Connect with us

Syubhat

Syubhat Shalat 1: Shalat Itu Denda yang Harus Dibayar

Published

on

Syubhat :

Apakah shalat itu denda yang harus dibayar seseorang seperti halnya membayar sebagian pajak secara zhalim?

Bantahan :

Tidak, wahai sahabatku! Shalat bukanlah denda materil yang harus dibayar, bukan pula pajak harta yang harus dipungut, tetapi ia adalah amanah (yang ada padamu) dan dilihat Pemiliknya setiap hari sebanyak lima kali. Lalu Dia bersaksi bahwa kamu setia, jujur, ikhlas dan menjaga hak-hak-Nya, kemudian memberimu imbalan sebesar-besar pahala, karena sudah merawatnya dengan baik.

Benar, ia bukanlah pajak, denda atau pun upeti. Ia hanyalah pengakuan terhadap hak, refleksi syukur terhadap suatu kebaikan, bukti kejernihan jiwa dengan berlaku taat terhadap para pemimpin dan melaksanakan perintah-perintah mereka [Maksudnya adalah simbol ketaatan kepada pemimpin, dimana seorang makmum senantiasa mengikuti gerakan imam di dalam shalat, dan tidak sekalipun menyelisihinya, ed.] serta ungkapan rasa cinta dan penghargaan (terhadap sesama Muslim) -semata karena Allah subhaanahu wata’ala- yang telah berpadu di dalam hati.

Bagaimana pendapatmu, wahai teman, andaikata ada seseorang menyodorkan kepadamu sebuah permen, membantu mengangkat barang-barangmu, menunjukan jalan, membantumu mendorong mobilmu yang mogok, atau mengambilkan sesuatu yang jatuh darimu? Bukankah kamu akan mengatakan, ‘Terima kasih,’ menghormatinya, menghargai perbuatannya dan berharap dapat membalas kebaikannya dengan sebaik mungkin? Benar, aku juga manusia sepertimu, senantiasa mengingat dan tidak mengingkari jasa baik (seseorang kepadaku), serta berterima kasih atas hadiah yang (aku terima). Semakin besar jasa baik yang aku dapatkan, semakin besar pula rasa terimakasihku.

Siapakah yang sanggup memberikan nikmat seperti Allah subhaanahu wata’ala? Yang menganugerahiku akal dan panca indera, melimpahkan rizki yang baik bagiku, menganugerahkan kesehatan dan keselamatan, memberiku petunjuk kepada agama yang benar, memberiku anak dan keluarga, dan menempatkanku di ladang kebaikan di tengah para sahabat yang mulia dan tetangga yang baik?

Tidak, sekali-kali tidak ada di dalam kehidupan ini yang berbuat baik kepadaku seperti kebaikan Allah subhaanahu wata’ala. Tidakkah seharusnya aku harus mensyukuri semua nikmat-nikmat ini, karena selama ini pun aku juga berterima kasih kepada selainNya yang memberikan kebaikan yang jauh lebih sedikit dari itu kepadaku? Tidak diragukan lagi, kamu pasti setuju dan mendukungku tentang rasa syukurku kepadaNya, bahkan memaksaku bila aku berbuat kurang optimal dalam melakukannya. Sebab kamu tidak menginginkanku menjadi manusia yang tidak pandai membalas budi dan mengingkari kebaikan.

Sesungguhnya, rasa syukur secara umum selaras dengan nilai sebuah hadiah dan kedudukan pemberi hadiah. Rasa terima kasihku kepada orang yang menyodorkan sebuah permen kepadaku, tidaklah sama dengan rasa terima kasihku kepada orang yang menyodorkan kepadaku sekaleng permen. Ucapanku kepada anak kecil yang mengambilkan penaku yang terjatuh dariku tidak sama dengan ucapanku kepada seorang pembesar yang mengambilkannya untukku.

Sifat yang dicintai Allah subhaanahu wata’ala dariku dalam mensyukuriNya atas segala nikmatNya adalah dengan cara meletakkan dahiku di atas tanah, sebagai pengakuan atas RububiyahNya (keberadaanNya sebagai Sang Pencipta), penyucian atas UluhiyahNya (keberadaanNya sebagai satu-satunya sesembahan yang haq) dan pengakuan atas Ihsaan (kebaikan)Nya. Sesungguhnya manusia menundukkan diri di hadapan thaghut-thaghut yang menjadi berhala mereka, padahal realitanya tidak memiliki jasa baik apapun terhadap mereka, bahkan thaghut-thaghut itu ia menyesatkan mereka dari kebenaran dan petunjuk.

Kebanyakan mereka membungkuk di hadapan para pemimpin mereka sebagai penghormatan dan pengagungan, padahal bisa jadi mereka itu adalah makhluk Allah subhaanahu wata’ala yang paling buruk. Lalu kenapa aku tidak merundukkan badan kepada Allah subhaanahu wata’ala, Pemilik kekuasaan, Pencipta alam semesta, Rabb langit dan bumi, Yang memberikan manfaat dan menimpakan mudharat, Yang memberi dan mencegah, Yang menghidupkan dan mematikan, dan Yang mengadakan perhitungan terhadap hal yang sekecil dan sebesar apapun?. Wallahu a’lam.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

 


Artikel: www.hisbah.net

Gabung juga di Fans Page hisbah.net

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Pelajaran Kisah Pezina Dan Seorang Ahli Ibadah

Published

on

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwa Rasulullah ﷺ bersabada, “Tidaklah berbicara ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya : Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada zaman Juraij.”

Juraij adalah seorang laki-laki ahli ibadah, dia membangun sendiri tempat ibadahnya. Ceritanya, pada suatu hari di saat ia sedang shalat ibunya memanggil, ‘Wahai Juraij.’ Juraij berkata. ‘Ya Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku atau aku meneruskan shalatku ?’ Juraij meneruskan shalatnya. Lalu ibunya pergi.

Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia sedang shalat lagi. Sang ibu memanggil, ‘Wahai Juraij !’ Juraij mengadukan kepada Allah, ‘Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan shalatku ?’ Tetapi Juraij meneruskan shalatnya.

Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!’

Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut ketekunan ibadah Juraij. Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang sangat cantik berkata, ‘Jika kalian menghendaki, aku akan memberinya fitnah.’

Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan menggodanya. Tetapi Juraij tidak memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan hamil.

Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, ‘bayi ini hasil perbuatan siapa ?’ Pelacur itu menjawab, ‘Juraij’. Maka mereka mendatangi Juraij dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij, mencacimaki dan merobohkan tempat ibadahnya.

Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini ?’ Mereka menjawab,’Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya, mana sekarang bayi itu ?’ Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut.

Juraij berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat !’ Lalu Juraij shalat. Selesai shalat Juraij menghampiri sang bayi lalu mencoleknya di perutnya seraya bertanya,’Wahai bayi, siapakah ayahmu ?’ Sang bayi menjawab, ‘Ayahku adalah seorang penggembala.’

Serta merta orang-orang pun berhambur, menciumi dan meminta maaf kepada Juraij. Mereka berkata, ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadah untukmu dari emas!’ Juraij menjawab,’Jangan! Cukup dari tanah saja sebagaimana semula.’ Mereka lalu membangun tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki Juraij.

Ketika ibu si bayi memangku anaknya untuk disusui, tiba-tiba lewat seorang lelaki menunggang kuda yang gesit, gagah dan tampan rupa. Maka ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.’ Tiba-tiba bayi itu melepaskan tetek ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda tersebut seraya berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.’ Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan melanjutkan hisapan susunya.”

Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, ‘Seakan-akan aku melihat Rasulullah ﷺ menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jari telunjuknya di mulut lalu mengisapnya.

Lalu lewat serombongan orang membawa wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Mereka menuduh, ‘Kamu telah berzina, kamu telah mencuri !’ Sementara hamba sahaya perempuan itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai pelindungku!’

Melihat kejadian ini, sang ibu berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.’ Maka bayi itu meninggalkan tetek ibunya dan melihat ke tempat wanita hamba sahaya tersebut sambil berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.’

Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata kepada anaknya, ‘Di belakangku berlalu seorang penunggang kuda yang gagah dan tampan, lalu aku berkata, ‘Ya Allah, jadikan anakku seperti dia.’ Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.’ Lalu berlalu di hadapanku, wanita hamba sahaya dan mereka memukulinya serta mengatakan bahwa ia telah berzina, ia telah mencuri! Melihat hal ini, aku berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.’ Lalu engkau berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku seperti dia.’

Maka bayi itu menerangkan kepada ibunya, ‘Wahai ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang tampan itu adalah orang yang sangat sombong. Maka aku berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia!, Sedangkan terhadap hamba sahaya wanita itu, yang orang-orang berkata, ‘Kamu berzina, padahal dia tidak berzina, kamu mencuri padahal dia tidak mencuri.’ Maka, aku berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.’ (HR. Al Bukahri, 3436 dan Muslim, 2550)

Pelajaran yang dapat dipetik :

  1. Kewajiban birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) terutama ibu, dan bahwasanya jika ia menyumpahi anaknya maka akan dikabulkan.
  2. Allah menyelamatkan seseorang dengan ketakwaan dan keshalihannya.
  3. Jika suatu urusan nampak tumpang tindih, hendaknya memprioritaskan yang terpenting kemudian yang penting.
  4. Disunnahkan berwudhu terlebih dahulu sebelum berdoa untuk hal-hal yang penting.
  5. Wudhu sudah dikenal umat dan disyariatkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ.
  6. Penetapan karamah para wali, yang bisa diperoleh melalui ikhtiar atau usaha mereka.
  7. Bersikap lemah lembut dan sayang kepada murid ketika memberikan pendidikan kepadanya.
  8. Orang yang memiliki kepercayaan yang tinggi kepada Allah tidak mudah termakan fitnah.
  9. Boleh melakukan ibadah yang banyak/secara maksimal bagi yang mengetahui bahwa dirinya mampu.
  10. Orang yang biasa berbuat keji tidak akan memperoleh penghormatan.
  11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan kepadanya suatu tuduhan hendaknya segera menghadap Allah dengan shalat.
  12. Menjelaskan keyakinan Juraij yang sangat tinggi begitu pula harapannya kepada Allah untuk memperoleh pertolongan-Nya. Sehingga ketika ia meminta anak bayi berbicara, Allah mengabulkannya. Padahal sebagaimana biasanya yang namanya bayi tentu belum bisa bicara.
  13. Sombong dan membanggakan diri adalah perbuatan tercela, demikian pula orang yang sombong dan zhalim, mereka semua dicela.
  14. Orang yang dizhalimi mempunyai kedudukan dan kelebihan di sisi Allah. Jika tidak demikian tentu tidak ada kebaikannya seorang anak yang masih menyusu ingin menjadi seorang pembantu yang rendah hati.
  15. Seseorang boleh membatalkan shalat sunnahnya manakala dipanggil orang tuanya untuk melakukan sesuatu yang syar’i.
  16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu tuduhan tanpa bukti.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Sittuna Qishshah Rawaha An Nabiy Wa Ash Shahabah Al Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, ei, hal. 37-40.

 

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading

Akhlak

Sistem Ekonomi Riba Sistem Ekonomi Tercela

Published

on

Sebenarnya, sistem ekonomi riba adalah sistem ekonomi yang tecela apabila dilihat dari segi ekonomi murni. Keburukan sistem riba juga semakin bertambah setelah aib-aibnya dijelaskan oleh beberapa profesor dari bangsa Barat sendiri. Padahal, mereka tumbuh besar di bawah naungan sistem ini. Selain itu, pikiran dan budaya mereka telah banyak terpengaruh oleh racun sistem riba yang disebarkan para pemilik modal di setiap ranah kebudayaan, konsepsi dan moral.

Salah satu ahli ekonomi yang memelopori kritik terhadap sistem riba dari sudut pandangan ekonomi murni adalah Dr. Schacht yang berkebangsaan Jerman. Ia adalah mantan direktur Bank Reichs Jerman. Pada salah satu kuliah umumnya di Damaskus pada tahun 1953, dengan menggunakan logika matematika yang terukur, ia menjelaskan bahwa semua aset harta kekayaan di bumi menjadi milik segelintir lintah darat pemakan riba. Hal itu menunjukkan bahwa orang yang memberi pinjaman utang dengan praktek riba selalu mendapat untung finansial di dalam semua proses transaksi. Sementara itu, orang yang berutang tidak akan mendapat untung sama sekali dan selalu merugi.

Oleh karena itu, semua harta pada akhirnya-secara hitungan matematis-pasti selamanya menjadi milik orang yang memperoleh keuntungan. Teori ini dalam perjalanannya masih perlu diverifikasi secara sempurna.

Sesungguhnya, sebagian besar kekayaan di dunia pada masa sekarang ini dimiliki-dengan kepemilikan hakiki-oleh segelintir orang saja. Adapun semua pemilik dan pengelola industri yang berutang kepada bank-bank konvensional, para buruh, dan kepada selain mereka, hakikatnya para debitur tersebut bekerja hanya untuk memenuhi kepentingan para pemodal. Segelintir orang itulah yang memanen buah usaha keras mereka.

Tidak hanya ini saja kejahatan yang ada pada sistem riba. Berdirinya sistem ekonomi di atas fondasi riba membuat relasi antara pemodal dan pekerja di dalam pasar dan industriy hanya sebatas relasi perjudian (spekulatif), perselisihan, dan pertentangan yang berkesinambungan. Praktisi riba akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keuntungan melalui bunga pinjaman yang paling besar. Oleh karena itu, ia menahan hartanya hingga kebutuhan pemilik perdagangan dan industri terhadap praktisi riba semakin bertambah besar karena kebutuhan tambahan modal. Jika sudah demikian, para pemodal akan meningkatkan nilai suku bunga.

Dia terus-menerus menaikkan suku bunga, sehingga para pelaku pasar dan industri sama sekali tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan dari penggunaan modal ini. Hal ini karena mereka tidak sanggup untuk mengembalikan pinjaman modal tersebut dan tidak ada keuntungan sama sekali bagi mereka.

Pada saat itu, menyusutlah jumlah modal yang bisa dipakai dalam sektor-sektor yang menjadi tempat kerja jutaan orang. Lalu, menyempitlah sirkulasi produksi industri dan terjadilah pemutusan hubungan kerja. Imbasnya, terjadilah penurunan daya beli masyarakat. Ketika keadaan itu sudah sampai pada batas ini dan para pelaku praktek riba mendapati permintaan modal sudah berkurang atau berhenti, mereka kembali menurunkan tingkat suku bunga secara paksa. Maka, para pekerja di pabrik-pabrik dan pasar-pasar diterima bekerja kembali. Kehidupan pun kembali berputar dengan tenang.

Seperti inilah siklus ekonomi global berputar. Orang-orang terus bernaung dan berbutar-putar di bawah kendali pemilik modal layaknya binatang ternak. Kemudian, semua konsumen secara tidak langsung membayar pajak kepada para pengusaha pelaku riba. Hal ini dikarenakan para pelaku industri (pengusaha) dan para pedagang tidak membayar bunga dari modal yang mereka pinjam dengan sistem riba, kecuali uang itu dari kantong-kantong para konsumen.

Setelah itu, mereka manaikkan harga berbagai komoditas konsumtif. Kemudian, membebankan biaya kenaikan harga komuditas tersebut kepada masyarakat. Pada akhirnya, keuntungan yang didapatkan akan masuk ke kantong para pengusaha pelaku riba.

Begitu juga dengan utang-utang yang dipinjam oleh pemerintah dari berbagai Bank dalam rangka mewujudkan berbagai perbaikan dan proyek-proyek konstruksi. Pemegang peran penting dalam urusan ini adalah orang-orang yang mengalirkan bunga dari utang-utang tersebut (sebagai keuntungan) bagi institusi-institusi yang menjalankan riba. Kalau sudah demikian, pemerintahan-pemerintahan ini terpaksamenaikkan berbagai pajak untuk menanggulangi dan melunasi utang-utang ini beserta bunganya.

Dengan demikian, pada akhirnya setiap individu ikut andil dalam membayar pajak tersebut kepada para pengusaha pelaku riba. Hal itu tidak mungkin berhenti hanya pada batasan ini (yaitu masalah pelunasan berbagai utang dan bunganya). Tidak ada ujung dari masalah utang piutang ini, kecuali pada akhirnya terjadi penjajahan (secara tidak disadari, ed). Kemudian akan timbul peperangan dari penjajahan ini.

Kami (penulis) di sini –di dalam tafsir Fi Zhilali al-Qur’an– tidak membahas secara detail semua keburukan sistem riba karena hal ini sudah masuk dalam wilayah pembahasan tersendiri. Kami cukupkan pembahasannya sampai di sini supaya kita bisa sampai pada kesimpulan yang bisa memperingatkan hakikat riba kepada orang-orang yang ingin menjadi muslim sejati.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Tafsiir Aayaat ar-Riba, Sayyid Quth Ibrahim Husayn asy-Syadzili, (ei, hal.23-28)

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading

baru

Hubungan Di Luar Nikah Dianggap Bukan Zina?

Published

on

Seluruh Kaum Muslimin, baik muda maupun tua, lelaki ataupun wanita, atau awam sekalipun, apalagi kaum berilmunya, tidak ada satupun yang menolak keharaman zina dan kekejiannya, mengapa? Karena larangan itu dating dari Allah Ta’ala dengan ayat yang jelas dan dapat dipahami oleh awam sekalipun, yaitu Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا


Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“. (QS Al Israa: 32)

 


Adapun jika ada yang berargumen bahwa sebagian Kaum Muslimin ada yang berzina, maka argument tersebut merupakan kesalahan dalam berfikir dan menyusun logika, mengapa? Karena yang menjadi tolak ukur adalah sumber pelarangannya, yaitu syariat Islam, sebagai subjeknya, bukan oknum perorangan yang merupakan objek. Oleh karena itulah ketika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang dari perbuatan zina, maka selanjutnya diterapkan hukuman bagi yang melanggar, yaitu hukuman cambuk bagi pezina lajang, dan rajam bagi pezina yang sudah pernah menikah.


Allah Ta’ala berfirman tentang hukuman cambuk:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ


Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “. (QS An Nur: 2)

 


Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hukuman rajam:

البكْر بالبِكْر جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة والثّيّبُ بالثّيّبِ ، جَلْدُ مائة والرّجْم


Artinya: “Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam“. (HR. Muslim)

 


Maka dari itu, setelah melihat gamblang dan jelasnya aturan tentang pengharaman zina di Islam, maka rasanya tidak mungkin akan ada yang datang dan menyatakan bahwa zina dibolehkan selama tidak dilakukan di depan orang lain atau tidak melakukan hubungan sejenis, wal ‘iyadzu billah. Namun kita dikejutkan oleh sebuah Disertasi yang menyatakan hal tersebut, sungguh suatu hal yang memalukan nama pendidikan Islam.

 


Terakhir, kita menyeru kepada siapapun yang menyatakan demikian atau setuju dengannya untuk segera bertaubat, karena beda hukuman bagi orang yang berzina karena dasar kelalaian dan kurangnya iman sehingga terjerumus ke dalam lubang maksiat itu, dengan orang yang menyatakan bahwa zina tersebut boleh dan legal, maka yang demikian terancam kafir dan keluar dari Islam, dan terancam hukuman mati dalam Islam jika tidak bertaubat.


Allah Ta’ala berfirman tentang ancaman menghalalkan apa yang haram:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. [an-Nahl /16 : 116-117]


Semoga Allah Ta’ala segera mengembalikan saudara-saudara kita yang tersesatkan oleh akalnya agar kembali ke hidayah-Nya, dan sepenuhnya berserah diri kepada Allah Ta’ala dalam beragama, dengan tunduk kepada dalil-dali Agama bukan akal pikiran apalagi hawa nafsu belaka.


ustadz : Hadromi

Continue Reading

Trending