Tata Cara Bersuci (2)

perahu-kuning.jpg

Pembaca yang budiman…

Pada tulisan yang lalu berkaitan dengan tata cara bersuci, kita telah sebutkan salah satu bentuk dari bersuci yaitu “wudhu”, adapun pada tulisan berikut ini akan kami uraikan mengenai cara lain dalam bersuci.

Pembaca yang budiman…

Selain bersuci dengan cara berwudhu, ada juga cara lainya, yaitu dengan “bertayamum”. Hal ini seperti ditunjukkan oleh firman Allah dalam Surat al-Maidah ayat 6.

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْه

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuk perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al-Maidah: 6).

Perhatikan firman Allah,

فَتَيَمَّمُوا

(maka bertayamumlah!). Jadi, tayamum merupakan cara lain dalam bersuci selain berwudhu.

Pembaca yang budiman…

Kapan seseorang dibolehkan untuk bertanyamum? maka ayat di atas menjelaskan,

  1. Jika seseorang tengah dalam keadaan sakit.

Para ulama menjelaskan bahwa kondisi sakit yang seseorang diperbolehkan untuk bertayamum adalah bila ia menggunakan air, niscaya proses kesembuhannya melambat, atau bahkan bertambah parah. Singkat kata, bila penggunaan air membahayakannya.

  1. Seseorang tidak mendapatkan air untuk berwudhu.

Kemudian, para ulama menerangkan bahwa termasuk juga seseorang diperbolehkan untuk bertayamum, bila;

  1. Tidak ada air baik dalam keadaan safar (dalam perjalanan) ataupun tidak
  2. Terdapat air dalam jumlah terbatas bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.
  3. Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.
  4. Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
  5. Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.

Pembaca yang budiman…

Dengan apa seseorang bertayammum?

Perhatikanlah kembali ayat di atas, Allah berfirman,

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا

(maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih).

Jadi, media yang digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,

جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً

“Dijadikan (permukaan) bumi seluruhnya bagiku dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci.” (HR. Ahmad no. 22190)

Bagaimana caranya bertayamum?

Perhatikanlah kembali ayat di atas, Allah berfirman,

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْه

(sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu).

inilah tata cara anda bertayamum secara global. Jadi, anda cukup mengusap muka dan tangan anda.

Mungkin anda bertanya, “apakah sama seperti halnya ketika anda berwudhu, baik dari segi jumlah kali mengusapnya atau pun dari segi batasan mengusapnya?

Jawabnya: dalam masalah berapa kali mengusapnya, maka cukup sekali saja. Adapun mengenai batasannya, maka untuk mengusap wajah tidak ada bedanya dengan membasuh wajah dalam wudu, sedangkan untuk mengusap tangan tidak sama dengan tatkala wudhu. Letak perbedaannya adalah, pada wudhu batas akhir basuhan adalah siku, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (Qs. al Maidah: 6). Sedangkan pada tayamum tidak disebutkan batasannya sampai di mana sebagaimana zhohir ayat,

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْه

(sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu).  Ayat hanya menyebutkan kata’

وَأَيْدِيكُمْ

‘ (tanganmu).

Jika demikian, maka bagaimana caranya? sampai mana batasan kita mengusap tangan tatkala bertayamum?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka marilah kita perhatikan penjelasan melalui tindakan yang dilakukan oleh nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis yang bersumber dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, berikut ini. Ia mengatakan,

بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 347, Muslim no. 368). Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori, وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً “Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.

Jadi, dalam hal mengusap tangan yang disebutkan oleh ayat,

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْه

(sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu) dijelaskan batasannya dalam hadis ini, yaitu bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja. Allahu a’lam.

(Abu Umair)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: