Takut Masalah Rejeki? Periksa Kembali Tauhid!

Untitled-1-2.jpg

Kewajiban mencari nafkah bagi kaum lelaki seringkali membuat mereka paranoid, sehingga tidak jarang sampai terngiang di kepala mereka kata-kata “Esok makan apa”,  atau “Mau kerja apa”.

Padahal masalah rejeki masuk ke dalam bab tauhid, lebih tepatnya Tauhid Rububiyyah, yaitu Allah Ta’ala lah yang mengatur masalah rejeki, berapa pembagiannya untuk setiap jiwa, sebagaimana firman-Nya:

(أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (الروم: 37

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” (QS Ar Rum: 37)

Masalah lapang atau sempitnya rezeki itu ada hikmahnya, Allah maha mengetahui kebutuhan hamba-hamba-Nya, dan disebalik itu pula Allah mengetahui apa yang terjadi dengan si hamba tersebut jikalau sekiranya ia diberi banyak harta, Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ – الشورى: 27

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy Syuro: 27)

Nah, ayat diatas menggambarkan dengan jelas salah satu sifat bawaan manusia, yaitu lupa daratan apabila ia diberikan kekayaan. Maka jika engkau melihat keadaanmu saat ini apakah dalam keadaan lapang atau sempit, yakinilah Allah telah menginginkan amyanh yang terbaik untukmu. Jika engkau berada pada rejeki yang lapang, maka syukurilah dengan istiqamah beribadah dan bersedekah, jikapun keadaanmu sempit, maka Allah tidaklah menguji seorang hamba kecuali pada batas kemampuannya dan bisa jadi itu merupakan tanda Allah menyayanginya, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Artinya: “Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha (menerimanya) maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka (tidak terima) maka baginya kemurkaan (Allah).”(Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2576) dan dishahihkan oleh Al Albani)

Terakhir, yang perlu dipahami adalah keyakinan bahwa rejeki adalah hak kita yang Allah berikan tatkala kita sudah menunaikan kewajiban kita terhadap Allah Ta’ala, yaitu beribadah kepada-Nya sahaja tanpa sedikitpun melakukan kesyirikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى – طه: 132

” Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: