Taubat Itu Harus Tulus !

Taubat Itu Harus Tulus !

 

Abu Bakar al-Warraq-semoga Allah merahmatinya- berkata, “Taubat itu harus tulus, yaitu bumi yang luas ini terasa sempit bagimu dan jiwamu terasa sempit juga, sebagaimana yang dialami oleh tiga orang yang ditunda penerimaan taubatnya.” (Baca firman-Nya, di dalam Qs. at-Taubah : 118-ed)

***

Dosa-dosa yang Harus Ditaubati

Secara umum, dosa-dosa yang harus ditaubati (ditinggalkan) itu ada kalanya kekafiran (kufr) atau selainnya.

Taubat orang kafir adalah dia beriman disertai penyesalan atas kekafirannya terdahulu. Sekedar beriman bukan jiwa taubat. Sedangkan selain kekafiran maka adakalanya berkaitan dengan hak Allah dan adakalanya hak selain-Nya. Mengenai hak Allah, untuk bertaubat darinya cukup meninggalkan (kesalahannya).

Cuma, di antara taubat itu, syariat tidak mencukupkannya dengan meninggalkan (kesalahannya) sema, tetapi, di samping itu, sebagiannya harus diqadha, seperti shalat dan puasa. Ada pula, di antaranya, yang harus membayar tebusan, seperti melanggar sumpah dan selainnya. Adapun hak-hak Adami maka harus menyampaikan hak-hak tersebut kapada orang yang berhak menerimanya. Jika mereka tidak ditemukan, maka harus menyedekahkan atas nama mereka.

Barangsiapa yang tidak menemukan jalan untuk membebaskan apa yang menjadi tanggungannya, karena mengalami kesulitan, maka ampunan Allah bisa diharapkannya dan karunia-Nya bisa didambakannya. Sebab betapa banyak Allah mengganti keburukan dengan kebaikan. Ia juga harus memperbanyak amal shaleh dan memohonkan ampun bagi siapa yang pernah dizhaliminya dari kalangan orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, pernyataan ini pada hakekatnya adalah taubat.

 

Sifat Orang yang Bertaubat

Telah diriwayatkan secara marfu’ tentang sifat orang yang bertaubat dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi-shallallahu ‘alaihi wasalam- bersabda, saat beliau berada di tengah-tengah segolongan sahabatnya, “Apakah kalian tahu, apakah taubat itu ? ” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda :

“Jika hamba bertaubat dan ia tidak meminta kerelaan kepada lawan sengketanya, maka ia bukan orang yang bertaubat.

Barangsiapa bertaubat dan ia tidak merubah pakaiannya, maka ia bukan orang yang bertaubat.

Barangsiapa yang bertaubat dan ia tidak merubah majlisnya, maka ia bukan orang yang bertaubat. Barangsiapa yang bertaubat dan tidak merubah nafkahnya serta perhiasannya, maka ia bukan orang yang bertaubat.

Barangsiapa yang bertaubat dan tidak merubah tempat tidur dan bantalnya, maka ia bukan orang yang bertaubat.

Barangsiapa yang bertaubat dan tidak meluaskan dirinya, maka ia bukan orang yang bertaubat.

Barangsiapa yang bertaubat dan tidak meluaskan hatinya dan telapak tangannya, maka ia bukan orang yangbertaubat.”

Kemudian Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

Jika seseorang telah bertaubat dari sifat-sifat ini, maka itulah orang bertaubat sejati.”

 

Keterangan

Menurut para ulama, meminta kerelaan kepada lawan ialah dengan cara mengembalikan kepada mereka harta yang telah dirampasnya dari mereka. Atau bila ia pernah mengkhianati mereka, menaruh kedengkian kepada mereka, merobek-robek kehormatan mereka, atau mencaci maki mereka, maka ia meminta kerelaan kepada mereka menurut kemampuannya dan meminta mereka supaya dibebaskan dari perkara tersebut. Jika mereka meninggal, sedangkan dia mempunyai hutang kepada mereka, maka ia harus mengembalikannya kepada ahli warisnya. Jika tidak mengetahui ahli warisnya, maka ia harus menyedekahkannya atas nama mereka dan memintakan ampunan buat mereka seraya berdoa, “Ya Allah, gantikanlah keburukannya (dengan kebaikan).” Sedangkan ghibah maka tidak ada perselisihan mengenai hal ini.

Adapun merubah pakaian ialah mengganti yang haram dengan yang halal. Jika pakain itu pakaian kesombongan dan kecongkakan, maka ia merubahnya dengan pakaian yang sederhana.

Merubah majlis ialah dengan cara meninggalkan majlis yang sarat dengan sendagurau, permainan, kebodohan dan hal-hal yang baru (bid’ah). Ia bergaul dengan para ulama, majlis-majlis dzikir, fakir miskin dan shalihin (orang-orang shaleh), serta mengambil hati mereka dengan bantuan dan apa saja yang mampu dilakukan, dan menyalami mereka.

Merubah makanan ialah dengan cara makan yang halal dan menjauhi segala yang syubhat atau syahwat. Ia merubah waktu-waktu makannya dan tidak menginginkan makanan-makanan yang lezat.

Merubah nafkah ialah dengan cara meninggalkan yang haram dan mengusahakan yang halal.

Merubah perhiasan ialah dengan cara tidak menghias pada perkakas, bangunan, pakaian, makanan dan minuman.

Merubah tempat tidur ialah dengan melaksanakan qiyamullail daripada dia sibukkan untuk kesia-siaannya, kelalaian, dan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (Qs. as-Sajdah : 16)

Marubah akhlak ialah dengan cara merubah perilakunya, dari kekerasan menuju kelembutan, dari kesempitan menuju keluasan, dari ketidakramahan menuju keramahan.

Meluaskan hati ialah dengan berinfak setiap saat.

Meluaskan telapak tangan ialah dengan kedermawanan dan lebih mendahulukan untuk memberi.

Demikianlah, merubah segala yang ada. Misalnya, minum khamer (dia merubahnya) dengan cara memecahkan botolnya dan (sebagai gantinya) meminum susu dan madu. Sedangkan zina (merubahnya) ialah dengan cara memelihara orang-orang miskin papa dan anak yatim serta berkhidmat kepada keduanya. Dengan demikian, ia menyesali atas apa yang pernah dilakukannya dan menangisi apa yang telah disia-siakannya dari umurnya. Jika taubatnya telah mencakup sifat-sifat yang telah kami sebutkan dan syarat-syaratnya yang telah kami jelaskan, maka Allah menerima taubatnya dengan kemurahan-Nya dan menghapuskan memorinya (yang berisi keburukan), segala kesalahan dan dosanya malaupun sepenuh bumi. Allah azza wa jalla berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (Qs. Thaha : 82)

Prinsip tentang masalah ini ialah hadis Abu Hurairah-semoga Allah meridhainya- mengenai orang yang telah membunuh seratus jiwa, kemudian ia bertanya, apakah dirinya bisa bertaubat ? Maka seorang alim berkata kepadanya, “Siapa yang menghalangi dirimu untuk bertaubat ? Pergilah ke negeri demikan, sebab di sana banyak orang-orang shaleh yang beribadah kepada Allah, lalu beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”

Hadis ini dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya.

Dalam Musnad Abu Dawud ath-Thayalisi disebutkan : Zuhair bin Mu’awiyah bercerita kepada kami, dari Abdul Karim al-Jazri, dari Ziyad(ia bukan Ibnu Abi Maryam), dari Abdullah bin Mughaffal. Ia mengatakan, “Aku bersama ayahku di posisi sebelahnya di sisi Abdullah bin Mas’ud, lalu ayahku berkata kepadanya, ‘Aku mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اِعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ. فَقَالَ : نَعَمْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ : اَلنَّدَمُ تَوْبَةٌ


Sesungguhnya apabila hamba mengakui dosanya, kemudian bertaubat kepada Allah, maka Allah menerima taubatnya.” Ibnu Mas’ud menimpali, “Ya, aku mendengar beliau bersabda, “Penyesalan itu adalah taubat.”

Dalam shahih Muslim dan Shahih al-Bukhari dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya-, ia menuturkan, “Aku mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اِعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ إِلَى اللهِ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ


Sesungguhnya apabila hamba mengakui dosanya, kemudian bertaubat kepada Allah, maka Allah menerima taubatnya. Wallahu A’lam

Sumber :

Tadzkirah Fii Ahwali al-Mauta Wa Umuri al-Akhirah, karya : Imam al-Qurthubiy, (ei, 1/94-98)

Amar Abdullah bin Syakir

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *