Taubat Hamba dan Kegembiraan Allah Ta’ala

Taubat Hamba dan Kegembiraan Allah Ta’ala

Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya- meriwayatkan bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ مِنْ رَجُلٍ فِى أَرْضٍ دَوِيَّةٍ مَهْلَكَةٍ مَعَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ فَطَلَبَهَا حَتَّى أَدْرَكَهُ الْعَطَشُ ثُمَّ قَالَ أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِى الَّذِى كُنْتُ فِيهِ فَأَنَامُ حَتَّى أَمُوتَ. فَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى سَاعِدِهِ لِيَمُوتَ فَاسْتَيْقَظَ وَعِنْدَهُ رَاحِلَتُهُ وَعَلَيْهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَاللَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ مِنْ هَذَا بِرَاحِلَتِهِ وَزَادِهِ

Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya yang beriman daripada seseorang yang berada di daerah padang pasir yang tandus, ia bersama dengan tunggangannya, di atas tunggangannya terdapat makanan dan minumannya. Ia tidur. Ketika bangun, tunggangannya tersebut hilang. Ia pun mencarinya, hingga rasa haus mencekiknya. Kemudian ia mengatakan : aku akan kembali ke tempatku berada sebelumnya, lalu aku akan tidur hingga aku mati. Ia pun (melakukannya). Ia letakkan kepalanya di atas hastanya agar nantinya ia mati. Ketika bangun, ternyata ia dapatkan kembali tunggangannya beserta perbekalannya, makan dan minumnya yang masih berada di atas tunggangannya tersebut. Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba yang beriman daripada (kegembiraan) orang ini karena kembali mendapatkan hewan tunggangannya dan perbekalannya. (HR. Muslim, no. 7131)

Hadis ini menjelaskan kepada kita kegembiraan Allah subhanahu wa ta’ala dengan taubat hamba-Nya yang melakukan kemaksiatan melalui permisalan nabawi di mana beliau menghikayatkan sebuah kisah seorang lelaki yang singgah di sebuah tempat persinggahan yang tandus dan tak ada tumbuhan serta sunyi, di mana ia tidak membawa serta sarana kehidupan selain tunggangannya dan perbekalan makan dan minumnya yang berada di atas tunggangannya tersebut,
Di mana hal-hal tersebut sangat terikat sekali dengan kelangsungan hidupnya, memberikan harapan akan bertahan hidup di tempat tersebut. Ia singgah di tempat tersebut untuk beberapa saat setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Lalu, ia tidur beberapa saat. Kemudian, ia bangun seraya terkejut yang menjadikan perasaannya goncang dan hatinya sedemikian ketakutan. Tunggangan beserta perbekalannya menghilang entah kemana.

Lalu, ia ke sana kemari mencarinya dengan penuh rasa ketakutan, menyusuri setiap arah jalan tanpa adanya petunjuk, hingga kedua telapak kakinya merasa letih, dan rasa letihnya tersebut melemahkan fisiknya, rasa panas pada tubuhnya sedemikian terasa dan rasa haus pun sedemikian mencekik kerongkongannya, maka ia menyeret kedua telapak kakinya ke tempat semula yang dijadikannya tempat untuk tidur, lalu ia pun tidur beberapa saat lagi dalam keadaan perasaan yang tercabik-cabik, nafas yang terengah-engah, ia berada dalam penantian menunggu tibanya kematian.
Kemudian, ia membalikkan badannya dan mengangkat kepalanya, ternyata tunggangannya beserta perbekalannya berada di sampingnya… bagaimana kiranya kegembiraan lelaki tersebut karena mendapatkan kembali tunggangannya ini ?! … Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada lelaki tersebut yang kembali mendapatkan tunggangannya yang terjatuh ke dalam kesalahan karena saking gembiranya, ia mengatakan,

اَللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ …

Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu…

Maka, benar-benar bahwa hadis yang agung ini tergolong seruan untuk menuju kepada keluasan rahmat Allah Dzat yang Maha Mulia, sebuah seruan yang dipenuhi dengan kecintaan dan kasih sayang terhadap pelaku dosa yang terjatuh ke dalam kesalahan, ia harus tahu bahwa ia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa-dosa betapa pun dosa itu dan bahwa pintu taubat selalu terbuka hingga terbitnya matahati dari arah tenggelamnya. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs. az-Zumar : 53)
Wallahu A’lam

Sumber :
Syarh Ahaadiits at-Taubah, Ahmad Muhammad Buqurain, (1/2)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *