Wahai Manusia, Bertaubatlah Kalian Kepada Allah !

Wahai Manusia,
Bertaubatlah Kalian Kepada Allah !

عَنْ اَلْأَغَرِّ الْمُزَنِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَى اللهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ “

Dari al-Aghar al-Muzaniy –semoga Allah meridhainya-, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ” Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Rabb kalian. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali. (HR. al-Bukhari)
***
Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- menganjurkan (manusia) untuk bertaubat kepada Rabb mereka – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – dan beliau mengatakan :

فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَى اللهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.
Dalam suatu riwayat : سَبْعِيْنَ مَرَّةً , sebanyak tujuh puluh kali. Maka, bila mana makhluk pilihan ini-shallallahu ‘alaihi wasallam- memohon ampun kepada Allah azza wa jalla dalam sehari sebanyak ini. Bahkan, datang keterangan darinya bahwa beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata dalam satu majelis sebanyak 70 kali, lalu bagaimana halnya orang yang jauh dibawah kedudukan Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bahkan bagaimana halnya keadaan orang-orang yang kurang dalam menunaikan kewajiban lagi banyak melakukan dosa seperti kita.

Maka tentunya, selayaknya kita memperbanyak taubat kepada Allah azza wa jalla dalam setiap keadaan dan kondisi kita. Sebagai bentuk peneladanan kita terhadap Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-sosok manusia pilihan yang Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
Ibnu Hajar di dalam Fathul Bariy berkata memberikan penjelasan tentang hadis ini :
Imam an-Nasai juga mengeluarkan dari riwayat Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dengan lafazh,

” إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ كُلُّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ “

Sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya 100 kali setiap hari.
Imam an-Nasai juga mengeluarkan melalui jalur Atho dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumpulkan manusia, lalu bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مَائَةَ مَرَّة

Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari itu sebanyak 100 kali.
Dan, an-Nasai memiliki riwayat dalam hadis al-Aghar al-Muzaniy memarfu’kan (kepada Nabi) semisal dengannya. Dalam riwayatnya dan dalam riwayat Muslim dengan lafazh,

” إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ “

Sesungguhnya benar-benar terhalang atas hatiku, dan sungguh aku benar-benar beristighfar kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali.

‘Iyadh mengatakan, ‘Yang dimaksud dengan اَلْغَيْنُ (al-ghain) adalah :
Beberapa waktu tidak mampu melakukan dzikir yang biasanya beliau mendawamkannya (melakukannya secara rutin). Maka, bila beliau tidak mampu melakukannya karena suatu hal, beliau mengkategorikan hal tersebut sebagai sebuah dosa, maka beliau beristighfar, memohon ampun kepada Allah, dari hal tersebut.

Ada juga yang mengatakan, ‘hal tersebut (al-ghain) adalah sesuatu yang menjadikan hati bergoyang yang terjadi karena adanya bisikan jiwa.

Ada juga yang mengatakan, ‘hal tersebut (al-ghain) adalah “as-Sakinah” (ketenangan) yang meliputi hati beliau dan permohonan ampun beliau tersebut untuk menampakkan ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah dan sebagai bentuk kesyukuran beliau kepada-Nya atas apa yang diberikan-Nya.’
Ada juga yang mengatakan, ‘itu adalah keadaan rasa takut dan pengagungan, dan istighfar adalah kesyukaran atas hal tersebut. Karena itu, al-Muhasibiy mengatakan :

خَوْفُ الْمُتَقَرِّبِيْنَ خَوْفُ إِجْلَالٍ وَإِعْظَامٍ

Rasa takut orang-orang yang mendekatkan diri (kepada Allah) merupakan rasa takut untuk memuliakan dan pengagungan.

Dan, syaikh Syihabuddin as-Sahruradiy mengatakan, ‘Hendaknya seseorang tidak berkeyakinan bahwa ‘al-Ghain’ merupakan keadaan di mana seseorang dalam keadaan kekurangan, bahkan hal tersebut merupakan keadaan yang sempurna atau penutup (penyempurna) sebuah kesempurnaan.
Kemudian, beliau mengibaratkannya dengan kelopak mata ketika menutup untuk menolak kotoran dari mata, misalnya. Hal itu akan menghalangi mata dari melihat. Dari sesi ini (mata menutup) merupakan kekurangan, sementara pada hakekatnya hal tersebut merupakan kesempurnaan (dengan terpeliharanya mata dari kotoran).

Ini adalah ringkas perkataan beliau yang cukup panjang, beliau mengatakan :
Maka demikian pula halnya bashirah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- berpeluang terpengaruh dan terpalingkan oleh orang-orang yang memiliki jiwa pencemburu, maka hal itu mendorong perlu adanya tutup di atas ketajaman bashirah beliau untuk membentenginya dan melindunginya dari hal itu. Selesai perkataan beliau.

Persoalan, “Ma’sum dan Istigfar”
Terjadinya istighfar dari Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- (sebagaimana dalam hadis ini) terdapat isykal, padahal beliau itu ma’shum sedangkan istighfar itu mengindikasikan terjatuhnya seseorang ke dalam sebuah kemaksiatan.

Jawaban
Pernyataan tersebut ditanggapi dengan beberapa jawaban, di antaranya adalah :
• Apa yang telah disebutkan tentang tafsir dari makna al-Ghain,
• Juga perkataan Ibnul Jauziy, di mana ia mengatakan, ‘bahwa kesalahan tabiat manusia, tak seorang pun selamat darinya. Dan, para Nabi, sekalipun mereka ma’sum dari melakukan dosa besar, namun mereka tidak ma’sum dari dosa-dosa kecil. Demikian kata Ibnul Jauziy. Pendapat beliau ini merupakan cabang dari masalah adanya perbedaan pendapat dalam masalah tersebut yang menjadi pilihan beliau. Namun, pendapat yang rojih (kuat) adalah bahwa kemaksuman mereka (para nabi) berlaku pula untuk dosa-dosa kecil.

• Perkataan Ibnu Baththal, di mana ia mengatakan, “Para Nabi adalah manusia yang paling bersungguh-sungguh di dalam beribadah kepada Allah disebabkan karena apa yang telah Allah berikan kepada mereka berupa ma’rifah (mengenal Allah), mereka terbiasa terus menerus bersyukur kepada-Nya, menganggap dirinya kurang di dalam mewujudkannya. Selesai perkataan beliau.

• Bahwa istighfar beliau merupakan pensyariatan untuk ummatnya, atau merupakan istighfar, permohonan ampun kepada Allah untuk dosa-dosa mereka. Maka, hal itu seperti halnya syafa’at bagi mereka. Dan, imam al-Ghozali di dalam al-Ihya mengatakan, “adalah Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- selalu maju (naik tingkat kedudukannya), maka bila beliau naik tingkat ke suatu keadaan, beliau melihat apa yang sebelumnya di bawahnya, maka dari itu beliau beristighfar mohon ampun kepada Allah dari keadaan yang lalu.

Pandangan imam al-Ghozaliy tersebut merupakan cabang dari pendapat bahwa jumlah yang disebutkan dalam istighfar beliau terbagi sesuai dengan beragamnya keadaan. Sedangkan zhahir lafazh-lafazh hadis tersebut menyelisihi hal itu.
Wallahu A’lam

Sumber :
Syarh Ahaadiits at-Taubah, Ahmad Muhammad Buqurain, (1/3-5)
Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *