Tafsir Surat al ‘Ashr (2)

perahu-kuning.jpg

Pembaca yang budiman…

Bagian pertama dari tulisan ini telah kita kaji firman Allah tabaraka wata’ala ayat pertama, kedua dan setengah dari ayat yang ketiga dari surat al Ashr. Dengan memohon pertolongan Allah ta’ala pada tulisan bagian kedua ini akan kita lanjutkan pada ayat berikutnya, yaitu bagian kedua dari ayat yang ketiga. Namun, ada baiknya kita mengingat kembali beberapa poin penting dari apa yang telah kita kaji pada bagian pertama.

Ikhwatal iman, Saudaraku seiman,

Diantara poin penting yang telah kita sebutkan yaitu:

  1. Allah bersumpah dengan waktu
  2. Allah menegaskan bahwa manusia itu merugi alias tidak beruntung baik di dunia maupun di akhirat, kecuali orang yang;
  3. Beriman kepada apa-apa yang Allah perintahkan untuk diimani. Menjaga imannya dengan tidak mencampuradukkannya dengan kesyirikan.
  4. Mengerjakan amal shaleh, yaitu amal yang diridhoi oleh Allah ta’ala, meliputi segala amal baik menurut Allah dan Rosul-Nya. Dilakukan dengan ikhlas, beriman dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pembaca yang budiman…

Selanjutnya Allah tabaraka wata’ala berfirman,

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

(dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran).

Inilah sifat ketiga yang jika seseorang menghiasi dirinya dengan sifat ini, niscaya ia tidak termasuk golongan manusia yang merugi. Artinya, ia akan menjadi orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat.

Pembaca yang budiman…

Ayat ini –wallahu a’lam– memberikan isyarat agar seseorang saling mengingatkan satu dengan yang lainnya akan kebenaran yang dengan itu seseorang akan mendapatkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Juga mengisyaratkan bahwa saling mengingatkan adalah hal yang sangat penting karena seseorang –sebagaimana telah menjadi tabiatnya– seringkali lupa atau bahkan terlupakan oleh karenanya penting untuk diingatkan supaya tersadar. Sekaligus hal itu menunjukkan bentuk kasih sayang antara kedua belah pihak. Bagaimana tidak?! bukankah orang yang mau menyampaikan nasehat supaya orang yang dinasehati menetapi kebenaran ia menginginkan agar orang tersebut berjalan di atas kebenaran karena itulah yang akan menyelamatkannya, ia menginginkan keselamatan orang lain –di samping keselamatan dirinya– ini menunjukkan salah satu bentuk kasih sayangnya? Ya, tentu itulah jawabannya.

Pembaca yang budiman…

Firman Allah tabaraka wata’ala,

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

(dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran).

Kita dapati dalam kitab-kitab tafsir, salah satunya adalah

معالم التنزيل

yang dikarang oleh al-Baghawi –rahimahullah– (wafat tahun 516 H) adanya perbedaan pendapat mengenai yang dimaksudkan dengan “

بِالْحَقِ

” dalam ayat ini, beliau menyebutkan bahwa ada yang berpendapat, “

بِالْحَقِ

yakni:  

بالقرآن

, ini adalah pendapat al-Hasan dan Qotadah. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan “

بِالْحَقِ

yakni:

بالإيمان والتوحيد

. Manakah dari kedua pendapat ini yang benar?

Pembaca yang budiman…

Jika kita renungkan kedua pendapat tersebut, niscaya kita akan mendapati bahwa keduanya adalah benar. Mari kita renungkan sejenak kedua pendapat tersebut…!!!

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan

بِالْحَقِ

dalam ayat ini yaitu:

بالقرآن

(dengan al Qur’an). Sebatas pemahaman penulis, hal ini benar. Mengapa? Di antara alasannya, adalah bukankah al-Qur’an merupakan wahyu yang bersumber dari Dzat yang Maha Benar. Bukankah itu berarti bahwa apa yang ada didalamnya terjamin kebenarannya. Bukankah jika orang mengamalkannya akan mendapatkan keberuntungan, terbebas dari kerugian karena ia mengamalkan kebenaran?

Adapun pendapat kedua, yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan

بِالْحَقِ

dalam ayat ini yaitu:

بالإيمان والتوحيد

(dengan keimanan dan tauhid),  sebatas pemahaman penulis, pendapat ini benar juga. Mengapa? Di antara alasanya adalah bukankah bila seseorang menetapi keimanan yang benar, ia mentauhidkan Allah ta’ala, ia mengesakan Allah ta’ala yang dibuktikan dengan hanya beribadah kepadaNya semata, tidak mencampuri keimanannya dan ibadahnya tersebut dengan kesyirikan, ia akan beruntung, tidak akan merugi? bukankah Allah ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mukminun: 1)
Dia juga berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). Allahu a’lam.

Pembaca yang budiman…

Sifat selanjutnya yang mana seseorang tidak akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi adalah Allah berfirman,

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

(dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran).

Ya, nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran; kesabaran dalam hal ketaatan kepada kepada Allah, kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah dan kesabaran dalam menghadapi setiap musibah yang menimpa. Wallahu a’lam. Akhirnya, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk meraih keempat sifat yang telah disebutkanNya; (1) beriman, (2) beramal sholeh, (3) nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran dan (4) nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran sehingga kita akan meraih keberuntungan di dunia dan akhirat. Amien.

(Abu Umair)

742 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: