Yang Penting Mulai Saja (Kisah Dakwah Muslimah Nan Ringan)

masjid.jpg

­Tidak ada kebaikan dalam dunia ini bagi orang yang tidak memiliki

­Jatah dari Allah di Negeri abadi

­Meski dunia ini menarik hati

­dengan para penghuninya

­sesungguhnya hanyalah kenikmatan sekejap

­yang akan binasa

­Terdengar suara istriku dari arah samping. Kenapa Engkau melangkah begitu cepat, apa yang engkau cari ? Dunia adalah langkah-langkah. Sebagian besar di antaranya sudah berlalu.

Aku memegang sebuah buku, dan mulai membacanya. Tetapi terbetik sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku bertanya kepadanya, “Berapa banyak dari waktumu yang hilang tanpa arti ? “

­“Justru sebaliknya, aku selalu sibuk, sehingga tidak punya waktu lagi.” Cetusnya.

­Tetapi ia tidak dapat lari dari pertanyaan yang datang beruntun, “Berapa jam yang engkau habiskan di dapur ?” tanyaku. “Engkau gunakan untuk apa kesempatan yang panjang itu ? Andai engkau menyetel kaset ceramah, artinya dengan itu engkau bisa mendengar ceramah secara lengkap dalam satu hari.”

­Aku melanjutkan ucapanku, “Tanggung jawabku adalah menyediakan kaset-kaset ini. Engkau bisa mendengarkannya, bila engkau menyediakan jadwal untuk mendengarkan al-Qur’an al-Karim. Sepuluh menit saja engkau bisa menghafal al-Qur’an. Itu adalah waktumu, dan bila engkau mengerti, ia amatlah berharga sekali.”

­Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan untuk membaca al-Qur’an.

­Engkau berada di dapur sejak pagi. Siapa yang akan makan masakanmu ? Saya hanya ingin satu atau dua macam dari makanan tersebut. Selebihnya engkau berkosentrasi untuk ibadah dan membaca al-Qur’an.

 

­Kami pun sampai di studio. Aku memberi isyarat dengan tanganku, “Duduklah.”

­Ada satu pertanyaan yang terbesit dalam hatiku, “Ada apa dalam pertemuan mingguan, bahkan harian ini ? Tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah,

 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

­Tidaklah terucap satu perkataan, malainkan di sisinya ada Raqib dan Atid.’ (Qs. Qaaf : 18)

­Segala sesuatu itu tercatat, sampai senyuman. Sebagaimana dinyatakan oleh imam Ahmad, ‘Manusia akan ditanya, untuk apa dia tersenyum pada hari ini dan itu.’

­Engkau tahu, karena terlalu banyak duduk mengobrol, maka setan mempunyai perangkap di situ. Sebisa mungkin, jadilah engkau wanita dai di desamu. Pokoknya mulai saja.

­Jangan lupa untuk menyesuaikan ucapanmu dengan umur mereka dan cara memperbaiki kesalahan mereka. Mintalah pertolongan kepada Allah. Engkau akan menyaksikan yang tidak pernah engkau bayangkan, melalui kedua belah tanganmu. Pokoknya mulai saja.

­Istriku berdiri dan mengangkat kepalanya sambil berkata, “Saya adalah wanita yang hanya menerima. Seandainya engkau tahu bahwa di tengah-tengah kumpulan wanita, saya tidak pernah menggunjing orang, tentu engkau akan percaya dengan apa yang akan kuucapkan.”

­“Betul yang engkau ucapkan. Tetapi mendengar gunjingan berarti menerima. Dan menerima berarti membolehkan dan menyetujui, bahkan juga berarti menolong.”

­Kembali aku menyuruh istriku untuk mengulangi usahanya yang lalu. “Apa yang engkau ucapkan lagi, wahai da’i wanita desa ?” kataku.

­“Engkau sungguh optimis. Engkau memandang urusan dengan mudah dan lurus saja. Engkau tidak mengetahui tabiat kaum wanita, sebenarnya urusannya tidak semudah itu.”

­“Bagaimana mungkin aku bisa menyiarkan pidato ? Aku tidak berbakat untuk itu.” Ujar istriku.

­“Kemudian aku amat pemalu sekali untuk berdiri di depan publik wanita. Bisa jadi aku memposisikan diriku dalam kondisi yang amat menyulitkan.”

­Tawakal saja kepada Allah dan berharaplah pahala dari-Nya, tidak ada alasan bagimu untuk meninggalkan dakwah. Buku-buka banyak, kaset-kaset Islam ada. Bacakan saja kepada mereka satu subjek masalah saja. Kalau engkau mau, saya akan siapkan ceramah pertama. Engkau tinggal membacanya. Masa tidak bisa juga ?”

­Istriku berkisah, “Pada hari kunjungan kami, kaum wanita di desa, sibuk menyiapkan perjalanan. Seperti biasa didahului obrolan khas wanita. Aku merenung cukup lama, dan berdoa semoga Allah memberi pertolongan kepadaku.

­Dalam pikiranku terbetik satu pemikiran baru. Akan kucetuskan bila semua wanita sudah berkumpul. Aku mulai melihat mata mereka, untuk membaca apa yang mereka sembunyikan. Aku berusaha santai, dan mengulur waktu untuk mencetuskan pemikiranku itu hingga akhir kunjungan. Aku akan memperhatikan segala sesuatu, demi menarik perhatian mereka, dan membuat mereka senang, sehingga tidak ada kesempatan buat mereka memberikan banyak komentar. Bahkan aku meyakinkan diriku sendiri semenjak tadi malam, ini adalah amalan demi mendapatkan keridhaan Allah, kemudian aku memandang kepada manusia yang paling mulia, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam.

­Bagaimana beliau mengemban dakwah ? Apa yang beliau rasakan ketika menjalankan dakwah ? Beliau pernah diboikot di perkampungan bani Amir selama tiga tahun. Beliau juga pernah dilempari batu dan diusir di kota Thaif. Beliau berhijrah dari negeri yang paling beliau cintai. Rahang beliau pecah, dan kening beliau yang mulia terluka pada hari Uhud. beliau juga berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan. Sebuah ketabahan yang besar, usaha yang tidak mengenal lelah.

­Beliau tidak pernah berhenti menghadapi berbagai rintangan, tidak terhalangi oleh berbagai kesulitan.

­Adapun aku, apa yang kuhadapi ? Paling-paling hanya omongan, hanya tertawaan, atau…!! Aku mengecam diriku sendiri. Apa sih yang akan kuhadapi ?

­Di akhir pertemuan, kukumpulkan segenap kekuatanku dan aku temui mereka. Dengan penuh percaya diri aku membaca kertas catatanku. Ini hanya kertas catatan yang sudah dibagi-bagikan di masjid, tentang keutamaan beberapa hari mendatang, yakni, sepuluh hari Dzulhijjah, dan amalan-amalan yang disunnahkan pada saat itu.

­Sungguh aku sangat tercengang, karena segala yang kukhawatirkan tidak terjadi pada saat itu. Semuanya terdiam mendengarkan dengan khidmat dan rasa senang. Pada awalnya aku berniat membacanya dengan cepat. Tetapi karena kulihat respon yang baik, aku pun membacanya dengan perlahan, hingga selesai kubaca.

­Salah seorang di antara mereka berkata, “Semua itu termasuk keutamaan sepuluh Dzulhijjah ? Dulu kukira itu hanya musim untuk melaksanakan haji saja !”

­Mulailah datang panggilan mereka kepadaku untuk berdakwah. Sebuah perayaan dari pertama yang sukses, juga menunjukkan bahwa langkah awalku sudah berhasil.

­Aku banyak memuji Allah. Aku pun yakin, bahwa apa yang dikatakan suamiku adalah benar adanya. Ia ternyata jauh lebih realistis daripada diriku.

­Ketika aku mengabarkan kepadanya, ia memandang kepadaku dengan penuh kegembiraan, “Itulah yang kuharapkan darimu, wahai da’iyah desa ini.”

­Sebelum datang waktu pertemuan kedua…

­Buku-buku banyak sekali. Tetapi keberhasilan langkahku yang pertama, terus mengejar-ngejar diriku. Aku bingung apa yang akan aku pilih ? Aku memutuskan untuk memulai dengan pembahasan tauhid.

­Aku membacakan beberapa halaman, tentang perdukunan dan sihir. Ketika aku sampai pada hadis Nabi,

 

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد

­Barang siapa yang mendatangi seorang dukun, lalu ia membenarkan apa yang ia katakan, berarti ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

­Aku melirik, ternyata sebagian mata bergerak-gerak. Rupanya mereka belum mengetahui perkara yang sebenarnya adalah demikian.

­Berbagai penerimaan dan support dari mereka, menjadikan kegiatan itu berlangsung terus.

­Pada pertemuan berikutnya, aku membacakan kepada mereka masalah shalat. Pada pertemuan selanjutnya lagi, aku bacakan masalah bersuci …

­Ternyata banyak di antara mereka yang tidak mengetahui persoalan aqidah dan meremehkannya. Adapun masalah shalat dan bersuci, kejahilan tentang persoalan itu ternyata sudah merata di desa kami.

­Dalam salah satu pertemuan, aku semakin berani. Aku membacakan sebuah buku tentang sakaratul maut, bagaimana beratnya dan bagaimana kesulitan menghadapinya.

­Aku berusaha menahan tegangnya urat sarafku. Aku berusaha membendung air mataku. Namun pada akhirnya, aku tidak mampu lagi.

­Setelah berlalu beberapa bulan, tak ada lagi tempat bergunjing di majlis kami. Dzikir dan tasbih menjadi kebiasaan kami. Masing-masing wanita di antara kami menjadi pendakwah di rumah dan di tengah masyarakatnya. Kami memutuskan agar faidah majelis kami menyebar luas.

­Masih ada juga pelajaran mingguan sesudah Maghrib bagi mereka yang belum pernah hadir dalam majelis kami.

­Perubahan terjadi demikian besar dan cepat. Mendorongku untuk mengajukan pertanyaan kepada suamiku, “Kenapa dalam waktu yang singkat, terjadi kebaikan yang demikian besar ?” Suamiku berkata, “Apakah engkau merasa heran ? Manusia itu berada di atas fithrah. Mereka berusaha mencari orang-orang yang sudi menolong dan menyelamatkan mereka. Tetapi coba aku bertanya kepadamu, ‘Apakah engkau sudah terbebas dari kewajibanmu, bila engkau tidak melakukan hal itu ? “

­Aku berkata dengan lantang, “Akan tetap menjadi kewajiban bagi wanita-wanita lain.”

­Seandainya setiap wanita pelajar menjadi pendakwah di desanya, dan menerima dakwahku…

­Pokoknya mulai saja…

­Pokoknya…

­Mulai saja…

 

­Sumber :

­az-Zamanu al-Qaadimu, ­Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, (ei, hal.73-78)

 

­

Amar Abdullah bin Syakir

 144 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: