Tafsir Surat Al-Fatihah (2)

perahu-kuning.jpg

Alhamdulillah, pada tulisan yang lalu kita telah membahas surat al-Fatihah ayat yang pertama. Selanjutnya, marilah kita  bahas ayat selanjutnya. Allah jalla wa ’ala berfirman,

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Firman-Nya,

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  (Maha Pemurah lagi Maha Penyayang),  keduanya adalah sifat Alloh dan dua di antara nama-nama Alloh yang baik. Keduanya berasal dari kata ”

(رحمة)

Rohmah” yang diungkapkan dengan bentuk superlatif. Kata, “Arrohman” lebih luas cakupan maknanya dari pada kata, “Ar Rahim”  karena, kata, “ar Rahman” yaitu Dzat yang memilki rahmat yang menyeluruh kepada semua makhluq di dunia, dan bagi orang-orang yang beriman di akhirat. adapun Ar Rahiim,  Dzat yang memiliki rahmat (yang diberikan secara khusus) kepada orang-orang yang beriman kelak pada hari kiamat. Inilah yang menjadi pendapat kebanyakan para ahli ilmu. Di dalam perkataan ibnu Jarir terdap sesuatu yang bisa dipahami adanya kesepakatan para ulama dalam masalah ini.  Di dalam sebagian penafsiran para salaf terdapat sesuatu yang menunjukkan demikian sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir. Dan yang menunjukkan hal tersebut adalah atsar yang diriwayatkan dari Isa sebagaimana disebutkan oleh ibnu Katsir dan yang lainnya bahwa Isa (semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadanya dan kepada nabi kita Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam) mengatakan, “Arrohman” Rohmanuddunyaa wal Akhiroh dan “Arrohiim” rohiimul aakhiroh.  Alloh telah memberikan isyarat kepada apa yang telah kita sebutkan ini, seraya berfirman,   { ثُمَّ استوى عَلَى العرش الرحمن }

[ الفرقان : 59 }

( kemudian dia bersemayam di atas Arsy: Qs.al Furqon : 59),

{ الرحمن عَلَى العرش استوى } [

طه : 5 ] ( (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy, Qs.Thaha :5), Alloh menyebutkan istiwa (bersemayam) dengan nama-Nya Ar Rohmaan, untuk melingkupi seluruh makhluq-Nya  dengan rahmatNya, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Katsir. Dan sepertinya juga adalah firmanNya,

  { أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطير فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلاَّ الرحمن } [ الملك : 19 ]

  (Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah). yakni: bentuk sifat kemurahannya adalah kelembutanNya terhadap burung. Penahanannya saat pengembangan dan penutup sayapnya di langit. Di antara dalil yang sangat nampak dalam hal tersebut adalah firmanNya,

{ الرحمن عَلَّمَ القرآن } [ الرحمن : 1-2 ]

(  (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Quran ) hingga firmanNya,

{ فَبِأَيِّ آلاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ } [ الرحمن : 13 ]

( Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) dan Dia berfirman,

{ وَكَانَ بالمؤمنين رَحِيماً } [ الأحزاب : 43 ]

(Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman) Allah mengkhususkan mereka dengan namaNya, “Ar-rahmaan”. Jika dikatakan, “bagaimanakah mungkin dilakukan pengkompromian antara apa yang kalian baca dengan Doa yang ma’tsur dari perkataan shallallohu ‘alaihi wasallam,”

« رحمان الدنيا والآخرة ورحيمهما »

(Maha Pemurah di dunia dan akhirat, dan Maha Penyayang di dunia dan akhirat) maka yang nampak dalam jawaban – Wallohu a’lam- adalah bahwa Ar-Rahim khusus terhadap orang-orang yang beriman, seperti yang telah kami sebutkan, tetapi Alloh tidak mengkhusukan mereka hanya di akhirat, bahkan pemberian rahmatNya kepada mereka di dunia juga. Dengan demikian maka makna

رحيمهما

(Maha Penyayang di dunia dan akhirat) adalah rahmatNya yang diberikan kepada orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat. Dan, termasuk juga dalil yang menunjukkan pemberian sayangNya kepada orang-orang yang beriman di dunia adalah bahwa hal tersebut merukan hal yang zohir dari firman Allah ta’ala,

{ هُوَ الذي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلاَئِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظلمات إِلَى النور وَكَانَ بالمؤمنين رَحِيماً } [ الأحزاب : 43 ]

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Qs.al Ahzab: 43).

Karena pemberian rahmatNya kepada mereka demikian pula permohonan malaikat kepada Allah agar memberikan ampunan kepada mereka, dan dientaskannya mereka oleh Allah dari kegelapan kepada cahaya merupakan bentuk kasih sayang-Nya di dunia disamping hal tersebut merupakan sebab rahmatNya di akhirat. Demikian pula firmanNya,

 { لَقَدْ تَابَ الله على النبي والمهاجرين والأنصار الذين اتبعوه فِي سَاعَةِ العسرة مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ } [ التوبة : 117 ]

(Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, (Qs.at Taubah : 117) karena sesungguhnya disebutkan disini dengan menggunakan huruf “Baa” yang terhubung dengan “Ar-Rahiiim” yang menyebabkan majrur zhomir (kata ganti) yang terjadi atas Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, orang-orang Muhajirin dan orag-orag Anshor, dan penerimaan taubatNya atas mereka merupakan bentuk rahmat di dunia, meskipun hal itu juga merupakan sebab diperolehnya kasih sayangNya di akhirat. Allahu a’lam.  (Abu Umair)

[Sumber : Adzwaul Bayaan, Syaikh Muhammad Amin asy Syinqithi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: