Ummu Amarah Nusaibah Binti Ka’ab

Ummu-Amarah-Nusaibah-Binti-Ka’ab.jpg

Simbol Kepahlawanan

Para shahabiyat telah memberikan contoh-contoh yang paling indah dalam berjihad fi sabilillah dan berkorban demi agama, demi membela kebenaran dan para pengikutnya, demi mendapatkan mati syahid, serta mengabarkan kepada dunia bahwa para shahabiyat yang mulia itu memiliki peran yang agung dalam mengubah putaran roda sejarah.

Apa yang telah dilakukan Ummu Amarah (Nusaibah binti Ka’ab) dalam Perang Uhud telah membuktikan kepahlawanannya dan ketegarannya, yang tidak mampu dilakukan oleh banyak kaum laki-laki.

Dia dengan tegar dan tangguh menghadapi dan melawan Ibnu Qamiah, dia menebasnya dengan pedang dan Ibnu Qaimah pun menebasnya, hingga dia terluka cukup dalam di bahunya karena sabetan manusia jahat ini. Luka tersebut telah mengakibatkan lubang yang dalam pada tubuhnya.

Luka yang dideritanya tidak menjadikan dia berhenti meneruskan perjuangannya dalam membela agama ini. Bahkan ia kehilangan anaknya, Habib bin Zaed yang telah dibunuh oleh Musailamah si pendusta. Semua ini sama sekali tidak menjadikan tubuhnya gemetar. Dia telah ber’azam (berbulat tekad) untuk masuk ke medan peperangan yang akan datang melawan Musailamah untuk membunuhnya, adalah merupakan pelajaran yang takkan terlupakan sepanjang masa.

Ummu Amarah pergi ke Yamamah bersama anaknya, Abdullah, dalam rombongan tentara kaum Muslimin di bawah pimpinan Saifullah al-Maslul (pedang Allah yang terhunus), Khalid bin Walid. Di sana perang berkobar, Musailamah kabur ke sebuah kebun yang berpagar dan dia menutup pintu gerbang dengan kuat.

Walaupun pintunya tertutup dengan kuat, akan tetapi hal itu bukan merupakan penghalang untuk menyerbunya. Karena, yang menyerbu adalah singa-singa yang beriman, mereka melempar salah seorang dari mereka ke balik pintu hinngga dia dapat membukanya. Di antara singa-singa yang beriman ini adalah Ummu Amarah, di mana bersama pasukan dia menyerang kumpulan orang-orang yang berada di sekitar Musailamah. Dan dia bersama anaknya, Abdullah, telah berhasil menikam Musailamah dengan tikaman yang mematikan, lalu ditikam lagi oleh Wahsyi dengan tikaman yang tepat, sehingga musuh Allah tersebut jatuh tersungkur.

Dengan peristiwa ini Allah telah mengobati luka hatinya, dan dia telah membalas musuh Allah dan musuhnya. Semoga Allah melipatgandakan pahalanya, di mana dia terluka banyak dan yang paling parah adalah tangannya yang telah terpotong.

Kaum Muslimin mengakui keberanian yang tinggi dari sosok wanita Mukminah mujahidah ini, hingga panglima yang utama, yaitu Abu Bakar ash-Shidiq –semoga Allah meridhainya- mendatanginya dan mengunjunginya, menenangkannya, dan mengakui ketegaran dan pengorbanannya yang menakjubkan itu.

Wallahu a’lam

Sumber :

Duruusun Min Hayati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani (E.id, 105-106)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: