Connect with us

Konsultasi

Hukum Berteman Dengan Seorang Wanita Yang Tidak Memperhatikan Urusan Hijab

Published

on

Soal :

Seorang wanita berusia 19 tahun, ia seorang wanita yang berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah –subhanahu wa ta’ala-, seperti, puasa, shalat dan berhijab. Ia berteman dengan seorang wanita yang tidak memperhatikan urusan hijab dan yang lainnya, apakah ia hendaknya melanjutkan hubungan pertemanannya tersebut ataukah menyudahinya ?

Jawab :

تستمر بالنصيحة والتوجيه وحثها على الحجاب لعل الله أن يهديها بها ، فإن يئست منها ولم تر فائدة في هذه النصيحة فينبغي أن تنفصل عنها حتى لا تنسب إليها وحتى لا تقر المنكر،لكن مهما استطاعت أن تؤثر عليها بالنصيحة والتوجيه أو توصي من يستطيع أن يؤثر عليها فهذا من باب التعاون على البر والتقوى .

Hendaknya ia terus saja memberi nasehat dan arahan, memotivasi temannya tersebut agar berhijab. Barangkali Allah akan memberikan hidayah kepada temannya tesebut lantaran dirinya. Jika ia merasa putus harapan dan tidak mendapati adanya faedah dari nasehat yang disampaikannya tersebut, maka seharusnya ia menyudahi pertemanannya tersebut hingga tidak dinisbatkan kepada dirinya dan agar ia tidak menyetujui kemungkaran tersebut. Namun demikian, selagi nasehat dan arahan masih bisa diharapkan dapat memberikan pengaruh kepada temannya tersebut (maka sepatutnya terus dilakukan dan terus dijalin pertemanan dengannya), atau ia berpesan atau meminta bantuan kepada orang yang diperkirakan mampu untuk memberikan pengaruh kepadanya temannya tersebut, (maka ini pun bagus untuk dilakukan). Karena, ini termasuk bentuk kerjasama dalam hal kebaikan dan ketakwaaan.

Sumber :

Majmu’ Fatawa Ibni Baaz, Juz 27, hal. 357, Poin masalah 37, Tentang, “Kesinambungan dalam memberikan nasehat dan arahan dalam bab tolong menolong dalam urusan kebaikan dan ketakwaan”.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aqidah

Sihir Tidak Diperbolehkan Sedikitpun

Published

on

Pertanyaan :

Kami mengharapkan penjelasan tentang hakikat sihir, apakah diperbolehkan sesuatu dari sihir itu, dan apakah aktifitas sihir itu dinilai keluar dari agama Islam ?

Jawaban :

Sihir dalam bahasa adalah sesuatu yang halus dan tersembunyi sebabnya. Hakikat sihir, sebagaimana dijelaskan Al Muwaffaq (Ibnu Qudamah Al Maqdisi) dalam Al Kafi, adalah ungkapan tentang azimat, jampi-jampi dan buhul-buhul yang berpengaruh dalam hati dan pada badan, lalu ia sakit, terbunuh dan dipisahkan di antara suami dan istrinya.

Sihir semuanya adalah haram, tidak diperbolehkan sedikitpun darinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فيِ اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

“Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.” (QS. Al Baqarah : 102)

Al Hasan berkata, “Ia tidak mempunyai agama, dan ini menunjukkan atas haramnya sihir dan kafirnya orang yang melakukannya. Nabi Shallallahu ‘Alahi Wasallam telah mengategorikannya dalam tujuh perkara yang membinasakan, dan membunuh penyihir itu wajib.” Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Membunuh penyihir itu diriwayatkan dari tiga sahabat Nabi Shallallahu ‘Alahi Wasallam .” Yakni, membunuh penyihir itu diriwayatkan secara shahih dari tiga sahabat, yaitu: Umar, Hafshah dan Jundub radhiyallahu ‘anhum. Jadi, aktifitas sihir itu, baik belajar, mengajarkannya, maupun mepraktikkannya adalah kufur kepada Allah, keluar dari millah, dan wajib membunuh penyihir tersebut untuk membebaskan manusia dari keburukannya, jika terbukti bahwa ia seorang penyihir: karena ia kafir dan karena keburukannya menjalar ke masyarakat.

[Al Muntaqa min fatawa asy-Syaikh Shalih Al Fauzan, jilid 2, hal. 59]

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTV
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Apa Hukum Orang Yang Menuduh Istrinya Berzina?

Published

on

Soal :

Apa pendapat syaikh yang mulia tentang seseorang yang menuduh istrinya berzina sementara istrinya tersebut berlepas diri dari perbuatan tersebut. Tudahan tersebut dilontarkannya hanya karena ia tidak melihat darah (pada liang vaginanya) di malam pengantin (saat ia menggaulinya). Sang istri hidup bersama dengan sang suami dalam keadaan tersiksa karena kata-katanya dan keraguannya (apakah dirinya masih gadis ataukah kegadisannya telah direnggut oleh pria lain), apakah (sebaiknya) sang istri berpisah (saja) dengan (suami)nya atau apa yang Anda nasehatkan kepadanya?

Jawab :

Bila sang suami menuduh istrinya berzina, maka sang istri boleh menuntut sang suami agar dihukum dengan hukuman yang diberlakukan terhadap orang yang menuduh zina, yaitu, didera sebanyak 80 kali deraan. Sang istri menuntutnya di pengadilan agar ditegakkan hukuman had 80 kali deraan terhadap suaminya. Kecuali bila mana sang istri berkenan memaafkan dan berlapang dada dan Allah memberikan petunjuk kepada (suami)nya dan dia (suaminya pun) meninggalkan perkataannya yang buruk itu, maka tidak mengapa (bilamana ia (sang istri) tidak menuntutnya (suaminya) ke pengadilan), kecuali bila ditetapkan adanya perzinaan (istrinya) dengan dihadirkan 4 orang saksi atau saling melakukan li’an di hadapan pengadilan, dan bila sang istri menginginkan untuk berpisah (bercerai) maka tidak mengapa bila mana sang suami mencela istrinya, menyakitinya dan menuduhnya, sang istri boleh meminta cerai (dari suaminya), meski ia memberikan kepada suaminya hanya sebagian harta, sang suami memisahkannya (menceraikannya) dan melepaskannya.

(Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 22/403)

Amar Abdullah bin Syakir

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTV
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Jeratan Riba

Published

on

Pertanyaan pertama:
Assalamu’alaikum, nama Saya Fathul Qorib. Saya terjerat riba karena membantu teman saya. Akhirnya saya yang terjerat riba. Dan sampai sekarang saya belum tau caranya di mengakhiri pinjaman online. Dan tidak bisa melunasinya.

Mohon bantuan sarannya agar saya bisa berhenti dari riba. Dan beribadah dengan tenang. mohon bimbinganya

Pertanyaan kedua:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Lantas bagai mana anda bisa keluar dari jeratan riba. Saya juga terjerat riba sampai sekarang


Jawab :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu

Alhamdulillah.

Telah dimaklumi bahwa riba diharamkan oleh Allah azza wajalla.

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Al Baqarah : 275)

Karenanya, tidak boleh melakukan transaksi ribawi, tidak boleh juga membantu orang lain untuk melakukan praktek riba, tidak boleh juga membantu orang lain yang mengakibatkan dirinya sendiri terjerat ke dalam praktek riba yang diharamkan ini.

Tidak diragukan bahwa membantu teman (dalam kebaikan, semisal menutupi kebutuhannya atau yang lainya) merupakan perbuatan yang mulia, memiliki keutamaan yang besar dan sangat dianjurkan dalam agama kita sepanjang seseorang mampu melakukannya, Nabi ﷺ bersabda

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ…

Barang siapa meringankan atau menghilangkan kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia, niscaya Allah bakal menghilangkan darinya kesusahan dari kesusahan pada hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang dalam kesulitan niscaya Allah bakal memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah bakal menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan, Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong saudaranya… (HR. Muslim)

Namun, cara yang dilakukan dalam upaya membantu teman haruslah juga dilakukan dengan cara atau jalan yang baik dan benar. Tidak dengan cara yang justru mengakibatkan diri sendiri terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan yang justru akan membinasakan dirinya sendiri semisal melakukan praktek ribawi sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan. Karena, Allah ﷻ berfirman

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Qs. Al Baqarah : 195)

Kemudian, barangsiapa terjerat ke dalam praktek riba atau melakukan praktek riba, maka hendaklah ia segera bertaubat dari perbuatan tersebut karena perbuatan tersebut merupakan salah satu dosa yang harus dijauhi, bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan. Rasulullah ﷺ bersabda

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan ! Para sahabat berkata, wahai Rasulullah apa sajakah itu? beliau bersabda, menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali karena alasan yang benar, makan riba, maka harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita menjaga diri beriman lagi lalai (HR. Al Bukhari)

Begitu besarnya dosa riba, pantas Rasulullah ﷺ melaknat pelakunya, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Rasulullahﷺmengutuk orang yang makan harta riba, yang memberikan riba, penulis transaksi riba dan kedua saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama (berdosa). (HR. Muslim)

Yang nampak bahwa Anda masuk dalam lingkaran riba ini sebagai pihak yang memberi riba. Karena Anda meminjam sejumlah uang kepada pihak jasa keuangan (pinjaman online) dan anda menyetujui untuk mengembalikan pokok pinjaman plus bunganya.

Maka, segeralah Anda bertaubat darinya.

Adapun cara bertaubatnya, hendaklah Anda mengakui dosa Anda tersebut, Anda menyesalinya, Anda meninggalkan praktek riba tersebut, hendaklah anda bertekad untuk tidak kembali melakukannya, hendaklah Anda beristiqamah, dan hendaklah Anda mengadakan perbaikan.

Adapun cara mengakhiri pinjaman online, maka segeralah Anda melunasi pokok hutang Anda, dengan terus berusaha sekuat tenaga mencari uang dengan cara yang halal untuk dapat melunasi hutang Anda tersebut, dan iringilah usaha Anda tersebut dengan tawakkal dan doa kepada Allah, salah satu doa yang hendaknya Anda banyak memanjatkannya adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ berikut

اَللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahummak finii bi halaalika ‘an haraaamika Wa agh ninii bi fadhlika ‘an man siwaaka

Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karunia mu (hingga aku tidak meminta) kepada selain mu (HR. At Tirmidzi)

Barang kali pula, Anda juga bisa mencari komunitas Anti Riba misalnya, barangkali mereka dapat membantu Anda dalam upaya melunasi hutang riba Anda tersebut.

Wallahu A’lam

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTV
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending