Tawadhu’ : Gerbang Keutamaan

2.jpg

Tawadhu’ adalah akhlak mulia yang sudah selayaknya disandang oleh seorang muslim. Suami istri adalah orang yang paling wajib menjaga perangai ini, baik sesama pasangan maupun orang lain, meskipun salah satu pihak lebih tinggi statusnya. Dengan akhlak ini pula hendaknya anak-anak dididik.

Hendaklah seorang suami tawadhu’ terhadap pendapat istri dan tidak menganggap dirinya lebih baik, begitu pula dengan istri. Saat salah satu pihak menganggap dirinya lebih tinggi, baik karena jabatan, gelar, nasab, paras wajah, atau potensi lain yang Allah berikan kepadanya, maka saat itulah bangunan keluarga sedang terancam kehancuran.

Tawadhu’ memiliki dua makna; pertama, Anda tunduk terhadap perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya dan tidak mendurhakai-Nya, setinggi apapun status Anda. Kedua, Anda menghormati orang lain –siapa pun mereka- memuliakan, dan bersikap lembut. Jangan arogan meski Anda tidak khawatir atau mengharap sesuatu dari mereka, tetapi lakukanlah karena taat kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman,

{تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ} [القصص: 83]

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (Qs. Al-Qashash (28) : 83)

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidak mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah sesuatu melalui maaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan tinggikan derajatnya (HR. Muslim)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’, hingga seseorang tidak saling berbangga dan sewenang-wenang (HR. Muslim)

Seorang penyair berkata,

Tawadhu’lah, niscaya engaku seperti bintang bersinar untuk yang memandangnya di cermin air, padahal ia tinggi.

Dan jangan seperti asap yang ia tinggi sendiri di atas udara, padahal ia dibuang.

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 55)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: