Was Was Ketika Niat Bersuci Atau Shalat

Di antara tipu daya setan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh adalah was-was (ragu-ragu) ketika niat bersuci atau shalat. Mereka menjadi terbebani, terbelenggu dan keluar dari sunnah Rasulullah ﷺ . Setan juga mengkhayalkan kepada mereka bahwa apa yang dibawa oleh sunnah tidak cukup, sehingga perlu ditambah dengan yang lain. Setan menghimpun pada mereka ini antara prasangka yang rusak, disertai kelelahan yang berat, dengan hilang atau berkurangnya pahala.

Tidak diragukan lagi bahwa setan adalah yang menyerukan kepada keragu-raguan ini. Orang-orang yang was-was telah mematuhi setan, menjawab panggilannya, mengikuti perintahnya dan menolak mengikuti sunnah dan jalan Rasulullah ﷺ .

Orang yang was-was adalah orang yang berbuat jelek, melampaui batas dan zalim berdasarkan persaksian dari Rasullah ﷺ , maka bagaimana dia mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang dia telah berbuat jelek dan melanggar batas-batasnya.

Secara umum, nafsunya tidak bersedia mengikuti Rasulullah ﷺ atau melakukan apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ .

Padahal, jalan lurus yang diperintahkan untuk diikuti adalah jalan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, ia adalah jalan yang dimaksud. Apa yang keluar dari jalan itu adalah jalan-jalan yang menyimpang, meskipun dikatakan oleh siapa pun.

Nabi ﷺ melarang sikap memperberat agama, yaitu dengan menambah apa yang disyariatkan. Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa apabila seseorang yang mempersulit bagi dirinya sendiri maka Allah akan mempersulit dirinya, baik dengan kadar maupun syariat. Dengan kadar adalah seperti perbuatan orang-orang yang was-was. Mereka mempersulit kepada diri mereka sendiri maka Allah mempersulit mereka dengan kadar sehingga kadar itu menjadi kokoh dan menjadi sifat yang tidak dapat dipisahkan darinya.

Syaikh Abu Muhamad Al Maqdisiy dalam kitabnya ‘Dzam Al Was-was’ (Mencela was-was) berkata :

“Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memberikan hidayah kepada kita dengan nikmatnya. Dzat yang telah memuliakan kita dengan Muhammad ﷺ dan risalahnya, memberikan kemudahan bagi kita untuk mengikutinya dan berpegang kepada sunnahnya, memberikan pertolongan kepada kita dengan mengikutinya yang dijadikan sebagai ilmu untuk mendapatkan cintanya dan hidayahnya, Allah ﷻ berfirman

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu…(Qs. Ali Imran : 31)

Sebagian dari orang-orang yang was-was telah benar-benar merasa patuh dengan setan sehingga mereka memiliki sifat was-wasnya, menerima kata-katanya, mematuhinya dan menolak untuk mengikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Bahkan di antara mereka ada yang berkata : “Berwudhu sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah atau melakukan shalat seperti shalatnya Rasulullah , maka wudhunya batal dan shalatnya tidak sah.”

Semua itu adalah sikap yang berlebih-lebihan dalam mematuhi iblis dan menerima bisikan-bisikannya. Barang siapa yang telah mentaati iblis sampai kepada tingkatan seperti ini maka ia telah mencapai puncak ketaatan kepadanya.

Seorang bercerita kepadaku bahwa dirinya berusaha menfasih-fasihkan lafazh niatnya dan memperdalam ucapannya. Pada suatu hari dia memperdalam kefasihan dan ucapannya sehingga dia mengucapkan kata-kata “Ushalli, Ushalli” secara berulang-ulang, aku melakukan shalat ini dan itu. Dia ingin berkata “Ada-an” (dilakukan tepat pada waktunya), dengan membaca huruf ‘dal’, tetapi yang terucap adalah : “adzaa-an lillah” (dengan huruf ‘dzal’, sehingga artinya adalah ‘menyakiti Allah’). Kemudian seseorang yang shalat di sampingnya membatalkan shalatnya dan berkata : “juga untuk Rasulnya, para Malaikatnya, dan Jama’ah umat Islam.”

Orang tersebut melanjutkan ceritanya, “Di antara mereka, orang yang was-was dalam mengucapkan huruf sehingga mengulang-ulanginya beberapa kali, mereka berkata : “Allah…Ak-Ak…Ak…bar.” Ia berkata, “Di antara mereka ada yang berkata kepadaku : “Aku tidak mampu mengucapkan “as-salamu alaikum”. Aku berkata kepadanya : “Katakanlah seperti apa yang telah engkau katakan baru saja ini, maka engkau telah selesai.”

Setan telah berhasil menggoda mereka sehingga menyiksa mereka di dalam dunia ini sebelum siksa di akhirat, mengeluarkan mereka dari ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah ﷺ dan memasukkan mereka ke dalam kelompok orang-orang yang menfasih-fasihkan dan berlebih-lebihan, mereka mengira telah membaguskan perbuatan mereka.

Ingin bebas dari cobaan ini ?

Barang siapa yang ingin bebas dari cobaan ini maka hendaklah dia merasakan bahwa kebenaran terletak pada sikap mengikuti Rasulullah ﷺ , baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Berusahalah untuk mengikuti jalannya dengan tekad yang bulat bahwa jalan ini adalah jalan yang lurus, dan bahwa selain jalan itu adalah tipu daya dan godaan iblis, yakinlah bahwa iblis adalah musuh baginya yang tidak pernah mengajaknya kepada kebaikan. Allah ﷻ berfirman

إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyalanyala (Qs. Fathir : 6)

Hendaklah meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihi jalan Rasulullah ﷺ siapa pun dia. Tidak merasa ragu bahwa jalan Rasulullah ﷺ adalah jalan yang lurus. Barang siapa yang ragu-ragu dengan keyakinan ini maka dia bukan orang muslim. Barang siapa yang mengetahui hal ini maka akan kemanakah ia berpaling dari sunnahnya ? Apakah yang akan dicari oleh seorang hamba selain jalannya ? Ia berkata kepada dirinya sendiri : “Bukankah engkau mengetahui bahwa jalan Rasulullah ﷺ adalah jalan yang lurus ? Apabila engkau menjawab : “Benar”, maka katakanlah : “Apakah Rasulullah ﷺ pernah melakukan hal itu ?” maka engkau akan berkata : “Tidak”, maka kemudian katakanlah : “Bukankah setelah kebenaran itu hanyalah kesesatan ? Bukankah jalan setelah Surga itu adalah jalan neraka ? Bukankah setelah jalan Allah dan jalan rasulnya adalah jalan setan ? Apabila engkau mengikuti jalan setan maka engkau adalah teman setan, dan engkau akan mengatakan :

يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ

Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik (tempat terbit) dan maghrib (tempat terbenam), maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).” (Qs. Az Zukhruf : 38).

Hendaklah dia melihat jalan salaf yang telah mengikuti jalan Rasulullah ﷺ , hendaklah meneladani mereka dan memilih jalan mereka.

Kemudian, hendaklah dia mengetahui bahwa di antara para sahabat tidak ada yang was-was. Apabila was-was itu merupakan suatu keutamaan niscaya tidak akan disembunyikan oleh Allah kepada Rasulnya dan para sahabatnya, padahal mereka adalah sebaik-baik manusia, makhluk yang paling utama. Apabila Rasulullah ﷺ menyaksikan perbuatan orang-orang was-was niscaya beliau akan murka. Apabila Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ menyaksikan mereka niscaya akan memukul dan menghukum mereka. Apabila para sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُ menyaksikan mereka niscaya akan mengatakan bahwa mereka telah berbuat bid’ah.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Ighatsatu Al Lahfan Min Mashaidisy Syaithan, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, ei.hal.254, 257, 266, 269, 272-273. Dengan ringkasan.

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *