Teguh Menggenggam Kebenaran (Bag 1)

Teguh-Menggenggam-Kebenaran.jpg

Sesungguhnya para pembela kebenaran kapan saja dan dimana saja adalah orang-orang yang paling teguh mempertahankan ucapan dan prinsip mereka, meskipun mereka harus menerima banyak cobaan sebab berada diatas jalan Allah tersebut, karena begitulah hakekat teguh diatas kebenaran.

Dan keteguhan itu merupakan ciri-ciri dari para pembela kebenaran sejak fajar dakwah islamiyah terbit ketika Nabi Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam memulai dakwahnya secara terang-terangan, walaupun hanya di sahut oleh sedikit orang kala itu, dan itupun mereka harus menerima banyak cobaan dan siksaan dan para musuh berlomba-lomba menyiksa mereka agar mereka murtad dari Islam, akan tetapi tidaklah semua hal tersebut kecuali semakin memantapkan iman dan menambah keteguhan memegang kebenaran yang Allah berikan hidayah-Nya kepada mereka.

Dan apa yang telah disebutkan diatas dari keteguhan dan kerasnya mereka menggenggam kebenaran telah diakui oleh lawan sebelum kawan, sebagaimana yang kita dapati pada kisah Abu Sufyan (sewaktu masih musyrik) dengan Heraklius Raja Romawi, saat itu sang raja bertanya kepadanya tentang para sahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Adakah diantara mereka yang murtad karena benci dengan agama yang mereka pilih sendiri itu?”,  Kemudian Abu Sufyan pun menjawab: “Tidak ada”, seketika Heraklius menimpali, “Begitulah apabila iman telah menghujam ke relung hati”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

“Adapun Ahlussunah dan Hadits tidaklah diketahui dari mereka, baik ulamanya maupun orang awam yang baiknya,  kecuali mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menarik kembali ucapan dan prinsip mereka, karena mereka adalah orang yang paling teguh memegangnya, meskipun mereka karenanya di uji dengan berbagai cobaan dan difitnah dengan berbagai fitnah”.

Dan begitu pula sikap para Nabi dan pengikut mereka dari kaum terdahulu, seperti Ashabul Ukhdud dan lainnya.

Begitu juga dengan sikap para pendahulu kita dari para sahabat, tabi’in dan para imam.

Berkata Imam Malik Rahimahullah:

“Sesungguhnya Allah pasti akan menguji seorang mukmin, yang mana jika ia bersabar maka akan diangkat derajatnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

الم* أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ* وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Alif Lam Mim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? . Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al Ankabut: 1-3)

Dan firman-Nya:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS As Sajdah: 24)

Begitu juga firman-Nya:

وقال تعالى:( والعصرإن الإنسان لفي خسر إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر) (سورة العصر).

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS: Al ‘Ashr)
Dan tidak diragukan lagi bahwa fitnah yang menimpa kaum mukminin akhir-akhir ini begitu banyak dan bermacam-macam, seperti fitnah syubhat dan syahwat, fitnah harta dan pangkat kedudukan, dan fitnah dari para penguasa dan kawanannya yang menguji kaum mukminin dengan memenjarakan mereka, menangkap, menyiksa dan menipu mereka, dan masih banyak lagi yang semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua darinya.

Dan karena hati itu mudah untuk berubah sikap, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam memohon kepada Allah Ta’ala untuk selalu meneguhkan hatinya, dan mengajarkan kita dengan doanya:

“يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك” رواه الترمذي

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu“. (HR Tirmidzi)

Bersambung…

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: