Waktu yang Tersia-siakan (Serial Kisah Pertaubatan, bag.3)

Adab-Membaca-Al-Quran-muslimorid.jpg

Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan,”Aku mendapatkan sekelompok orang yang lebih kikir terhadap usianya, daripada kekirannya terhadap uangnya.

­Sejak kemarin sore, anakku yang masih kecil dalam kondisi yang tidak diharapkan. Sepulang kerja sore hari ini, aku sudah menetapkan untuk segera pergi ke rumah sakit, meski tubuhku sudah amat lelah. Namun kelelahanku ini tidak berarti apa-apa jika untuk kepentingannya.

­Aku membawanya dan aku pergi. Banyak juga pasien yang menunggu. Kemungkinan kami terlambat sekitar satu jam. Aku segera mengambil kartu masuk untuk menemui dokter, dan menuju ruang tunggu.

­Ada banyak raut wajah yang bermacam-macam. Anak kecil, juga orang dewasa. Semuanya diam tercekam. Ada beberapa notes kecil yang disimpan sebagian rekan kami.

­Aku melirik ke arah orang-orang yang hadir di situ. Ada yang memejamkan mata, tidak jelas apa yang dipikirkan.

­Sebagian ada yang mengikuti pandangan orang-orang di sekitarnya. Sebagian lagi terlihat di wajah mereka kegelisahan dan rasa bosan menunggu.

­Suasana hening berlangsung lama. Terdengar suara memanggil, “Pasien nomor sekian.” Terlihat kegembiraan di wajah orang yang dipanggil. Dengan langkah ringan ia berjalan cepat, kemudian kembali terjadi keheningan.

­Pandanganku tertuju kepada seorang pemuda tanggung. Ia tidak mempedulikan segala yang ada di sekitarnya. Ia membawa sebuah mushaf saku kecil yang terus dibacanya. Tidak menoleh sedikit pun. Aku memandanginya, tanpa banyak memikirkan kondisinya. Namun setelah lama menunggu selama satu jam penuh, pendanganku kepadanya berubah menjadi pikiran yang mendalam terhadap gaya hidup pemuda itu dan kegigihannya memelihara waktu.

­Satu jam berlalu dari umurku. Apa yang telah aku manfaatkan darinya. Aku hanya menganggur tanpa aktivitas apa-apa, hanya menunggu hingga bosan.

­Terdengarlah azan berkumandang untuk shalat Maghrib, kami pun pergi shalat. Di mushalla rumah sakit, aku berusaha untuk berada di samping pemuda yang membawa mushaf tadi. Usai shalat, aku berjalan bersamanya dan kuberitahukan langsung ketertarikan diriku terhadap kemahirannya dalam menjaga waktunya.

­Perkataannya difokuskan seputar banyak waktu yang belum kita manfaatkan secara optimal, yakni siang dan malam yang berlalu dari umur kita, tanpa kita merasakan atau menyesalinya.

­Pemuda itu berkata, bahwa ia baru mulai membawa mushaf saku itu semenjak satu tahun terakhir ini saja. Yakni semenjak ia dinasihati oleh salah seorang rekannya agar ia menjaga waktu. Pemuda itu juga mengabarkan bahwa ia biasa membaca al-Qur’an di waktu-waktu yang banyak tidak dimanfaatkan oleh orang. Lebih dari yang dibaca di masjid atau rumah. Bahkan dengan membaca al-Qur’an itu, di samping memberi tambahan pahala dari Allah, juga menghilangkan kejemuan dan rasa bosan.

­Ia menambahkan, bahwa ia sudah berada di ruang tunggu itu semenjak lebih dari satu setengah jam.

­Ia bertanya kepadaku, “Kapan lagi Anda bisa mendapatkan waktu satu setengah jam untuk membaca al-Qur’an ?”

­Aku merenung, bertanya kepada diriku, “Berapa banyak waktu yang berlalu dengan sia-sia ? Berapa banyak dari umurmu berlalu, tanpa bisa diberi hitungan pahala sama sekali? Bahkan sudah berapa bulan kau biarkan lewat begitu saja tanpa membaca al-Qur’an ?”

­Aku berfikir, lalu kudapati bahwa diriku terus dihisab, sementara aku sudah tidak mempunyai waktu lagi. Sampai kapan aku akan menunggu ?

­Pikiranku pecah oleh suara panggilan. Aku pun pergi menemui dokter. Aku ingin merealisasikan sesuatu sekarang. Setelah keluar dari rumah sakit, aku segera pergi ke toko buku dan membeli mushaf al-Qur’an kecil.

­Aku menetapkan untuk selalu menjaga waktu. Sambil meletakkan mushaf di sakuku, aku berpikir, ‘Berapa banyak orang yang akan melakukan perbuatan serupa ? Dan berapa banyak pahala yang diperoleh oleh orang yang menunjukkan kepada perbuatan tersebut ?”

 

­Sumber :

­Az-Zamanu al-Qodim, ­Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim (ei, hal. 16-18)

 

­Amar Abdullah bin Syakir

 138 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: