka dikira bahwa amalan tersebut tidak boleh dikerjakan.
Simak penuturan Imam Annawawi berikut:

قال الإمام النووي: (إن العلماء إنما ينكرون على ما أجمع على إنكاره، وأما المختلف فيه فلا إنكار فيه، لأن على أحد المذهبين كل مجتهد مصيب، وهذا هو المختار عند كثير من المحققين أو أكثرهم) شرح صحيح مسلم للإمام النووي

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
(Sesungguhnya Ulama hanya mengingkari hal-hal yang telah disepakati akan kemungkarannya. Adapun yang masih diperdebatkan, maka tidak dingkari. Karena pada kedua madzhab itu terdapat Ulama Mujtahid yang bisa jadi benar”. Jadi, inilah pendapat yang dipilih oleh banyak Ulama Muhaqqiq dan bahkan mayoritas mereka”.(Syarah Sahih Muslim)

Maka kemudian, jika ternyata amalan tersebut termasuk ke ranah ijtihadiyyah, dibolehkan oleh Ulama, maka para pelakunya tidak boleh divonis dengan sebutan Ahlul Bid’ah!
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mengatakan hal yang senada:

فلا يصح لأحد أن يبدِّع أحداً أو يخطئه بناء على مخالفته قول أحد علماء السلف حتى يثبت أنه إجماع السلف، أو أن هذا القول دل عليه الكتاب والسنة؛ فإن من أقوال سلف الأمة وأئمتها ما خالف الثابت في الكتاب والسنة، وهم في ذلك معذورون، إذ لا يسلم من الخطأ أو الغفلة بشر.
( مجموع الفتاوى (3/349)

“Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk membid’ahkan orang lain atau menyalahkannya karena berbeda dengan pendapat salah satu Ulama Salaf sampai dibuktikan bahwa orang tersebut melanggar pendapat Salaf yang merupakan Ijma’, atau pendapat tersebut berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Yang demikian karena terdapat dari pendapat para pendahulu dan Imam-imam Salaf yang bersebrangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah , Namun mereka mendapatkan uzur (atas ijtihadnya), karena tidak ada satupun yang dapat terbebas dari kesalahan ataupun dari tergelincir dari keburukan”.(Majmu Fatawa 349/3)

Maka hendaklah setiap dari kita mengukur kembali keilmuan masing-masing, dan terus menambahnya, sehingga jadilah dakwah betul-betul mengajak manusia dengan hikmah, bukan semangat tanpa arah.
Karena sebagaimana yang sudah disebutkan Imam Al Kharasyi di awal, ditakutkan sikap serampangan ini justru akan menjadi bumerang, akan mendatangkan masalah yang lebih besar dari sebelumnya, dan semakin mencoreng nama baik dakwah dan Ahlussunnah wal Jamaah.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah-Nya.

Muhammad Hadrami, LC

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Youtube HisbahTv,
Follow Instagram Kami Hisbahnet dan alhisbahbogor

Klik iklan yang ada di website.
Dengan mengklik iklan yang ada diwebsite, berarti anda telah membantu oprasional dakwah kami. Jazakallahukhoiron.

About Author

Continue Reading

Trending