Tinjauan Kritis Terhadap Perbankan Syari’ah Di Indonesia (bag.6 habis)

Untitled-1.jpg

Tinjauan Keenam :

Metode Bagi Hasil Yang Berbelit-Belit


Bila kita datang ke salah satu kantor perbankan syari’ah yang terdekat dengan rumah kita, niscaya kita akan mendapatkan suatu brosur yang menjelaskan metode pembagian hasil. Untuk dapat memahami metode pembagian hasil tersebut bukanklah suatu hal yang mudah, terlebih bagi yang taraf pendidikannya rendah. Berikut adalah metode bagi hasil yang diterapkan oleh salah satu perbankan syariah di Indonesia :


Bagi hasil nasabah = dana/saldo nasabah x E x Rasio/nisbah nasabah

                                         1000                               100


E = Pendapatan rata-rata investasi dari setiap 1000 rupiah dari dana nasabah


Dapat dilihat dengan jelas, bahwa salah satu pengali dalam perhitungan hasil pada skema di atas adalah total modal (dana) nasabah. Adapun dalam akad mudharabah, maka yang dihitung adalah keuntungan atau hasilnya, oleh karenanya akad ini dinamakan bagi hasil.


Muhammad Nawawi al-Bantani berkata, “Rukun mudharabah kelima adalah keuntungan. Rukun ini memiliki beberapa persyaratan, di antaranya, Keuntungan hanya milik pemodal dan pelaku usaha. Hendaknya mereka berdua sama-sama memilikinya, dan hendaknya bagian masing-masing dari mereka ditentukan dalam prosentase (Nihayatu az-Zain, oleh Muhammad Nawawi al-Jawi, 254)


Inilah yang menjadi metode penghitungan hasil dalam mudharabah yang benar-benar syar’i sangat simple, dan mudah dipahami. Berikut skema pembagian hasil dalam akad mudharabah :


Bagi Hasil Nasabah = keuntungan bersih x nisbah nasabah x nisbah modal nasabah dari total uang yang dikelola oleh bank


Perbedaan antara dua metode di atas dapat dipahami dengan jelas melalui contoh berikut.


Pak Ahmad menginvestasikan modal sebesar Rp. 100.000.000,-dengan perjanjian 50 % untuk pemodal dan 50 % untuk pelaku usaha (bank), dan total uang yang dikelola oleh bank sejumlah 10.000.000.000,- (10 miliar). Dengan demikian, modal Pak Ahmad adalah 1 % dari keseluruhan dana yang dikelola oleh bank. Pada akhir bulan, bank berhasil membukukan laba bersih sebesar 1.000.000.000 (1 miliar). Operator bank –setelah melalui perhitungan yang berbelit-belit pula- menentukan bahwa pendapatan investasi dari setiap Rp. 1.000,- adalah Rp. 11,61.


Bila kita menggunakan metode Perbankan syari’ah, maka hasilnya adalah sebagai berikut :


100.000.000 
 x 11,61 x   50 = Rp. 580.500,-

      1000                          100


Dengan metode ini, pak Ahmad hanya mendapatkan bagi hasil sebesar Rp. 580.500,-


Sedangkan bila kita menggunakan metode mudharabah yang sebenarnya, maka hasilnya sebagai berikut :


1.000.000.000
x 50 x 1   = 5.000.000,-

100                   100


Dengan metode penghitungan hasil mudharabah yang sebenarnya, Pak Ahmad berhak mendapatkan bagi hasil sebesar Rp. 5.000.000,-. Metode pembagian yang diterapkan oleh bank, berbelit-belit dan merugikan nasabah.


Yang lebih rumit lagi adalah metode bank dalam menentukan pendapatan rata-rata investasi dari setiap 1000 rupiah. Berikut salah satu contoh dari metode yang diterapkan oleh salah satu Perbankan syari’ah di Indonesia :


E = (total dana nasabah-giro wajib minimum)  x  Total pendapatan     x 1000

Total Investasi                                Total dana nasabah


Metode perhitungan bagi hasil yang berbelit-belit ini, membuktikan bahwa Perbankan syari’at yang ada tidak menerapkan metode mudharabah yang sebenarnya.


Dari sedikit pemaparan di atas, kita dapat simpulkan bahwa Perbankan syari’ah yang ada hanyalah sekedar nama besar tanpa ada hakikatnya. Bahkan yang terjadi sebenarnya hanyalah upaya mempermainkan istilah-istilah syari’ah. Mungkin inilah yang mendorong sebagian umat islam berani mempermainkan berbagai istilah syari’ah.


Majalah modal mengisahkan bahwa sebagian pemain golf yang biasa berjudi ketika bermain golf, telah menamakan kebiasaan judinya dengan golf syari’ah. Cara yang mereka lakukan ialah dengan mengumpulkan uang judinya dengan sebutan tabarru’, bila dana yang telah terkumpul telah habis, kembali mereka mengumpulkan lagi dengan sebutan shadaqah. Dan bila telah habis, mereka mengumpulkan uang lagi dengan sebutan infaq, dan demikianlah seterusnya. Pada akhir permainan, mereka mengecek siapa dari mereka yang paling banyak kalah (paling apes). Bila ada dari mereka yang kehabisan uang, atau menderita kekalahan yang banyak, maka pemenang diwajibkan mengeluarkan zakat 2,5 % kepada yang bersangkutan. Perilaku para pemain golf tersebut adalah haram, bahkan dosanya lebih besar daripada para pegolf judi lainnya. Karena selain menanggung dosa judi, mereka juga menanggung dosa mempermainkan istilah-istilah syariat tidak pada tempatnya (Kisah ini dimuat dalam Majalah MODAL, edisi 36, tahun 2006, hal. 26-27)


Perbuatan mereka itu tak ubahnya seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi tatkala diharamkan atas mereka untuk memakan lemak. Mengakali pengharaman itu, mereka mencairkan lemak tersebut, lalu menjualnya dan kemudian hasil penjualan itulah yang mereka makan. Menanggapi perilaku keji kaum Yahudi ini Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

 

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ عَلَيْهِمْ الشُّحُومَ فَجَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَه


Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi, sesungguhnya tatkala Allah mengharamkan atas mereka untuk memakan lemak binatang, merekapun mencairkannya, kemudian menjualnya, dan akhirnya mereka makan hasil penjualan itu (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 


Sumber :


Riba dan Tinjaun Kritis Perbankan Syariah
, Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA. Penerbit : Pustaka Darul Ilmi, hal. 173.

 


Amar Abdullah bin Syakir

 

107 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: