Tinggal Serumah Tanpa Hubungan Sah Suami-Istri

kota-1.jpg

Semakin hari dunia semakin dekat dengan akhirnya, dan seiring itu pula umat beragama semakin menjauh dari agamanya, terutama mulai dari Aqidah, Ekonomi dan Sosial, dan yang terakhir ini kerusakannya tidak pula kalah mengerikan.


Islam meletakkan pondasi penting dan sangat kokoh untuk menjaga hubungan antar sesama, terutama lawan jenis, karena jika pondasi ini rusak, maka akan terjadi dan muncul kerusakan-kerusakan selanjutnya di tatanan masyarakat, seperti aborsi, anak dibuang, pemerkosaan, pembunuhan, penyebaran HIV Aids, dsbg.
Untuk itu Allah Ta’ala berfirman meletakkan aturan larangan berhubungan antar lawan jenis tanpa ada hubungan yang sah, atau yang disebut dengan zina, sesuai firman-Nya:


Dan bahkan, jangankan sampai berzina, untuk berdua-duaan saja dan melakukan interaksi tanpa ada kepentingan itu dilarang diantara lawan jenis, demi kemaslahatan menutup pintu yang mengarah kepada perzinahan, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ


”Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita (asing) kecuali bersama mahramnya”.(HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas).


Allah Ta’ala mewajibkan Amar Makruf Nahi Munkar atas kaum muslimin diantara sesama mereka, yang hakikatnya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


Maka dari itu, untuk mencegah Kumpul Kebo ini terjadi, kontrol ada di tangan orang-orang berikut:


1. Orangtua
Hak anak atas orangtua bukan hanya nafkah dan tempat tinggal, namun juga asuhan yang baik, karena salah asuh akan merusak masa depan anak dan keluarga.
Bayangkan, betapa aibnya memiliki anak gadis yang tinggal serumah dengan laki-laki lain di perantauannya?


2. Pemilik Kontrakan
Pemilik kontrakan merupakan orang yang paling bertanggungjawab tentang siapa saja yang tinggal di rumahnya, maka dari itu, hendaklah pemilik kontrakan tidak hanya memikirkan tentang uang masuk, namun juga memilih siapa yang boleh tinggal di tempatnya, dengan menyertakan surat nikah bagi pasangan muda-mudi.


3. RT dan RW
Kemudian pada cakupan yang lebih luas, yaitu orang yang diamanahkan untuk menjaga lingkungan, yaitu Pak RT atau Pak RW.
Lingkungan yang baik adalah cerminan dari masyarakatnya yang baik, maka untuk menciptakan lingkungan yang baik harus mengikuti perkembangan yang ada di masyarakat dan tidak tutup mata dan telinga terhadap apa yang terjadi di tengah mereka, termasuk juga mengawasi dan mengontrol para pendatang baru yang tinggal di rumah-rumah kontrakan. Karena nantinya apa yang dilakukan oleh mereka, dampaknya akan dirasakan oleh semua.


4. Teman
Dalam pertemanan ada hak yang wajib ditunaikan, yaitu saling menasehati. Teman adalah orang terdekat di kala jauh dengan keluarga, maka peran teman harusnya hidup, jangan biarkan sesama hancur ke dalam liang kemaksiatan dan kehancuran, sebagaimana bersama-sama di kala senang, maka teman juga harus siap saling mengingatkan agar tidak celaka.


5. Tetangga dan Kaum Muslimin

Tetangga dan Kaum Muslimin secara umum juga wajib untuk Amar Makruf Nahi Munkar, awasi dan lapor kepada yang berwenang jika ada tindakan-tindakan yang diluar kewajaran, seperti yang marak terjadi di kota-kota, yaitu tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan.


Terakhir, mengapa kelompok orang-orang diatas wajib untuk Amar Makruf Nahi Munkar? karena setiap orang akan ditanya pertanggungjawabannya atas wewenang yang ia miliki, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

عن ابن عمرعن النبى – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – انه قَالَ – أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رعيته وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ألا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


Artinya : “Dari Ibn umar Radhiyallahu’Anhu dari Nabi Shalallahu’Alaihi Wa Sallam sesungguhnya bersabda :
“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpion atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu/pekerja rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya”(HR.Muslim).


ustadz : Hadromi Lc .

110 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: