Connect with us

Nasihat

Untukmu yang Meninggalkan Shalat

Published

on

Saudaraku, ada beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang merupakan peringatan bagi orang yang meninggalkan shalat dan mengakhirkannya dari waktu yang semestinya, diantaranya:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” (QS. Maryam: 59)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)

“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” (QS. Al-Ma’un : 4-5)

Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

“(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

الْعَهدُ الَّذِيْ بَيْننا وَبَيْنهُمْ الصَّلاةُ فمَن ترَكها فقدْ كفرَ

“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang munafik) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka sesungguhnya ia telah kafir.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasai, hadits shahih)

Saudaraku, Pada suatu hari, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbicara tentang shalat, sabda beliau:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barangsiapa menjaga shalatnya maka shalat tersebut akan menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari Kiamat nanti. Dan barangsiapa tidak menjaga shalatnya, maka dia tidak akan memiliki cahaya, tidak pula bukti serta tidak akan selamat. Kemudian pada hari Kiamat nanti dia akan (dikumpulkan) bersama-sama dengan Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay Ibnu Khalaf.” (HR. Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban, hadits shahih)

Maka, lakukanlah shalat, jangan engkau meninggalkannya.

Bila engkau meninggalkan kewajibanmu ini, engkau harus menerima konsekwensi hukumnya yang tidak ringan.

Saudaraku, ada beberapa konsekuensi hukum bersifat duniawi dan ukhrawi yang terjadi karena riddah (keluar dari Islam) dikarenakan meninggalkan shalat.

Pertama, Konsekuensi Hukum yang Bersifat Duniawi

1. Kehilangan haknya sebagai wali

Para ulama fiqh kita, rahimahumullah, telah menegaskan dalam kitab-kitab mereka yang kecil maupun besar, bahwa diisyaratkan beragama Islam bagi seorang wali apabila mengawinkan wanita muslimah. Mereka berkata: “Tidak sah orang kafir menjadi wali seorang wanita muslimah.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak sah suatu pernikahan kecuali disertai dengan seorang wali yang bijaksana; dan kebijaksanaan yang paling agung dan luhur adalah agama Islam, sedangkan kebodohan yang paling hina dan rendah adalah kekafiran dan riddah dari Islam”. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَن مِلَّةِ إبراهيم إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَه..

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri….” (QS. Al-Baqarah: 130).

2. Kehilangan haknya untuk mewarisi kaum kerabatnya

Sebab orang kafir tidak boleh mewarisi orang muslim, begitu pula orang muslim tidak boleh mewarisi orang kafir. Rasulullah bersabda,

لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

“Tidak boleh seorang muslim mewarisi orang kafir dan tidak boleh orang kafir mewarisi orang muslim.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan perawi lainya).

3. Dilarang baginya untuk memasuki kota Mekkah dan tanah haramnya.

Allah berfirman,

ياأيها الذين ءَامَنُواْ إِنَّمَا المشركون نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ المسجد الحرام بَعْدَ عَامِهِمْ هذا

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Al-Masjid Al-Haram sesudah tahun ini…” (QS. At-Taubah: 28)

4. Tidak boleh dishalatkan jenazahnya dan tidak boleh dimintakan ampunan dan rahmat untuknya.

Allah ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَلِّ على أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَداً وَلاَ تَقُمْ على قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُواْ بالله وَرَسُولِهِ وَمَاتُواْ وَهُمْ فاسقون

“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 85).

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ والذين ءَامَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِى قربى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أصحاب الجحيم . وَمَا كَانَ استغفار إبراهيم لأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إبراهيم لأَوَّاهٌ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat-(nya) sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahaman. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Tetapi tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 113-114)

Kedua, Konsekwensi Hukum yang Bersifat Ukhrawi

1. Dicaci dan dihardik oleh para malaikat.

Bahkan para malaikat memukul seluruh tubuhnya, dari bagian depan dan belakangnya. Allah berfirman,

وَلَوْ ترى إِذْ يَتَوَفَّى الذين كَفَرُواْ الملائكة يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وأدبارهم وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الحريق . ذلك بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ الله لَيْسَ لّلْعَبِيدِ

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikianlah itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.” (QS. Al-Anfal: 50-51).

2. Pada hari Kiamat dikumpulkan bersama orang-orang kafir dan musyrik karena termasuk dalam golongan mereka.

Allah ta’ala berfirman,

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (٢٢) مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ (٢٣)

“(Kepada para malaikat diperintahkan): ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta orang-orang yang sejenis mereka dan apa-apa yang menjadi sembahan mereka, selain Allah; lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka’.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23).

Kata “azwaj”, bentuk jama’ “zauj”, artinya: jenis, macam. Yakni: “Kumpulkanlah orang-orang yang musyrik dan orang-orang yang sejenis mereka seperti orang-orang yang kafir dan yang zhalim lainnya.”

3. Kekal untuk selama-lamanya di dalam neraka.

Allah berfirman,

إِنَّ الله لَعَنَ الكافرين وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيراً . خالدين فِيهَآ أَبَداً لاَّ يَجِدُونَ وَلِيّاً وَلاَ نَصِيراً . يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى النار يَقُولُونَ ياليتنا لَيْتَنَا أَطَعْنَا الله وَأَطَعْنَا الرسولا

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, meraka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS. Al-Ahzab: 64-66).

Wallahu a’lam.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad beserta para sahabatnya.


Penyusun : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

About Author

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Sejenak … Untukmu yang Merayakan Valentine’s Day

Published

on

Para Pemuda dan Para Pemudi

Aku katakan kepada mereka, mengapa Anda ikut serta dalam merayakan hari ini dan begitu juga hari raya-hari raya orang kafir lainnya. Apakah engkau tidak tahu bahwa keikutsertaan dirimu dalam perayaan-perayaan semacam itu, engkau tengah mengotori prinsip-prinsik keyakinan dalam dirimu sebagai seorang muslim yang mengesakan Allah ta’ala ?.

Apakah engkau juga tidak tahu bahwa keikutsertaanmu dalam hal ini berarti engkau tengah menyerupakan diri dengan mereka, orang-orang kafir itu ?

Apakah engkau juga tidak tahu bahwa keikutsertaanmu dalam hal tersebut menunjukkan keridhaanmu kepada mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya ?

Di manakah kecintaan mu terhadap agamamu, suri teladanmu, bahkan kecintaanmu kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -Tuhanmu yang telah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ [البقرة : 165]

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. (al-Baqarah : 165)



Hadiah Valentine’s Day

Para ahli ilmu (ulama) telah menetapkan bahwasanya tidak boleh bagi seorang muslim untuk menerima hadiah apa pun atau makanan yang dibuat karena adanya memontum hari raya orang-orang kafir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-رَحِمَهُ اللهُ-mengatakan, ‘ Dan barang siapa menghadiahkan kepada kaum Muslimin sebuah hadiah dalam perayaan-perayaan ini yang menyelisihi kebiasaan pada seluruh waktu-waktu selain perayaan ini, maka hadiahnya tidak boleh diterima, terlebih bilamana hadiah yang diberikan tersebut termasuk hal yang akan dapat digunakan untuk membantu bertasyabbuh (meniru-niru) mereka (orang-orang kafir).”

Karena itu, para ayah dan para ibu hendaknya perhatian terhadap anaknya akan hal ini, terlebih bilamana mereka melihat anak-anak perempuan mereka mengkhususkan pakaian berwarna merah pada hari tersebut. Demikian pula apabila mereka meminta untuk dibelikan bunga-bunga dan kartu-kartu ucuapan selamat dan yang sejenisnya pada hari tersebut. Hendaknya orang tua menjelaskan kepada mereka, anak-anaknya hakikat perkara tersebut, dengan menggunakan gaya yang selaras dengan tuntunan syariat, yang mendidik, yang memuaskan dan menyadarkan.

Demimikian pula para guru wanita, hendaknya membuka pintu diskusi dengan para murid perempuan seputar permasalahan ini agar jelas bagi mereka hakikat dari persoalan ini (valentine’s day) dan hal-hal yang ada di dalamnya berupa khurafat-khurafat, dan berkenan pula untuk mendengarkan komentar-komentar dari mereka sehingga memungkinkan untuk dilakukannya koreksi dan pembenahan terhadap hal-hal yang salah yang boleh jadi mereka tidak menyadarinya.



Mengucapkan ‘Selamat Valenten’s Day’

Sesungguhnya termasuk hal yang patut disayangkan adalah bahwa sebagian dari kalangan orang-orang Islam baik laki-laki maupun perempuan ada yang mengekor dibelakang parayaan hari ini yang tidak lepas dari adanya unsur kesyirikan dan kekufuran, di mana mereka saling mengucapkan selamat, padahal hal ini merupakan perkara yang membahayakan agama mereka.

Imam Ibnu al-Qayyim-رَحِمَهُ اللهُ-mengatakan,

“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya bagimu!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang telah bersujud kepada Salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

 

Para Pemudi dan Valenten’s Day

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-رَحِمَهُ اللهُ-mengatakan, “Banyak hal meniru-niru kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam hal perayaan hari raya mereka dan yang lainnya diserukan kepada kalangan wanita.”

Dan ini merupakan fakta … mengapa ?

Karena wanita itu, khususnya bila mana ia seorang gadis, ia memiliki kelembutan perasaan dan kelabilan jiwa yang bisa jadi akan menjadikan banyak hal akan berkecamuk dan bercampur di dalam dirinya, sehingga ketika itu ia tidak mampu untuk membedakan antara berhias yang disyariatkan dan berhias yang terlarang, boleh jadi sikap menimbang antara baik buruknya menipunya sehingga ia terpedaya dengan hal-hal yang akan dapat menyentuh perasaannya berupa ucapan-ucapan yang lembut dan condong untuk terpaut hatinya karena hal tersebut, di mana karena hal itulah  boleh jadi sebagian orang yang sekit hatinya akan mendatangkan fitnah terhadapnya.

 

Para Pedagang Valenten’s Day

Kita sangat mencela dan memperingatkan saudara-saudara kita dari kalangan para pedagang yang beragama Islam yang memperjual belikan simbol-simbol perayaan dalam hari raya-hari raya orang-orang kafir, dengan memajang simbol-simbol tersebut atau memproduksinya, seperti orang-orang yang memperjual belikan karangan bunga dan menyediakannya pada hari tersebut dalam bentuk yang spesial, atau para pemilik toko mainan dan bingkisan hadiah.

Sesungguhnya memperjual belikan hal-hal yang akan membantu perayaan hari raya-hari raya orang-orang kafir dan mengambil keuntungan darinya, tidak diragukan termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, dan bahwa hal tersebut termasuk bentuk keikutsertaan dalam menyebarkan keyakinan-keyakinan kufur yang justru boleh jadi akan mengakibatkan kemalangan diri seseorang di dunia dan di akhirat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-رَحِمَهُ اللهُ-mengatakan, ‘Seorang muslim hendaknya tidak menjualbelikan hal-hal yang akan membantu orang-orang Islam untuk menyerupai mereka.’

Yakni, menyerupai orang-orang kafir dalam perayaan hari raya, berupa makanan, pakaian dan yang lainnya, karena dalam tindakan tersebut terdapat unsur membantu atau menolong dalam melakukan kemungkaran.

 

Valenten’s Day dan Para Pegiat Media Sosial

Sesungguhnya termasuk hal yang semakin menambah nampaknya perayaan Valenten’s Day dan penyebarannya di sejumlah negeri-negeri Islam adalah apa yang diperankan oleh banyak media sosial dan media informasi, baik yang dapat dibaca, yang dapat didengar, maupun yang dapat dilihat, khususnya adalah cannel-cannel dan situs-situs internet.

Sungguh, benar-benar termasuk hal yang memilukan bahwa sarana dan media-media tersebut di negeri-negeri Islam atau negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin justru berperan seperti layaknya burung beo, di mana tidak segan-segannya membeo terhadap apa-apa yang disiarkan oleh media-media penyebar berita di dunia tanpa memilah hal-hal yang selaras dan sesuai dengan akidah, prinsip-prinsip keyakinan kita (kaum Muslim) dan akhlak kita. Kebanyakannya justru hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang bertolak belakang sama sekali dengan akidah, keyakinan dan akhlak kaum Muslimin. Khususnya adalah topan globalisasi di mana yang diinginkan dari hal tersebut adalah bagaimana menampakkan ‘budaya barat’ sebagai sosok teladan ‘kemajuan’ dalam berbagai sisi kehidupan. Wallahu Musta’an

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Iedul Hubbial-Qishshatu Wal Haqiqatu (al-Mihwar ar-Raabi’u), Khalid bin Abdurrahman asy-Syayi’, http://www.saaid.net/Doat/shaya/31.htm. Dengan ringkasan dan gubahan

 

(Amar Abdullah bin Syakir)

About Author

Continue Reading

baru

Terlarangnya Perayaan Tahun Baru Masehi

Published

on

Ijma’ ulama ummat dulu dan belakangan telah menetapkan bahwa keikutsertaan seorang muslim terhadap orang kafir dalam hal-hal yang menjadi kegembiraannya, khususnya yang bersifat peribadatan adalah haram, tidak halal dalam setiap keadaan.

Dan di antara hal tersebut yang diharamkan atas seorang hamba muslim adalah ikut bergembira dan berbahagia bersama orang-orang kafir, dan (ikut serta dalam) perayaan apa yang disebut dengan tahun baru miladiyah (masehi), karena hal tersebut termasuk kekhususan agama mereka yang batil. Diharamkan atas kita bertaklid (meniru-niru) mereka atau bertasyabbuh (menyerupai) mereka dalam hal tersebut, dengan kesepakatan.

Dan, para ulama umat ini-رَحِمَهُمُ اللهُ-semuanya telah menetapkan bahwa perayaan hari ini merupakan kemungkaran, tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya.

Dan, di sini kita akan menyebutkan secara ringkas tentang sebab-sebab terlarangnya hal ini ditinjau dari sepuluh sisi berikut ini,

Sisi yang pertama :

Bahwa dalam perayaan ini terdapat unsur bertasyabbuh (menyerupai) dan bertaklid (meniru-niru) yang sangat jelas terhadap apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Nasrani para penyembah salib. Di mana, taklid dan tasyabbuh ini berkonsekwensi memperjelas keutamaan pihak yang ditiru (yakni, orang-orang kafir) atas pihak yang meniru-nuru (orang-orang Islam). Hal ini tentunya tidak dibenarkan dilakukan oleh seorang muslim yang mana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah mengunggulkannya dan memuliakannya atas yang lainnya dari kalangan orang-orang yang beragama lainnya.



Sisi yang kedua :

Bahwa di dalamnya terdapat unsur memperbanyak dominasi orang-orang kafir para penyembah salib dan hal-hal yang ada pada mereka berupa kebatilan.

Sisi yang ketiga :

Bahwa di dalamnya terdapat unsur menampakkan kecintaan  terhadap orang-orang kafir yang diharamkan atas kita terhadap orang-orang kafir, sebagaimana Rabb kita, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة : 22]

Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. (al-Mujadalah : 22)

Kecintaan ini nampak di sini dalam beberapa perkara :

Pertama, memberikan ucapan selamat kepada mereka dengan (dirayakannya) hari ini,

Kedua, menghadiri perayaan mereka yang mereka selenggarakan secara khusus

Ketika, bergembira bersama mereka dan ikut serta bersama mereka dalam hal tersebut.

Sisi yang keempat :

Bahwa dalam perayaan terhadap hari ini merupakan penampakan ketundukan seorang muslim terhadap orang kafir, yang mereka cari dan mereka usahakan agar mereka memiliki kekuatan dan keunggulan atas orang-orang Islam.



Sisi yang kelima :

Bahwa di dalamnya terdapat unsur menampakkan kesempurnaan yang dimiliki orang kafir dan kemajuan mereka terhadap kebaikan-kebaikan urusan.

Sisi keenam :

Bahwa di dalam perayaan ini juga terdapat unsur penampakan kelemahan seorang muslim terhadap orang kafir dalam bentuk peninggalannya terhadap nilai-nilai ajaran agamanya. Dan ini sangat jelas terlihat pada kehadiran sebagaian kaum Muslim dalam semisal acara perayaan-perayaan seperti ini, yang dengannya Allah –سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – dimaksiati dengan dilakukannya kemungkaran-kemungkaran dan hal-hal rendahan yang paling buruk.

Sisi yang ketujuh :

Bahwa di dalamnya terdapat unsur menghinakan diri kepada orang-orang kafir, dan berusaha untuk mendapatkan keridhaan dan kepercayaan mereka. Hal ini termasuk perkara yang akan menambah kekuatan dan kecongkakan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Sisi yang kedelapan :

Bahwa di dalamnya terdapat unsur penghancuran terhadap tali Islam yang paling penting dan paling kuat, yaitu, ‘Cinta karena Allah dan Benci karena Allah’. Dan, keikutsertaan seorang muslim bersama orang kafir dengan perayaan ini, akan merobohkan prinsip tersebut, karena kecintaan dirinya terhadap orang-orang yang dimurkai dan dibenci oleh Allah–سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –.

Sisi yang kesembilan :

Bahwa perayaan ini termasuk perkara baru yang diada-adakan oleh manusia tanpa dalil dari syariat. Kalaulah bahwa kaum Musliminlah sendiri yang membuat-buat perkara baru ini, maka cukuplah hal ini harus ditolak dan tidak dilakukan. Karena, melakukan perkara bid’ah terlarang. Lantas, bagaimana kalau yang mengada-adakan perkara ini adalah kalangan orang-orang kafir dan para penyembah salib (tentunya lebih layak untuk ditolak dan tidak dilakukan oleh kaum Muslimin). Maka, bila terkumpul dua sifat (yaitu, bahwa (pertama) acara ini merupakan perkara yang diada-adakan dan (kedua) yang mengadakannya adalah kalangan orang-orang kafir penyembah salib) jadilah kedua alasan ini menjadikan acara tersebut buruk dan terlarang, sebagaimana syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-رَحِمَهُ اللهُ-mengisyaratkan kepada hal ini di dalam (kitabnya) al-Iqtidha.

Sisi yang kesepuluh :

Bahwa di dalam perayaan ini terdapat pengakuan yang jelas dan tulus terhadap agama Nasrani dan apa yang diyakini oleh para penganutnya berupa kebatilan dan kebohongan. Ini merupakan hal yang sangat berbahaya sekali, karena tidak ada agama yang benar di sisi Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-setelah diutusnya Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – melainkan agama Islam. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ [آل عمران : 19]

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam (Ali Imran : 19)

Dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-juga berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]

Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi (Ali Imran : 85)

Maka, barang siapa berkeyakinan berbeda dengan keyakinan ini, ia telah kafir-kita berlindung kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dari hal tersebut-jika hujjah telah ditegakkan kepadanya dan telah nampak jelas kebenaran baginya.

**

Wallahu A’lam

Sumber :

Al-Ihtifal Bi-ra’si as-Sanati al-MiladiyatiHukmuhu, Wa Mazhahiruhu, Ridhwan bin Ahmad al-‘Awadhiy. Dengan ringkasan. http://www.saaid.net/mktarat/aayadalkoffar/65.htm

 

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading

Nasihat

Ucapan ‘Selamat Natal’ dan Pergi ke Tempat Perayaan

Published

on

Soal :

Apa hukum memberikan ucapan ‘selamat natal’, terhadap orang-orang kafir ?

dan bagaimana kita membalasnya bila mereka mengucapkannya kepada kita (kaum Muslimin) ?

Bolehkah pergi ke tempat-tempat perayaan yang mereka selenggarakan terkait dengan acara ini ?

Apakah seseorang berdosa jika ia melakukan sesuatu di antara hal-hal yang disebutkan ini tanpa disengaja ia melakukannya?, boleh jadi karena basa basi, atau malu, atau karena sebab lainnya.

Dan, apakah boleh menyerupai mereka dalam hal tersebut ?

Jawab :

Memberikan ucapan ‘selamat natal’ atau yang lain yang termasuk hari raya-hari raya mereka adalah haram, dengan kesepakatan. Seperti yang dinukil oleh Ibnu al-Qayyim-رَحِمَهُ اللهُ-tentang hal tersebut di dalam kitabnya Ahkam ahli adz-Dzimmah, di mana beliau mengatakan, ‘Adapun memberikan ucapan selamat terkait dengan syiar-syiar kekufuran secara khusus, maka yang demikian itu haram berdasarkan kesepakatan, seperti, memberi ucapan selamat kepada mereka karena hari raya-hari raya mereka, dan puasa mereka, dengan mengucapkan, ‘hari raya yang diberkati untukmu.’ Atau Anda mengucapkan selamat karena hari raya ini dan yang semisalnya. maka hal ini termasuk perkara haram. Hal tersebut kedudukanya seperti memberikan ucapan selamat kepadanya karena tindakannya bersujud kepada salib. Bahkan hal tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberikan ucapan selamat karena meminum khamer, membunuh jiwa, tindakan lancang terkait dengan kemaluan yang haram, dan yang lainnya. Sementara banyak orang yang dalam dirinya tidak ada penghormatan terhadap agama  terjatuh dalam perkara tersebut. Dan, dia pun tidak tahu buruknya apa yang dilakukannya tersebut. Maka, barang siapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang karena melakukan suatu tindak kemasiatan atau kebid’ahan atau kekufuran, maka sungguh ia telah menantang terhadap kemurkaan Allah.” selesai perkataan beliau –رَحِمَهُ اللهُ-.

Pemberian ucapan selamat kepada orang-orang kafir terkait dengan perayaan-perayaan mereka yang bersifat agamawi itu haram, dan seperti yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim ini, oleh karena di dalamnya terdapat pengakuan terhadap sesuatu yang mereka lakukan berupa syiar-syiar kekufuran dan ridha dengan hal tersebut bagi mereka, meskipun ia (orang yang mengucapkan selamat kepada mereka) tidak ridha dengan kekufuran tersebut bagi dirinya, akan tetapi diharamkan atas seorang muslim untuk ridha terhadap syiar-syiar kekufuran atau mengucapkan selamat dengan syiar-syiar kekufuran tersebut terhadap orang lain. Karena Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-tidak ridha dengan hal tersebut. Sebagaimana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ  [الزمر : 7]

Jika kamu kufur, sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu. Dia pun tidak meridhai kekufuran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhai kesyukuranmu itu…(az-Zumar : 7)

Dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا [المائدة : 3]

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu (al-Maidah : 3)

Dan, pemberian ucapan selamat kepada mereka karena hal tersebut haram (hukumnya), baik mereka orang-orang yang ikut serta secara pribadi dalam amal tersebut atau pun tidak.

Dan, apabila mereka memberikan ucapan selamat kepada kita dengan hari raya mereka, maka kita tidak memberikan jawaban kepada mereka atas hal itu, karena hal tersebut bukan termasuk hari raya kita, dan karena hal tersebut merupakan hari raya yang tidak diridhai oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Karena, hal tersebut boleh jadi merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama mereka, dan boleh jadi pula hal tersebut disyariatkan (dalam agama mereka), akan tetapi dihapus dengan agama Islam yang dibawa oleh Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-kepada semua makhluk, dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]

Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran : 85)

Dan, pemenuhan undangan seorang muslim terhadap undangan mereka untuk menghadiri acara ini haram (hukumnya). Karena, hal ini lebih besar urusannya daripada sekedar memberikan ucapan selamat kepada mereka. Hal demikian itu karena di dalamnya terdapat tindakan bersekutu dengan mereka dalam melakukan acara tersebut.

Begitu juga diharamkan atas kaum Muslimin bertasyabbuh (meniru-niru/menyerupai) orang-orang kafir dengan menyelenggarakan pesta-pesta karena acara ini, atau saling berkirim hadiah, atau melakukan pembagian kembang gula, atau paket makanan, atau menonaktifkan pekerjaan-pekerjaan, dan yang lainnya. Berdasarkan sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-,

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-رَحِمَهُ اللهُ-mengatakan di dalam kitabnya Iqtidha ash-Shirat al-Mustaqim Mukhalafah Ashhabi al-Jahim , ‘ Menyerupai mereka dalam sebagian hari raya-hari raya mereka mewajibkan timbulnya kegembiraan hati mereka dengan sesuatu yang ada dalam diri mereka berupa kebatilan, dan boleh jadi hal tersebut menjadikan mereka terdorong untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan menghinakan orang-orang yang lemah.’ Selesai perkataan beliau-رَحِمَهُ اللهُ-.

Dan, barang siapa melakukan sesuatu dari hal tersebut, maka ia berdosa, baik ia melakukannya karena basa basi, atau untuk menimbulkan kesukaan (atau simpati), atau karena malu, atau karena sebab-sebab yang lainnya. Yang demikian itu karena tidakan tersebut termasuk bentuk penyimpangan dalam agama Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, dan termasuk sebab yang akan menguatkan jiwa orang-orang kafir dan kebanggaan mereka terhadap agama mereka.

Wallahu A’lam

Sumber :

At-Tahni-ah Bi-‘idi al-Krismas, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin-رَحِمَهُ اللهُ. ar.islamway.net/fatwa/4582/

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading

Trending