Taubat Menghapus Semua Dosa

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

وَاَنِيْبُوْٓا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya (Qs. Az-Zumar : 53-54)

Telah kami katakan bahwa ayat ini berkenaan dengan orang-orang yang bertaubat. Sedangkan dua ayat dalam surat an-Nisa yaitu firman-Nya :

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali. (Qs. An-Nisa : 116)

Mustahil ayat ini berkenaan dengan orang-orang yang bertaubat, sebagaimana pendapat sebagian penganut paham Mu’tazilah, karena orang yang bertaubat dari kemusyrikan itu diampuni kemusyriaknnya berdasarkan ketetapan al-Qur’an dan kesepakatan kaum Muslimin. Ayat ini mengandung takhshish (pengkhususan) dan taqyid (pengikatakan dengan syarat), sedangkan ayat sebelumnya mengandung ta’mim (generalisasi) dan ithlaq (kemutlakan).

Ayat ini mengkhususkan dosa kemusyrikan, bahwa kemusyrikan tidak akan diampuni, sedangkan dosa selain kemusyrikan tidak dipastikan apakah diampuni atau tidak, tergantung pada kehendak-Nya. Maka Dia berfirman,

وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

“ Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki

Maksud ayat pertama adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meskipun dosa-dosanya besar dan banyak.

Jadi, tidak seorang pun boleh berputus asa dari rahmat Allah dan membuat orang lain  berputus asa akan rahmat-Nya. Oleh karena itu, sebagian ulama Salaf berkata, “Orang yang benar-benar mengerti agama adalah yang tidak membuat manusia berputus asa terhadap kasih sayang Allah dan tidak membantu mereka tetap bermaksiat kepada Allah. “

Putus asa terjadi kerena seseorang beranggapan bahwa Allah tidak akan mengampuninya, mungkin karena taubatnya tidak diterima atau dosanya tidak terampunkan meskipun ia bertaubat. Atau ia merasa tidak mampu mengalahkan nafsu karena setan telah menguasi dirinya, sehingga ia tidak memiliki harapan untuk  bertaubat, walaupun ia mengerti bahwa jika bertaubat Allah pasti mengampuninya. Inilah yang banyak memperdaya manusia.

Putus asa kadang-kadang terjadi karena dua sebab. Sebab pertama adalah sebagaimana ahli ibadah yang memberi fatwa kepada pembunuh 99 orang, bahwa Allah tidak akan mengampuninya. Akhirnya, ia membunuh biarawan itu sehingga ia genap membunuh 100 orang. Kemudian ditunjukkan kepadanya seorang ulama, maka ia mendatangi ulama itu dan bertanya kepadanya. Ulama itu memberi fatwa bahwa Allah akan menerima taubatnya. Hadis yang mengisahkan hal ini terdapat dalam ash-Shahihain.

Sebab kedua adalah sebagaimana orang yang melihat banyaknya persyaratan dalam taubat. Dikatakan kepadanya, “Taubat itu banyak syaratnya yang tidak mungkin bisa kamu penuhi.” Sehingga ia putus asa untuk bertaubat. Banyak orang berselisih pendapat tentang orang seperti ini, apakah taubatnya tertolak, padahal ia telah meniatkannya ?

Yang benar adalah pendapat ahlusunnah dan jumhur ulama bahwa taubat dapat dilakukan atas dosa apa pun dan ada kemungkinan Allah mengampuninya. Mereka mencontohkan hal itu dengan orang yang berada di suatu lokasi yang dikelilingi oleh tanah yang diambil secara tidak sah dan orang yang berada di tengah-tengah orang-orang yang terluka parah, jika ia bergerak kemana pun maka pasti akan membunuh sebagian mereka. Ada yang berpendapat bahwa tidak ada jalan baginya untuk bertaubat. Yang benar adalah kalau ia bertaubat, maka Allah pasti menerima taubatnya.

Adapun orang yang berada di tengah-tengah tanah yang diambil secara tidak sah, bila ia keluar dengan niat mengosongkan tempat itu dan menyerahkannya kepada yang berhak tidaklah dilarang dan tidak diharamkan. Bahkan para fuqaha sepakat bahwa barangsiapa mengambil sebuah rumah secara tidak sah dan telah menaruh hartanya di sana, jika ia diperintah menyerahkan tanah itu kepada yang berhak, maka secara otomatis ia disuruh keluar dari sana bersama keluarga dan hartanya. Tindakannnya ini, meskipun merupakan tindakan di dalam rumah orang lain, tetapi dimaksudkan untuk mengosongkan rumah tersebut.

Dalam hal ini, terdapat sebuah hadis mengenai seorang Arab Badui yang telah disepakati keshahihannya. Orang Badui itu kencing di masjid, orang-orang lantas berdiri mendekatinya. Maka Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Jangan kalian memutusnya” Maksudnya, “janganlah kalian memutus kencingnya.”

Kemudian beliau memerintahkan agar menuangkan seember air pada bekas kencingnya. Karena membiarkannya menuntaskan hajat ketika ia memulainya akan lebih baik daripada memutusnya, yang justru akan mengenai pakaian dan badannya. Jadi, setiap orang yang bertaubat dari dosa apa pun, maka sungguh Allah akan menerima taubatnya sebagaimana firman-Nya,

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

وَاَنِيْبُوْٓا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.

وَاتَّبِعُوْٓا اَحْسَنَ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَّاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ ۙ

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya, (Qs. Az-Zumar : 53-55)

Allah juga berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. (Qs. An-Nisa : 116)

Ini berkenaan dengan orang yang belum bertaubat. Jadi, kemusyrikan adalah suatu dosa yang tidak diampuni oleh Allah sedangkan selain kemusyrikan urusannya terserah kepada Allah disiksa atau dimaafkan.

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “at-Taubatu Wal Istighfaru“, Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Hahim bin Taimiyyah, Tahqiq : Muhammad Umar al-Haji dan Abdullah Badran (ei, hal.39-43)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *