Tafsir Surat Al-Kautsar

al-kautsar.jpg

Allah ‘azza wajalla berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar : 1-3)

Pembaca yang budiman.

Alloh ‘azza wajalla mengatakan kepada nabiNya Muhammad  shallallohu ‘alaihi wasallam seraya berfirman, “ sesungguhnya Kami telah memberikan kepada mu – wahai nabi – kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat, di antaranya adalah “al Kautsar” di dalam Surga yang di sekelilingnya terdapat mutiara yang kering, dan lapisannya adalah minyak kasturi. Oleh karena itu, hendaklah engkau mengikhlashkan sholatmu semuanya untuk tuhanmu dan sembelihlah binatang sembelihanmu untukNya serta esakanlah Dia semata.  Sesungguhnya orang yang membencimu dan membenci sesuatu yang Aku berikan kepadamu berupa petunjuk dan cahaya dialah orangnya yang terputus atsarnya, terputus dari segala macam kebaikan.  (at Tafsiir al Muyassar, sejumlah Profesor bidang Tafsir di bawah bimbingan Dr. Abdulloh bin Abdul Muhsin at Turkiy)

Pembaca yang budiman…

Demikianlah secara global tafsir dari surat ini. Adapun sebab turunnya surat ini, Abu al Hasan ‘Aliy bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Aliy al Wahidi, an Naisaburiy asy Syafi’I (Wafat :468H) menyebutkan di dalam kitabnya, “ asbabun Nuzul “, ibnu Abbas mengatakan, surat ini turun dalam masalah al Ash bin Wail yang mana ia pernah melihat Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam  keluar dari masjid sementara ia hendak masuk (ke dalam masjid), bertemulah keduanya di pintu bani Sahm, keduanya pun berbincang bincang sementara sejumlah orang dari suku Quroisy tengah duduk-duduk di dalam masjid. Setelah al ‘Ash masuk (ke dalam masjid), mereka mengatakan, siapakah orang yang engkau ajak bicara barusan ?  al ‘Ash menjawab, “ itulah orang yang terputus, ia memaksudkan dengan perkataannya tersebut nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, di mana sebelumnya telah meninggal dunia Abdullah anak Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam dari Khotijah , mereka manamai orang yang tidak mempunyai anak  laki-laki dengan “ al-Abtar”(terputus), maka Alloh menurunkan surat ini.

Pembaca yang budiman…

Surat ini diawali dengan huruf ta’kid, yaitu إِنَّ (yang berarti : sesungguhnya-ed), ibnu Asyur mengatakan, pembukaan pembicaraaan dengan menggunakan hurus ta’kid untuk menunjukkan perhatian terhadap khobar (berita). Dan menumbuhkan perasaan bahwa berita tersebut merupakan perkara yang agung. (at-tahrir wat tanwiru minattafsir, Muhamad ath Thohir bin Muhammad bin Muhammad ath Thohir bin ‘Asyur at Tuunisiy (Wafat : 1393H).

Pembaca yang budiman…

Tidak diragukan bahwa berita yang Allah sampaikan dalam surat ini merupakan perkara yang agung. yaitu :

1. Nikmat yang banyak yang akan diperoleh nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, di antaranya yaitu “ al Kautsar”. Apa itu “ al-Kautsar “?. Anas mengatakan, tatkala beliau berada di tengah-tengah kami di dalam masjid, beliau (terlihat) mengantuk, kemudian tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum, kamipun kemudian bertanya, “ gerangan apa kiranya yang telah menyebabkan anda tersenyum wahai Rosululloh ? beliau menjawab,

أنزلت علي آنفا سورة

Sebuah surat telah diturunkan kepadaku barusan

(Perowi mengatakan) kemudian, beliau membaca ,

بسم الله الرحمن الرحيم

{ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ }

Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang . Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Qs. al Kautsar : 1-3). Kemudian, beliau berkata, tahukah kalian apa itu “al-Kautsar “ ? kami menjawab, “ Alloh dan RosulNya yang mengetahui. Beliau bersabda,

فإنه نهر وَعَدنيه ربي، عز وجل، عليه خير كثير، هو حوض تَرِدُ عليه أمتي يوم القيامة، آنيته عدد النجوم

Sesungguhnya al-Kautsar itu adalah sebuah sungai yang dijanjikan tuhanku-azza wajalla- kepadaku, di atasnya terdapat kebaikan yang banyak, ia adalah telaga di mana ummatku akan mendatanginya pada hari kiamat, aniyahnya adalah sejumlah bintang… (HR.Muslim, no.400, Abu Dawud, no.4747, dan an Nasai di dalam Sunan an Nasai al Kubro, no.11702)

2. Perintah agar beliau ikhlash di dalam melaksanakan sholat dan begitu pula ketika berkurban. Ini tentu merupakan perkara yang agung bahkan sangat agung. Keagungan perkara ini bisa terlihat pada konsekwensinya, yaitu bila seseorang ikhlas dalam menjalankan ibadah sholat dan qurbannya, maka Alloh ta’ala akan menerimanya dan memberikan balasan yang baik kepada pelakunya.

3. Penegasan bahwa orang yang membenci, yang memusuhi nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dialah yang terputus. Tidak diragukan pula ini merupakan perkara yang agung. Keagungan perkara ini dari sisi bahwa Alloh membantah anggapan keliru orang-orang Quroisy, di mana ini menunjukkan kemulyaan nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, tidak bolehnya seseorang mengolok-oloknya, menodai kehormatannya dan lain sebagainya. Allohu a’lam.

Pembaca yang budiman…

Paling tidak, setelah kita membaca surat ini, ada beberapa hal penting yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, antara lain :

  1. Agungnya nikmat yang Alloh berikan kepada nabiNya Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam.
  2. Wajibnya ikhlash di dalam melaksanakan ibadah kepada Alloh ta’ala, baik ibadah itu berupa sholat, Qurban dan bentuk ibadah yang lainnya.
  3. Ada sebagian orang yang membenci dan menghina nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam, baik kehormatan pribadinya maupun ajaran yang dibawanya.
  4. Kebencian seseorang terhadap orang lain terkadang menjadi salah satu sebab orang tersebut melakukan penghinaan atau pelecehan terhadap orang yang dibencinya.
  5. Bolehnya seseorang membantah pernyataan keliru yang disampaikan seseorang, dengan cara yang baik tentunya.  Allohu a’lam (Abu Umair)

Sumber :

– at Tafsiir al Muyassar, sejumlah Profesor bidang Tafsir di bawah bimbingan Dr. Abdulloh bin ABDUL Muhsin at Turkiy,

– at-tahrir wat tanwiru minattafsir, Muhamad ath Thohir bin Muhammad bin Muhammad ath Thohir bin ‘Asyur at Tuunisiy (Wafat : 1393H)

– asbab an Nuzul, Abu al Hasan Aliy bin Ahmad bin Muhammad bin Aliy al Wahidi, an Naisaburiy asy Syafi’I ( Wafat : 468 H), Tahqiq : ‘Ishom bin Abdul Muhsin al Humaidan.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

15,063 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: