Kemuliaan Wanita dalam Syariat Islam (bag.2)

Untitled-1.jpg

Wanita Sebagai Ibu

Agama Islam menyeru manusia agar memuliakan kaum wanita dengan penghormatan dan pemuliaan khusus ketika dia menjadi seorang ibu. Pemuliaan dan penghormatan itu dengan cara berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, mendoakannya, dan menghindari segala hal yang bisa menyakitinya serta bergaul dengan cara yang lebih dibandingkan cara kita bergaul dengan teman atau sahabat. Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa :

Ya rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yag shaleh yang Engkau ridhai ; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesugguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Qs. Al-Ahqaf : 15)

Allah juga berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)

dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (Qs. Al-Isra : 23-24)

Dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah ditanya,

يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَبَرُّ ؟ قَالَ أُمَّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ أُمَّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ ثُمَّ أَبَاكَ

Wahai Rasulullah! Siapakah yang harus saya perlakukan dengan baik ? Rasul menjawab, “ Ibumu.” Lelaki tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?” Beliau menjawab,” Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu.” (Shahih al-Bukhari, no. 5971 dan Muslim, no. 2548)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Seorang lelaki datang menemui Rasulullah dalam rangka membaiat beliau untuk hijrah. Orang ini meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan menangis, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadanya :

فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka manangis (HR. Abu Dawud, no. 2528 dan Ibnu Majah, no. 2782)

Dalam shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, saya bertanya kepada Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam,”Amalan apa yang paling dicintai Allah ?” Beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, اَلصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا  Shalat pada waktunya. Kemudian aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi ?’ Beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ  Berbakti kepada orang tua,’ Aku bertanya lagi,’Kemudian apa lagi ?’ Beliau menjawab, اَلْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ  ‘Jihad di jalan Allah (Shahih al-Bukhari, no. 5970 dan Muslim, no. 85)

Islam sangat melarang menyakiti kedua orang tua atau melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan segala yang menyakiti mereka berdua. Islam menganggap perbuatan tersebut sebagai bentuk kedurhakaan yang akan dihisab oleh Allah pada hari Kiamat nanti, bahkan lebih dari itu Islam menganggap perbuatan tersebut sebagai dosa besar.

Dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakrah, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ  فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ

Maukah kalian aku kabari dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar? Para sahabat berkata : “Tentu wahai Rasulullah! Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “ Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada orang tua,”. Kemudian beliau duduk tegak dari sandaran beliau seraya bersabda, “Perkataan dusta.”

Beliau terus mengulangi hal tersebut sampai kami berharap beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- diam (tidak mengulang) (Shahih al-Bukhari, no. 5976 dan Muslim, no. 87)

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ali, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ

Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya (HR. Muslim, no. 1978)

Wallahu a’lam

Bersambung insya Allah…

Sumber :

Diangkat dari al-Jami’ lil Buhuts war Rasa-il, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 530-531

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: