Upah Tukang Zina Haram Hukumnya

awal-5.jpg

Dari Ibnu Mas’ud al-Badri-semoga Allah meridhainya-, ia berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

Bahwasanya Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam– melarang (memakan dari hasil) menjual anjing dan mahar pelacur serta upah dukun.”

  • Penjelasan :

Al-Hafizh Ibnu Hajar-semoga Allah merahmatinya- berkata dalam kitab fathul bari pada bab Kasb al-Baghiy wa al-Ima’, “اَلْبَغِيُّ  dengan huruf ba’ dibaca fathah dan huruf ghain dibaca kasrah dan huruf ya’ ditasydidkan, seperti wazan fa’iil yang berarti pelakunya atau objeknya, yang maknanya adalah perempuan pezina.” Beliau berkata juga dalam bab Tsaman al-Kalbi, “Bentuk jama’ (plural) dari kata    اَلْبَغِيُّ adalah  بَغَايَا   artinya zina dan perbuatan jelek. Arti asal kata اَلْبِغَاءُ  adalah mencari, namun kata tersebut banyak dipakai (untuk mengungkapkan) masalah kerusakan.”

Adapun مَهْرُ الْبَغِيِّ adalah upah yang diperoleh pelacur dari hasil zinanya.

Al-Khaththabiy berkata, “Dulu penduduk Makkah dan Madinah mempunyai budak-budak perempuan yang berkewajiban memberikan pajak, mereka bekerja pada orang lain, ada yang membut roti, mengambil air, dan pekerjaan lainnya. Kemudian, mereka harus membayar upeti (pajak) tersebut kepada majikan-majikan mereka. Apabila para budak perempuan terjun pada pekerjaan semacam itu dan mengerahkan kemampuan mereka, dalam keadaan mereka keluar rumah dan harus membayar pajak kepada majikannya, maka mereka atau sebagian dari mereka bisa saja berbuat fujur (kejelekan) dan berusaha dengan melacur. Maka Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam– memerintahkan agar tidak memakan hasil dari pekerjaan mereka dan kapan bentuk pekerjaan mereka ini tidak jelas, maka hal tersebut lebih dilarang dan lebih dibenci. (Ma’alim as-Sunan, 3/103)

Asy-Syaukani berkata,  مَهْرُ الْبَغِيِّ     adalah sesuatu yang diperoleh pelacur dari hasil zinanya, dan para ulama sepakat tentang haramnya hal tersebut.” (Nail al-Authar, 7/384)

Ash-Shan’aniy berkata, “Asal hukum an-Nahyu (larangan) adalah haram,” sampai ia berkata,”Yang kedua adalah, pengharaman mahar (upah) pelacur, yaitu suatu yang diperoleh pelacur sebagai imbalan zina. Dinamakan mahar secara kiasan, padahal harta tersebut adalah haram. Para ahli fikih memiliki perincian hukumnya yang semuanya kembali kepada bagaimana cara ia memperoleh harta tersebut.

Dan yang dipilih (dirajihkan) Imam Ibnul Qayyim-semoga Allah merahmatinya- adalah semua cara yang dilakukannya (untuk mendapatkan harta) harus disedekahkan dan tidak dikembalikan kepada yang memberinya, karena ia memberinya dengan suka rela sebagai imbalan pengganti, tidak mungkin orang yang membayarnya tersebut minta dikembalikan. Cara tersebut adalah usaha kotor yang wajib disedekahkan (hasilnya). Pelaku kemaksiatan tidak boleh ditolong dengan memberikan keinginannya, serta pengembalian hartanya.

Sumber :

Dinukil dari, “Syarh al-Arba’una al-uswah min Ahaadiits al-Waridati Fii an-niswah”, Manshur bin hasan al-Abdullah, ei, hal. 2-4

Amar Abdullah bin Syakir

 

96 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: