Toleransi; Panji Kemuliaan

22.jpg

Toleran dan memaklumi adalah sifat orang yang berjiwa besar dan watak orang yang mulia. Pasangan suami istri perlu berhias dengan akhlak mulia ini melebihi orang lain, baik ketika menghadapi pasangannya, anak-anaknya, ataupun orang lain. Sebab kesalahan selalu terjadi dan terus berulang, namun kadang tidak disengaja.

Jika toleran, memaklumi, dan memaafkan adalah prinsip interaksi antara suami istri, maka masing-masing akan merasa bahagia. Maka dari itu, keluarga jangan menjadi arena perdebatan dan adu pendapat antara suami istri. Allah azza wajalla berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs. At-Taghabun : 14)

Ayat ini ditujukan bagi pasangan suami istri, bukan hanya untuk suami. Permusuhan disini bukan berarti mengumumkan perang terhadap pasangannya, melainkan kadang kala mereka menjadi panghalang ketaatan atau faktor maksiat. Allah ta’ala berfirman,

 

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim (Qs. Asy-Syura : 40)

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- besabda,

 

وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba melalui maaf melainkan kemuliaan (Shahih at-Tirmidzi)

Dalam sebuah riset yang dimuat majalah Dirasat as-Sa’aadah sangat jelas bahwa ada kaitan erat antara sifat toleran, maaf, dan memaklumi di satu sisi, serta kebahagiaan dan ridha di sisi lain.

Mereka menghadirkan beberapa orang dan mengadakan riset secara mendalam. Maka peneliti mengkaji hubungan sosial serta kondisi mereka secara materi maupun non materi. Mereka menyodorkan beberpa pertanyaan berupa kuisioner (angket) hal-hal yang dapat membahagiakan seseorang. Riset membuktikan bahwa mereka yang memiliki sifat toleran tidak terjangkiti darah tinggi, amalan hati ini membuat mereka lebih teratur daripada yang lain, mereka juga memiliki kreatifitas lebih daripada yang lain. (www.kaheel7.com)

Wallahu a’lam

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 49)

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: