Wanita dan Puasa (bag.2)

Untitled-1-5.jpg

 

  • Seorang suami memaksa istrinya bersenggama, sedang keduanya sedang berpuasa :

Puasa istrinya adalah sah dan ia tidak wajib kafarat, sedang suaminya wajib kafarat karena senggama yang terjadi adalah akibat pemaksaannya. Kafaratnya, yaitu dengan memerdekakan budak, jika ia tidak mendapatkannya, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka ia wajib memberi makan 60 orang miskin. Selain itu, ia wajib mengqadha puasanya yang batal akibat bersenggama. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Sedang jika seorang istri melayani suaminya secara suka rela dalam bersenggama, maka dia juga wajib kafarat dan juga wajib mengqadha puasanya. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

 

  • Seorang suami bersenggama dengan istrinya tanpa keluar air mani, sedang ia dalam keadaan puasa :

Tidak ada perbedaan antara bersenggama yang keluar air mani dan yang tidak keluar air mani. Selama senggama telah terjadi, maka puasanya adalah batal dan wajib kafarat dan mengqadha puasa hari tersebut. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Jika seseorang dengan sengaja mengeluarkan air mani tanpa melalui senggama,maka meski perbuatan itu tidak mewajibkan kafarat, tetepi menyebabkan pelakunya :
  • Dihukumi berdosa
  • Wajib menahan diri dari makan dan minum
  • Wajib mengqadha puasa hari tersebut

 

  • Seorang suami yang sedang berpuasa mencium serta mencumbui istrinya :

Hal itu adalah boleh, tetapi jika keduanya keluar mani karena perbuatan tersebut, maka puasa keduanya adalah batal, sedangkan apabila keluar air madzi, yaitu berupa cairan lengket, maka itu tidak merusak puasa. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Penggunaan kosmetik modern di sela-sela puasa :

Tidak menjadi masalah seorang wanita mengolesi mukanya dengan kosmetik atau lainnya dalam berbagai macam jenisnya ; baik yang dioleskan pada muka, punggung atau anggota tubuh yang lain, maka hal itu tidak berpengaruh terhadap wanita pemakainya yang sedang berpuasa dan tidak membatalkan puasa karenanya. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “Aktsar Min Alf Jawab Lil Mar’ah”, penyusun : Khalid al-Husainan, Edisi Indonesia : Fikih Wanita, Menjawab 1001 Problem Wanita, Penerbit : Darul Haq, Jakarta. Hal, 101

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

162 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: