Zainab Bintu Jahsy, Seorang Wanita yang Lembut Hatinya

Zainab-Bintu-Jahsy-Seorang-Wanita-yang-Lembut-Hatinya.jpg

Berbaik sangka kepada kaum muslimin merupakan akhlak yang mulia. Orang yang bersifat seperti ini adalah orang yang memiliki hati yang selalu mengingat Allah dan ridha dengan-Nya, jauh dari sifat qila wa qala (asal ngomong), tidak mencampuri urusan orang lain atau berusaha untuk mengungkap kesalahannya dan mencari-cari kekurangannya.

Orang yang memiliki sifat ini jiwanya tenang, hatinya tentram. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki sifat ini, dia telah melelahkan jiwanya, menguras fikirannya, dia sama sekali tidak mendapat apa-apa dari semua itu kecuali ketegangan saraf.

Karena agungnya  kedudukan sifat ini, Allah menganjurkan kepada kita untuk berakhlak dengannya sebagaimana yang tertera dalam kisah tuduhan zina yang diarahkan kepada ‘Aisyah, Allah berfirman,

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata,’Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Qs. An-Nuur : 12)

Dalam kesempatan ini, perlu disebutkan sebuah sikap agung yang dimiliki oleh seorang shahabiyah yang mulia, Zaenab binti Jahsy, seorang wanita khusyu’, lembut hatinya, ridha dan seorang penyeru kepada kebaikan.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab asy-Syahadat bab Ta’dil an-Nisa Ba’dhihinna Ba’dha, dan diriwayatkan oleh yang lainnya[1] dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada Zaenab binti Jahsy tentang permasalahanku, dia menjawab,

أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي مَا عَلِمْتُ إِلَّا خَيْرًا

Aku menjaga pendengaranku dan penglihatanku, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan.

As-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Dibaaj ‘ala Shahih Muslim (6/132) mengatakan, “Yang dimaksud dengan ‘Aku menjaga pendengaranku dan menglihatanku’ adalah aku menjaga keduanya untuk tidak mengatakan,’Aku mendengar sedangkan aku tidak mendengarnya, aku melihat namun aku tidak melihatnya.”

Aku katakan,”Apa yang dikatakan Zaenab merupakan tanda kesucian imannya dan merupakan keutamaan yang agung, di mana sedikit sekali seorang wanita yang bersifat seperti ini. Beliau telah melakukan husnuzh zhan (berprasangka baik) terhadap saudarinya sesama muslimah, walaupun beliau termasuk wanita yang menyaingi ‘Aisyah di sisi Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-, seperti yang telah disebutkan dalam riwayat Aisyah yang telah lalu, di mana dia berkata, “ Sedangkan dia salah seorang dari istri Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyaingiku, akan tetapi Allah menjaganya dengan sifat wara’ (menahan diri dari hal-hal yang mubah dan halal).”

Maksudnya, dia mencari kedudukan tinggi dan mulia di sisi Nabi sebagaimana aku mencarinya, atau dengan kata lain seperti yang dikatakan oleh as-Suyuthi,”Maksudnya ialah, dia menyaingiku dengan kecantikannya dan kedudukannya di sisi Nabi.

Ini adalah pelajaran untuk manusia secara keseluruhan, agar mereka berbaik sangka kepada sesama saudara mereka seiman, khususnya terhadap orang yang dikenal dengan keshalihan dan keistiqamahannya. Karena orang-orang munafik dan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah orang-orang yang menyebarkan tuduhan palsu, mereka berusaha mengalamatkan tuduhan itu kepada orang-orang yang beragama, sehingga tidak ada di kalangan kaum muslimin orang yang dapat diambil ilmu agamanya oleh kaum musimin.

Yang sangat disayangkan adalah sebagian orang tetap melahap berita palsu yang bersumber dari para pembuat kerusakan itu, dan mereka bersuka-ria dengannya, bahkan mereka sangat bergembira ria. Orang seperti ini tidak paham al-Qur’an dan tidak mengetahui apa yang dijelaskan oleh ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah tuduhan zina yang ada di awal surat an-Nuur. Paling tidak, orang seperti ini bisa disebut tidak bijaksana dan tidak wara’, karena sifat bijaksana dan wara’ menjadikan seorang berhati-hati dan tidak tergesa-gesa sebelum memutuskan perkara terhadap orang lain atau menerimanya ditimpakan pada mereka.

Sebaiknya, orang yang menghadapi persoalan seperti ini merujuk kepada para ulama yang Rabbaniy, supaya mereka mengambil berbagai pelajaran berbobot yang mengandung kaedah mulia yang telah diucapkan oleh Ummul Mukminin Zaenab binti Jahsy “ Aku menjaga pendengaranku dan penglihatanku, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan.”

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Durusun Min Hayati Ash-Shahabiyat, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, (ei.hal, 137-140)

[1]  Al-Bukhari, 2/945, Muslim, 4/2136; Shahih Ibnu Hibbban, 10/21. Mushannaf Abdurrazzaq, 5/419; Musnad Abi Ya’la, 8/332; dan al-Mu’jam al-Kabir, 23/55.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Instagram @hisbahnet,
Chanel Youtube Hisbah Tv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: