Wanita dan Shalat (bagian 4)

Untitled-1-5.jpg
  • Seorang wanita menderita sakit dan ia menunaikan shalat sambil duduk apakah boleh meletakkan bantal di mana ia sujud di atasnya ?

Bukan termasuk perbuatan sunnah meletakkan bantal atau lainnya sekiranya ia sujud di atasnya, bahkan perbuatan itu lebih dekat kepada perbuatan makruh, tetapi cukup baginya melakukan sujud dengan menundukkan kepalanya lebih rendah dari penundukkannya ketika rukuk.

Kemudian masalah berdiri dilakukan dengan duduk di mana kedua kaki bersilang di bawah paha. (Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Tidak boleh mengakhirkan (menangguhkan) shalat karena sakit

Seorang wanita yang sakit hendaknya menunaikan shalat sesuai dengan kesanggupannya, baik berdiri, duduk, berbaring atau terlentang, dan ia boleh menjamak Shalat Zhuhur dengan shalat Ashar pada salah satu waktu dari waktu kedua shalat tersebut dan shalat Maghrib dengan shalat Isya pada salah satu waktu dari waktu kedua shalat tersebut. (al-Lajnah ad-Daimah)

  • Pikiran melamun ke sana ke mari di dalam Shalat

Shalat tersebut adalah sah, tetapi pahalanya tentunya dikurangi sesuai dengan kadar lamunannya yang terjadi.

Anda wajib menghilangkan lamunan dari diri Anda menurut kesanggupan Anda hingga timbul kekhusyu’an pada diri Anda saat sedang shalat. Kekhusyu’an dapat terjadi :

  • Jika Anda focus merenungkan makna bacaan ayat al-Qur’an yang sedang Anda baca.
  • Menghadirkan (merasakan) keagungan Allah subhanahu wa ta’ala dan mendekatkan diri Anda kepadaNya menurut kesanggupan Anda.
  • Banyak membaca ta’awudz (memohon perlindungan kepada Allah) dari godaan setan yang terkutuk (al-Lajnah ad-Daimah)

 

  • Jika seseorang lupa menunaikan salah satu shalat dan ia menunaikan shalat setelahnya, apakah kedua shalat tersebut harus diulang ?

Ia tidak wajib mengulangi semua shalat dan cukup baginya hanya menunaikan shalat yang terlupakan.   (al-Lajnah ad-Daimah)

  • Jika seorang wanita tertidur hingga matahari terbit, pakah ia tetap wajib menunaikan dua rakaat shalat Fajar (Shubuh) atau tidak ?

Orang yang tertidur lelap dan tidak terbangun kecuali setelah terbit matahari, maka ia wajib Shalat Fajar (Shubuh) sebagaimana shalat Fajar yang biasa dilakukannya sebelumnya dan boleh menunaikan shalat sunnah Fajar sbelum menunaikan Shalat Fajar (Shubuh)

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “Aktsar Min Alf Jawab Lil Mar’ah”, penyusun : Khalid al-Husainan, Edisi Indonesia : Fikih Wanita, Menjawab 1001 Problem Wanita, Penerbit : Darul Haq, Jakarta. Hal, 80-81

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

350 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: